Oleh Heni Prasetyorini – @HeniPR

Bermain adalah keinginan alami anak-anak. Game termasuk salah satu yang memfasilitasi jiwa bermain anak-anak, hanya melalui media yang berbeda. Game ada banyak jenisnya, ada yang baik atau kurang. Game yang baik adalah game yang dimanfaatkan untuk membantu proses belajar (game edukasi), atau mengenalkan suatu topik misalnya tentang penyelamatan lingkungan hidup. Para produsen game di Indonesia sudah banyak bermunculan. Misalnya, Jelasin Studio, Maulidan Studio dan Game Board yang memperkanlkan Waroong Wars, permainan yang mengenalkan jenis makanan tradisional lewat bermain.
Dengan adanya internet, bermain game secara digital menjadi kegemaran anak-anak sekarang. Dulu, game hanya bisa diakses di komputer, game watch, PS atau Nitendo. Dengan teknologi internet, bermain game bisa dilakukan di ponsel, laptop dan tablet. Mulai anak PAUD sampai orang dewasa, banyak yang gemar bermain game.

Bagaimana kita menghadapai fenomena munculnya pemain game ini? Apakah kita harus menarik diri dan ketakutan? Lalu benar-benar melarang anak kita untuk mengakses game dalam segala bentuknya? Atau kita biarkan saja anak bermain game sesukanya? Sebebas mungkin dan tanpa batasan? Ataukah kita memberikan akses anak untuk bermain game, dengan pengawasan dan pendampingan?

gamer
Saya pribadi, memilih poin ketiga. Saya memberikan kesempatan pada anak untuk bermain game, dengan pengawasan, pendampingan dan kesepakatan. Beberapa hal yang kami sepakati antara saya dan anak adalah sebagai berikut :
1. Hanya boleh main game di rumah. Dilarang main game di warnet atau tempat rental game online.
2. Boleh bermain game di laptop, hp, tablet, tetapi tidak boleh main game dengan PS, Nitendo, Xbox.
3. Game yang dimainkan tidak boleh ada pornografi, gambaran sadis/kejahatan, kalimat mengumpat.
4. Waktu bermain game dibatasi sesuai kesepakatan antara anak dan orang tua.
5. Anak harus membuat suatu produk konten digital dari game yang diminatinya tersebut.

Sejak awal, saya dan suami sepakat tidak akan membelikan perangkat main game seperti PS, PSP, Nitendo atau Xbox. Tetapi kami membelikan Komputer dan Laptop. Pertimbangannya adalah dengan laptop/komputer, anak bisa belajar hal lain, seperti mengetik dan menggambar. Komputer juga bisa digunakan untuk mengerjakan tugas sekolah. Game yang diinginkan tinggal diunduh dari internet, jadi tidak perlu membeli DVD Game lagi. Lebih hemat.
Berbeda dengan PS dan semacamnya. Hanya bisa digunakan untuk main game. Harus mengeluarkan ekstra uang membeli DVD Game-nya. Walaupun sekarang sudah ada jenis PS dengan game yang disimpan di dalam hard disk, kami tetap tidak membelikan benda tersebut. Dan sejauh yang kami amati, rata-rata jenis gamenya kejam dan ada unsur pornografi.
Setelah orang tua memberikan aturan yang disepakati bersama anak. Ortu tetap harus melakukan pengawasan secara berkala. Tidak hanya mempercayakan pada anak 100%, karena anak bisa terpengaruh teman lainnya. Sesekali ortu perlu duduk di samping anak yang sedang main game, sekedar bertanya dan mengomentari jenis game yang dimainkan. Ini untuk menumbuhkan perasaan dekat antara anak dan orang tua. Jika ortu bisa bermain game bersama, akan sangat menyenangkan bagi anak.
Setelah anak dibiarkan menjadi pengguna game, kita bisa mengarahkan anak membuat sesuatu dari game tersebut. Memproduksi sesuatu yang bisa disebarkan di internet ini disebut menjadi Produsen Konten Digital. Konten digital yang bisa dibuat antara lain berupa tulisan, gambar atau video.
Membuat tulisan, contohnya arahkan anak membuat ulasan/review dari game yang dimainkan tersebut ke dalam blog. Anak yang suka menulis, akan senang membuat blog yang membahas game yang pernah dimainkannya. Sebaiknya anak tidak menggunakan Facebook untuk membagikan tulisan atau berinteraksi. Karena di Facebook mudah sekali disusupi pornografi dari orang yang tak dikenal. Membuat blog lebih aman.

Selain tulisan, anak juga bisa menggambar. Misalnya anak membuat Meme atau Komik sederhana dari game yang disukainya. Lalu dibagikan ke sosial media milik orang tuanya, misalnya instagram, facebook, twitter. Anak juga bisa membagikan kepada temannya melalui aplikasi messenger seperti BBM, Line dan Whatsapp. Ketika anak mendapat respon seperti pujian atau ada teman yang menyukai gambarnya, maka anak akan senang dan jadi percaya diri. Tugas orang tua adalah mengarahkan lagi kegemarannya menggambar tersebut.

Jika anak kurang suka menulis dan menggambar, bisa diarahkan untuk membuat video rekaman ketika dia bermain game. Tentu saja cara ini membutuhkan perangkat dan kemampuan teknologi yang lebih tinggi. Untuk merekam game dan proses review game, diperlukan aplikasi Screen Recorder, seperti OBS, Camtasia, Bandicam, Camstudio, Apowersoft Free Cam Recorder, dll. Semua aplikasi untuk merekam layar desktop komputer dan laptop ini bisa diunduh di internet.
Ketika anak saya memilih membuat konten digital berupa video review game, tanpa kami sadari, dia malah mendapatkan banyak ilmu dan keterampilan baru. Seperti terampil mengedit video, membuat gambar logo, membuat animasi dan terampil berbicara serta berinteraksi dengan orang yang menonton videonya tersebut. Video hasil produksinya ini kemudian diunggah ke You Tube.
Dari sini anak saya akhirnya mempunyai keinginan untuk belajar pemrograman. Bayangkan, sebuah minat dan bakat terasah karena kita mengarahkan anak yang bermain game untuk membuat sesuatu dari game tersebut. Dari menjadi Gamer, lalu jadi You Tuber, kemudian ingin menjadi Programmer.
Mungkin cara saya ini tidak sesuai dengan kondisi anak-anak Anda. Karena karakter, kondisi setiap keluarga memang tidak sama. Yang perlu digarisbawahi adalah arahkan anak-anak membuat sesuatu dari hal yang dia sukai, baik itu berupa game ataupun film.
Jika anak suka main game, berikan motivasi agar kelak dia menjadi pembuat game. Alih-alih hanya menjadi konsumen dan pengguna, arahkan anak kita menjadi produsen konten digital. Dengan basis agama, nilai moral yang kuat, kedekatan dengan keluarga yang kuat, maka anak bisa menjadi produsen konten digital yang baik, positif dan bermanfaat.
Semoga menginspirasi.