Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas–Bung Hatta

Hidup Abraham Lincoln di masa kecil hingga bertumbuh remaja begitu memprihatinkan. Di balik kemiskinannya, Ia memiliki modal besar yang dipakai untuk merubah dunia. Modal itu adalah kegemarannya membaca buku. Bahkan, untuk membaca ia terpaksa ketempat pembuangan sampah mencari koran dan buku-buku bekas. Kesetiannya berdamai dengan kenyataan hidupnya, dan tetap memupuk kesenangannya membaca buku-buku inspiratif mengantarnya menjadi presiden paling sempurna yang pernah dimiliki Amerika Serikat.

Dari kisah perjalanan Bung Karno, Abraham Lincoln, dan beberapa tokoh besar pembuat sejarah dunia, terungkap bahwa kunci kesuksesan mereka hanya pada dua kata, “membaca buku”. Bahkan seorang Bung Hatta, ketika akan dipenjarakan Belanda, pernah mengatakan, “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas”. Jadi tidak ada alasan untuk tidak membaca buku.

Ada banyak cara yang dapat dilakukan agar bisa lebih dekat dengan buku. Saat ini, para pegiat literasi semakin kreatif mencetuskan ide-ide brilian dalam menggaungkan literasi. Mereka mendesain beragam cara agar buku lebih memasyarakat. Seperti beberapa waktu lalu, saya ikut acara Kemah Buku bersama Kang Maman Suherman dan Aan Mansyur di Taman Baca Rumah Hijau Denassa (RHD).  Salah satu kampung literasi yang berlokasi di Borongtala, Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Kang Maman dan Aan Mansyur berbagi banyak tips dan rahasia kesuksesan mereka di ranah literasi kepada para anak-anak dan remaja yang berdomisili di sekitar Rumah Hijau Denassa.

Salah satu tujuan kemah buku ini adalah menggaungkan literasi, sekaligus memberikan motivasi kepada anak-anak untuk lebih mencintai buku, untuk mau meluangkan sebagian waktu mereka untuk membaca buku di tempat ini. Membaca buku di alam bebas nan hijau seperti ini tentu saja memberikan pengalaman yang berbeda dengan membaca di ruangan yang tertutup.

Setiap kali ada kesempatan, sebisa mungkin saya menyempatkan diri untuk mampir di taman baca Rumah Hijau Denassa untuk turut memotivasi anak-anak dalam hal membaca.  Bukankah salah satu cara untuk menambah wawasan mereka adalah dengan membaca buku? Sehingga tidak salah jika banyak orang yang sepakat dengan kalimat ini,  “buku adalah jendela dunia”. Dengan membaca buku, kita dapat mengetahui begitu banyak informasi tentang berbagai peristiwa di segala penjuru bumi, baik dari dalam negeri sendiri maupun dari luar negeri.

Contoh kedua dari cara para pegiat literasi memasyarakatkan buku adalah dengan mendirikan “Perahu Pustaka Pattingngalloang”.  Cara ini tergolong unik dan sangat kreatif.  Perahu pustaka ini lahir dari seorang pemuda Mandar bernama Muhammad Ridwan bersama sahabatnya Anwar Jimpe Rahman dan Kamaruddin Aziz. Sasaran Perahu Pustaka ini adalah anak-anak sekitar pesisir pantai di Sulawesi Selatan. Perahu Pustaka berlayar dari pulau ke pulau  dengan membawa bermacam-macam buku menarik untuk anak-anak, mulai dari buku cerita, komik, majalah, dan buku-buku pelajaran.

Anak-anak adalah generasi harapan bangsa. Kelak, tongkat estafet kepemimpinan akan berpindah ke tangan mereka. Tanggung jawab bangsa ini kelak akan pindah ke pundak mereka. Adalah tanggung jawab kita semua untuk memperkokoh pondasi pengetahuan dan memperluas cakrawala berpikir mereka. Salah satu caranya adalah dengan membimbing dan mengenalkan kegemaran membaca buku.

Ayo generasi pemilik masa depan, singkirkan selimutmu, gulung lengan bajumu, wujudkan  mimpimu menjadi kenyataan. Jadikan buku sebagai senjatamu agar sejarah bertepuk tangan atas kemenanganmu di atas panggung kehidupan. (sm)

Sumber Bacaan:

Ngainum Naim, The Power Of Reading, Aura Pustaka, 2013.

John C. Maxwell, The 21 Irrefutable,  Laws of Leadership, Interaksara, 2002