World Development Report tahun 2017 menyebutkan Indonesia butuh waktu 45 tahun untuk mengejar ketertinggalan di bidang pendidikan, dan 75 tahun di bidang science. Ini tentu menjadi PR besar bagi negara untuk mengerahkan usaha penuh di ranah pendidikan. Sistem pendidikan yang masih banyak terpaku pada teori serta kurangnya praktek di lapangan menimbulkan munculnya fenomena pengangguran. Ratusan ribu sarjana jebolan perguruan tinggi negeri maupun swasta lulus tiap tahunnya, sementara lapangan pekerjaan yang tersedia tidak sejalan dengan skill yang dimiliki.

Terlebih lagi dunia yang terus berkembang kini tengah menghadapi revolusi Industri 4.0. Industri 4.0 adalah pelaksanaan kegiatan industri yang didukung dengan elemen-elemen digital seperti IoT (Internet of Thinking), Big Data, Artificial Intellegent dan Robotik.

Sumber : Kementrian Perindustrian, 2018

Revolusi Industri 1.0 dimulai dengan pengenalan fasilitas produksi mekanis menggunakan tenaga air dan uap pada akhir abad ke-18. Kemudian, Industri 2.0 mulai berkembang dengan adanya pengenalan produksi massal dan pembagian kerja. Industri 3.0 pada tahun 1970 terjadi penggunaan elektronik dan TI untuk otomatisasi produksi. Kini, revolusi industri 4.0 menekankan system cyber-physical yaitu adanya konektivitas antara manusia, mesin, dan data waktu.

Dalam industri 4.0, banyak pekerjaan manusia yang diganti dengan mesin atau robot. Pekerjaan-pekerjaan ini biasanya merupakan pekerjaan berulang yang tidak membutuhkan skill tinggi. Ini sangat lazim terjadi di Industri makanan, farmasi serta otomotif yang membutuhkan tingkat kontaminasi manusia rendah, namun mencapai efisiensi tinggi. Untuk itu, tantangan agar dapat survive di zaman ini semakin tinggi. Manusia perlu memiliki skill khusus yang tidak bisa digantikan oleh mesin.  Berikut beberapa skill yang harus dimiliki untuk bertahan di Industri 4.0.

1.Terus Belajar Hal Baru

“Tidak ada yang abadi, kecuali perubahan.”

Zaman yang terus berubah menuntut diri untuk juga berubah menyesuaikannya. Di era yang serba canggih ini, kita diwajibkan melek digital. Penguasaan terhadap sosial media pun menjadi penting, karena ternyata banyak pekerjaan baru yang muncul dari sana. Social Media Officel, Selebgram, Youtuber, Web Developer, SEO Optimizer adalah nama-nama profesi baru yang mulai menjadi primadona. Untuk menekuni pekerjaan tersebut, tentu diperlukan kegigihan dan rasa ingin tahu yang tinggi mempelajari elemen-elemen digital di dalam tiap platformnya.

Bagi para orang tua maupun calon orang tua, keadaan ini juga perlu dimaklumi. Bahwa ternyata begitu banyak pekerjaan baru di masa kini yang menjanjikan. Varian pekerjaan jadi lebih luas, tidak hanya pekerjaan konvensional seperti dokter, tentara, pilot, polisi saja. Mungkin juga beberapa tahun mendatang akan ada pekerjaan-pekerjaan baru yang belum terpikirkan. Jadi penting untuk mendukung dan mempercayai kemampuan anak, serta tidak membatasi profesi yang ingin mereka jalani.

2.Kreativitas

Kratif berarti melihat suatu hal dari sisi yang berbeda. Untuk dapat bertahan di Industri 4.0, manusia harus mengembangkan kretivitasnya dan terus bereksperimen. Semakin berbeda hal yang kita lakukan, semakin mudah dikenal maka akan semakin unggul. Skill ini tentu tidak dimiliki oleh robot. Ini didapatkan dari kemampuan akal melakukan observasi, kemudian memodifikasinya menjadi sesuatu yang menarik.

  1. Tidak Mudah Menyerah

Cerita sukses yang kita dapat dari pebisnis ulung berawal dari hal yang sederhana banyak yang tanpa modal. Dengan kegigihan dan sikap tidak mudah menyerah, akan menghasilkan buah yang manis. Untuk itu sikap tidak mudah menyerah sangat penting dimiliki. Fokus pada tujuan yang kita punya dan terus mengingatnya akan membuat kita mudah bangkit kembali setelah jatuh.

  1. Berfikir untuk Kebermanfaaatan

Gojek, Bukalapak, Facebook, Google berawal dari niat tulus untuk mempermudah urusan orang lain. Walaupun era digital ini memiliki tingkat persaingan yang ketat, dalam melakukan sesuatu kita harus terus memikirkan kebermanfaatan bagi orang lain bukan hanya untuk diri sendiri. Ini membuat apa yang kita lakukan memiliki value lebih, sehingga dalam melakukannya kita tidak mudah berhenti karena melibatkan kepentingan banyak orang di dalamnya.

5.Kolaborasi

Generasi muda (Millenials) memiliki ide-ide yang segar serta keberanian yang tinggi untuk mengambil risiko. Sementara generasi dewasa (Baby Boomers), memiliki pengalaman serta power berupa jabatan dalam implementasi suatu ide. Apabila kedua generasi ini digabungkan, tentu akan menghasilkan suatu karya yang tidak hanya segar, namun juga matang karena telah dibekali oleh pengalaman. Untuk itu, berkolaborasi menjadi sangat penting dalam menghadapi Industri 4.0.

Tidak hanya antar generasi, kolaborasi juga perlu dilakukan antar pihak yang berbeda seperti pendidikan dengan swasta, pemerintah dengan swasta dll. Dalam bidang ilmu pengetahuan pun, perlu adanya kolaborasi dari cabang ilmu yang berbeda dalam penyelesaian suatu masalah (transdisiplin). Ini akan menciptakan solusi yang komprehensif dan utuh.(rah)