Oleh Heny Prasetyorini

You are cruising along, and then technology changes. You have to adapt.

“Supplier saya memberikan punishment ketika saya terlambat mengetahui orderan. Karena saya telat membuka website mereka. Dari sinilah, saya merasa harus belajar teknologi, belajar internet, supaya bisnis saya bisa bertahan, berhasil dan kami tidak rugi lagi,” pernyataan Bu Ayu pada acara Roadshow Serempak 2016 di Hotel Mercure Surabaya, Senin, 25 Juli 2016.

Terlambat beberapa menit, bahkan detik, membuka website suplier saja, Bu Ayu sudah kehilangan puluhan juta rupiah. Mau bagaimana lagi agar bisnis sukses? Tidak ada pilihan selain beradaptasi dan belajar tentang teknologi, internet dan produk digital lainnya.

Kita tidak bisa ngeyel dan ngotot, untuk setia menggunakan telepon rumah, mesin fax, mesin ketik dan kalkulator. Jika fasilitas ada, kenapa tidak digunakan semaksimal mungkin? Itulah sharing dari Bu Ayu, sebagai salah satu narasumber di acara Serempak tersebut.

Apa itu SEREMPAK?

SEREMPAK adalah organisasi sosial yang konsen pada optimalisasi sumber daya manusia, khususnya Seputar Perempuan dan Anak. Untuk mensosialisasikan program kerjanya, Serempak melakukan roadshow ke kota besar, salah satunya di Surabaya.

Serempak adalah media komunikasi untuk membahas segala sesuatu yang terkait dengan pemberdayaan perempuan dan anak. Serempak mempunyai program untuk meningkatkan akses teknologi informasi pada perempuan. Bisa diakses di www.serempak.id.

Dengan mengambil tema, Menjaring UKM dengan Serempak, organisasi ini menggandeng Bu Ratna dari  KPPPA, Bu Ayu sebagai wakil dari pengusaha dan Bu Ina sebagai pakar branding, untuk menjadi pembicara atau narasumber.

Acara yang difasilitasi oleh Serempak ini mengambil topik yang sesuai dengan kondisi Surabaya yang sedang gencar-gencarnya meningkatkan produktifitas UKM dari segala lini. Ya, Surabaya sedang  mengoptimalkan produktifitas di ranah ekonomi kreatif untuk persiapan menghadapi MEA dan bersiap menjadi Smart City.

 

Menurut Bu Ratna, penggerak UKM (Usaha Kecil Menengah) biasanya melibatkan juga perempuan. Dengan mengenalkan teknologi informasi kepada mereka, diharapkan produktivitas mereka juga akan meningkat. Selain dari aspek bisnis dan ekonomi, pengenalan teknologi kepada perempuan juga diharapkan menjadi “benteng” pertahanan keluarga dikarenakan anak-anak juga sudah menggunakan gadget dalam keseharian mereka. Jika para ibu atau perempuan masih bertahan menjadi ‘gaptek‘, maka bisa berbahaya karena tidak bisa mengendalikan anaknya dengan baik.

 

 

Perempuan harus dan wajib melek teknologi agar bisa menciptakan generasi baik. Mereka harus bisa mengarahkan anak-anaknya berinternet secara sehat. Ibu yang gaptek, pasti punya kesulitan. Maka mulai sekarang, kita harus mengajak para perempuan untuk pandai, piawai dan bijaksana menggunakan teknologi dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai perwakilan untuk menggaungkan semangat perempuan dan teknologi ini, Serempak dan KPPPA mengundang para pengusaha, profesional dan komunitas di Surabaya.

 

saya hadir sebagai wakil dari komunitas Blogger

Blogger sudah menempati posisi yang diperlukan untuk mensosialisasikan sebuah program. Sudah beberapa kali saya hadir dalam acara serupa. Kemampuan Blogger untuk melakukan reportase on the spot, lewat live tweet, dimanfaatkan juga untuk suatu program. Seperti saat itu, dengan kecepatan jari jemari para Blogger, hestek #ICT4Women dan #IWITA dalam program Road Show Serempak 2016 mendapat posisi ke-3 Trending Topic. 

 

jempolnya para Blogger memang tiada duanya 🙂

Karena saya datangnya juga kepagian, saya tidak satu meja dengan teman-teman Blogger di atas. Alhamdulillah, saya jadi berkenalan dengan ibu pengurus dari Aisiyah Muhammadiyah Jawa Timur, Bu Sumiati dan ibu Joane yang wajahnya seperti orang Pakistan, ternyata keturunan bule 🙂

 

teman baru yang keren punya kan? 🙂

Selain kami bertiga, ikut juga bergabung ibu muslimah dengan jilbab pink, yang tergabung organisasi IPEMI (Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia). Ngobrol dan ngikik ala Suroboyoan bersama mereka, sekaligus berfoto bersama, membuat saya ingin juga jadi pengusaha. Pengusaha kursus online. Amin.

 

biar ketularan jadi pengusaha saksesss…:D

Ngomong-ngomong tentang menjadi pengusaha, sharing dari Bu Ayu, pemilik PT. Arnys memberikan input yang banyak sekali. Dengan kalimat yang cepat, beliau menceritakan lika-liku beliau mengembangkan bisnisnya. Yang akhirnya “selamat” karena beliau melek teknologi. Sekarang, Bu Ayu menciptakan sistem kerja berbasis teknologi. Mulai dari cek stok barang, absensi pegawai, keluar masuk barang, serah terima order, dll melalui teknologi aplikasi di internet. 

Karena bisnisnya bergerak di bidang sembako dan pertanian, Bu Ayu masih mendapatkan kendala, ketika patner kerjanya tidak bisa atau tidak mau menggunakan teknologi dalam bekerja dan berkomunikasi. Di sini kesabaran dan terus telaten mengedukasi adalah pilihan. 

