Kuliner tradisional Betawi sudah terkenal memiliki cita rasa khas dan lezat hingga sangat mudah untuk disukai. Bahkan bagi yang pertama kali mencicipinya pasti langsung jatuh hati. Cara pembuatan yang juga unik sering kali membuat makanan betawi sulit ditemukan di daerah lain. Beberapa makanan tradisional kini sudah mulai menghilang akibat gempuran budaya asing. Terutama di Jakarta yang merupakan ibu kota sekaligus kota metropolitan yang sudah sejak dulu menjadi muara percampuran budaya yang dibawa para pendatang. Perlahan-lahan kebudayaan asli masyarakat Betawi mulai terpinggirkan, mengikuti arus tergusurnya masyarakat Betawi dari lahannya di pusat kota.

Pemda DKI makin menggiatkan berbagai cara untuk memperkenalkan budaya Betawi khususnya kuliner kepada khalayak luas melalui berbagai acara yang digelar secara rutin. Selain itu beberapa wilayah di Jakarta dijadikan cagar budaya agar budaya asli betawi tak punah.  Beberapa sajian kuliner memang mulai sulit ditemukan, namun ada beberapa jenis makanan yang justru semakin popular. Berikut lima kuliner lezat Betawi yang lekat di hati.

  1. Kerak Telor

Kerak telor bisa dikatakan ikon kuliner Betawi. Meski masih banyak orang yang belum benar-benar pernah melihat bentuk aslinya maupun mencicipnya namun namanya sudah tersohor ke seantero nusantara. Kerak telor ini merupakan makanan yang dibuat dengan cara yang unik. Bebahan dasar beras dan telor serta tambahan bumbu-bumbu dan topping lainnya. Kerak telor kerap dijumpai dijual oleh orang betawi asli yang telah menekuni pekerjaan ini sejak lama, sehingga memiliki keahlian yang mumpuni dalam menciptakan sebuah sajian yang mengundang selera.

Kerak telor dimasak dengan menggunakan wajan kecil yang di taruh di atas tungku berbahan bakar arang. Pertama-tama beras dimasak hingga matang, lalu diberi bumbu-bumbu, kemudian ditambahkan sebuah telor bebek. Adonan kemudian diaduk dan dibentuk bundar agar mendapatkan kematangan yang merata. Sepintas bentuknya menyerupai telur dadar biasa. Setelah bagian bawah matang, maka wajan dibalik agar bagian atas pun matang. Meski wajannya dibalik, namun kerak telor tersebut tidak terjatuh, karena kerak sudah lekas di dasar wajan. Jika sudah matang kerak telor diangkat serta disajikan dengan taburan abon dan bawang goreng.

Rasa gurih telor dan beras yang sudah menjadi kerak bercampur bumbu menjadi gurih nikmat. Seporsi kerak telor sudah cukup untuk mengganjal perut yang kelaparan sementara menunggu waktu makan.

  1. Kue Rangi

Kue rangi kini mulai sulit ditemukan. Dijual dengan menggunakan gerobak yang memiliki tungku pembakaran menggunakan kayu. Kue rangi dibuat dari tepung sagu dan kelapa yang diparut, kemudian dimasak dalam cetakan-cetakan khusus berjajar berisi 10-12 cetakan.  Pertama-tama campur adonan kelapa dan tepung sagu dengan sedikit garam dan air, kemudian masukkan dalam cetakan-cetakan dan tutup. Masak hingga matang.

Setelah matang kue rangi diangkat dari cetakan dengan menggunakan kait khusus. Kue rangi yang baru matang tercium bau wangi gurih itu di siram dengan gula merah kental. Gula merah ini biasa juga disebut kinca gula merah karena teksturnya yang kental akibat penambahan tepung sagu pada gula merah yang telah dicairkan.

  1. Dodol

Dodol betawi yang manis legit dan kenyal menjadi makanan ringan yang sering dicari. Terbuat dari tepung ketan yang dimasak bersama gula merah. Meski makanan ini hanya berbentuk kotak namun proses pembuatannya tidaklah sesederhana itu. Adonan dodol harus dimasak dengan cara diaduk terus-menerus selama sekitar delapan jam, agar matang merata dan tidak menggumpal. Proses ini cukup sulit karen membutuhkan tenaga yang kuat untuk mengaduk adonan dalam skala besar, dimasak dalam wajan berdiameter sekitar satu meter. Mengaduknya pun menggunakan kayu yang mirip dengan dayung perahu. Adonan yanag lengket tersebut setelah matang didinginkan lalu dipotong-potong sebelum dibungkus dan disajikan.

Biasanya dodol selalu tersedia di rumah-rumah saat Hari Raya atau ada hajatan besar seperti pernikahan. Selain roti buaya, dodol juga merupakan makanan yang dibawa pada saat pengantin pria bertandang ke rumah mempelai wanita. Keunikan lain dari dodol betawi adalah bahan dasar yang digunakan adalah beras ketan putih dan ketan hitam. Masing-masing bahan menciptakan warna khas tersendiri. Dodol yang berwarna coklat berasal dari beras ketan putih sedangkan yang coklat kehitaman berasal dari beras ketan hitam.

  1. Ketoprak

Masyarakat Jawa Tengah atau Jawa Timur mengenal ketoprak sebagai pertunjukkan sandiwara rakyat. Namun warga Betawi mengenalnya sebagai sajian kuliner. Ketoprak bisa dikatakan sebagai makanan berat, karena menggunakan ketupat dan bihun dalam racikannya. Berbeda dengan tahu campur dari daerah lain, meski menggunakan tahu namun bumbu kacang pada ketoprak tidak encer melainkan kental. Bumbu kacang diulek bersama garam, cabe dan bawang putih yang ditambah sedikit air asam, kemudian di atasnya diberi potongan ketupat, tahu, bihun dan tauge. Sebelum disajikan diberi tambahan kerupuk dan bawang goreng lalu ditambahkan sedikit kecap manis.

Kini ketoprak bahkan sudah mulai merambah wilayah lain di pulau jawa. Makanan khas betawi ini sudah semakin terkenal dimana-mana.

  1. Nasi Uduk

Nasi uduk mungkin awalnya berasal dari Melayu, namun hingga kini nasi uduk merupakan makanan khas Betawi yang juga tersohor. Di beberapa wilayah di Jakarta sudah menjadi trade mark tersendiri bagi nasi uduk. Seperti nasi uduk kebon kacang, karena sejak awal disanalah pertama kali nasi uduk diperdagangkan dan termasyur hingga saat ini.

Nasi uduk adalah nasi yang dimasak dengan santan dan memilki rasa gurih. Nasi uduk Betawi memiliki ciri khas yaitu dimakan dengan semur jengkol sebagai pendamping. Meski bagi yang tidak suka masih ada banyak pilihan lauk lainnya seperti ayam goreng, tahu/tempe, telur dan aneka gorengan. Keunikan lainnya adalah nasi uduk Betawi disiram sambal kacang, hingga perpaduan rasa gurih, manis dan pedas semakin menggoyang lidah.

Dari kelima jenis kuliner Betawi di atas, mana yang belum pernah anda coba? Yuk, lestarikan kuliner tardisional dengan terus menikmatinya dalam keseharian kita.(em)