Bahkan menurut Bu Ayu, sosial media sederhana seperti whatsapp, bisa beliau manfaatkan untuk mengembangkan bisnis. Dengan membuat grup belajar bisnis, beliau bisa membuka cabang bisnis baru dengan modal patungan. 

“Waktu itu saya tawarkan begini. Saya ingin buka cabang. Siapa yang mau ikutan? Sebenarnya ini modalnya cuma sedikit. Cuma satu milyar. Dalam waktu 10 menit saja, sudah terkumpul modal tersebut. Ada anggota yang memberi modal 10 juta, 5 juta, 50 juta, dan seterusnya. Betapa teknologi itu bisa memudahkan.”

Wow. Modal semilyar dibilang kecil? Jadi, seret mau nelen kuenya nih, hihihihi. 

Segitu ya mainnya para pengusaha sukses. Saya dan beberapa teman saling melirik diam-diam. Semilyar bookkk, dibeliin Macbook dan Iphone trus dibagi-bagikan ke blogger semua gitu masih sisa , (*ngarep banget ya upgrade gadget-nya) hihihi..

Sekarang Saatnya Bicara Branding

Baiklah, mari kita move on dengan kalimat hanya semilyar. Setelah bu Ayu, giliran Bu Ina yang memberikan pelajaran tentang Branding. Bu Ina, seorang dosen Binus Business School. Namun sebelumnya beliau sudah 25 tahun menjadi Brand Consultant, konsultan brand. Gaya bicaranya luwes, enak, lugas dan jelas membuat saya terpana. 

Sudah jadi kebiasaan, setiap datang ke sebuah acara maka konsentrasi terhadap narasumber pada dua hal, yaitu isi pembicaraannya dan cara berbicaranya. Itulah kenapa saya very desperate ingin belajar Public Speaking. Supaya bisa cas cis cus, gandes luwes dan bisa menarik audience ketika berbicara di depan public, seperti halnya Bu Ina  dan Bu Martha pokja Serempak di acara itu.

TUKIJEM

 

pelajaran tentang Branding diawali dengan TUKIJEM menjadi D’2QJem

Bu Ina memberikan first attracting agent yang menarik sekali. Beliau menampilkan satu kata sederhana, yaitu TUKIJEM. Setelah itu Bu Ina bertanya, apa yang ada dibenak Anda semua tentang kata ini? Ramailah jawaban yang muncul. Wong ndeso. Orang Jawa. Pakai Jarit. Rajin. Sopan. Lugu. Jujur. dst.

Bu Ina, bertanya lagi, jika bu Tukijem membuat bisnis laundry dengan nama TUKIJEM, apa yang ada di benak ibu-ibu? Sekali lagi jawaban muncul. Bersih. Dicuci dengan tangan. Orangnya baik. Ramah. 

Menarik sekali cara Bu Ina menyampaikan materi tentang Branding. Dari Tukijem, kami digiring membandingkannya dengan brand bernama Mona. Lalu transformasi Tukijem menjadi D’2QJem untuk mencapai brand yang lebih modern. 

Beberapa hal penting yang saya catat tentang materi Branding yang disampaikan oleh Bu Ina, yaitu:

1. Buat apa punya banyak barang hebat, jika tidak dikenal?

2. Branding bukan sekedar nama dan merk. Akan tetapi ekspektasi terhadap brand tersebut.

3. Brand mempunyai personality, kepribadian, mirip seperti manusia.

4. Pebisnis harus mau investasi banyak untuk membangun Brand.

5. Gunakan tahap pemilihan brand yang tepat, baik dari segi logo, warna, bentuk serta imej apa yang ingin dibangun. Hal ini harus dibentuk setelah konsep produk atau jasa sudah fix dan siap diluncurkan.

6. Sekali brand sudah ditentukan, logo dan lain-lain sudah ada. Jangan sekali-kali menggantinya, atau jangan mudah gonta-ganti brand, karena orang akan lupa. Maka, bersabar dan tekun untuk mengembangkan brand.

7. Untuk branding di internet, nama sosial media harus sama dengan brand. Jika tidak, maka orang tidak akan percaya. 

Ayo maju bersama Serempak!

Sungguh acara yang difasilitasi Serempak ini bagus sekali. Sangat berguna untuk calon pengusaha dan para pengusaha UKM yang ingin mengembangkan usahanya menggunakan teknologi. 

Selain dari itu, sesuai dengan konsep SEREMPAK Seputar Anak dan Perempuan, maka ibu Martha Simanjuntak, selaku Ketua Pokja Serempak dan CEO IWITA, memberikan kalimat penutup, bahwa Perempuan dan Teknologi adalah dua hal yang tidak boleh dipisahkan, jika ingin sebuah generasi itu berkembang maksimal. 

 

doc. Bu Martha


Mengembangkan dan mendidik perempuan sama dengan mendidik generasi. Maka, perlu dilakukan usaha bersama untuk saling memberikan kontribusi pada peningkatan kualitas perempuan Indonesia. Salah satunya dengan menjadi penulis kontributor di website Serempak. 

Bu Martha mengajak kita memberikan inspirasi, motivasi dan informasi terkait Perempuan dan Anak. Dengan cara mengakses website www.serempak.id, lalu melakukan pendaftaran (registrasi) dan login. Di sana akan disediakan form untuk mengunggah tulisan kita pada web tersebut. 

 

https://www.serempak.id/kirimkan-artikelmu/

Jadi, mari kita terus berpartisipasi aktif untuk memberdayakan perempuan dengan memanfaatkan teknologi informasi yang sudah mudah diakses. Perempuan harus melek teknologi.

Salam Serempak.

 

 

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba menulis serempak