Saat mendengar anak mendapat diagnosa autisme, pada tahap awal orang tua merasa sedih dan bahkan menyangkalnya. Namun kesedihan dan penyangkalan sebaiknya jangan diperpanjang karena masih ada anak yang harus mendapat perhatian penuh. Mengatasi masalah autisme adalah dengan melakukan terapi yang konsisten dengan keterlibatan orang tua yang intens. Autisme (Autism Spectrum Disorder) adalah gangguan perkembangan kompleks yang gejalanya sudah muncul sebelum anak berusia 3 tahun. Gangguan neurologi pervasif ini terjadi pada aspek neurobiologis otak dan mempengaruhi proses perkembangan anak. Anak mengalami masalah dalam interaksi sosial, bahasa, rentang emosi, kognitif, kemampuan motorik dan sensorik. Sehingga anak tidak dapat secara otomatis berinteraksi dengan lingkungan seperti kebanyakan orang, dan seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri.

Memahami kondisi anak dengan menerima secara ikhlas akan memberi harapan untuk perkembangan anak. Orang tua dituntut berperan aktif dalam menangani kondisi anak penyandang autisme. Karena selama dua puluh empat jam, waktu anak lebih banyak bersama orang tua dan keluarganya. Beberapa jenis terapi telah terbukti berhasil mengatasi autisme, disini orang tua harus jeli melihat mana terapi yang paling cocok bagi anaknya. Lakukan dengan sungguh-sungguh dan jangan berhenti ditengah jalan atau mencoba-coba berbagai terapi tanpa satu pun yang diseriusi. Hal ini bisa berdampak pada semakin jauhnya perkembangan anak dari harapan orang tua.

Sumber Foto : Pixabay

Berikut beberapa metode terapi yang dapat dilakukan bagi anak autistik.

  1. Metode Applied Behaviour Analysis (ABA)

Terapi ABA diawali dengan penelitian B.F Skinner pada tahun 1930 yang kemudian disempurnakan oleh Ole Ivar Lovaas. Terapi ini menggunakan metode mengurai berbagai hal menjadi bagian-bagian kecil untuk dipelajari secara sendiri-sendiri serta hubungannya satu sama lain yang langsung dapat diterapkan untuk mengoreksi perilaku. Terapi ABA menggunakan metode yang sistematis, artinya memiliki kurikulum dan penilaian yang jelas. Jika anak telah berhasil mencapai sebuah instruksi secara konsisten dan dapat diterapkan di kehidupan nyata maka anak bisa dinyatakan lulus untuk program tersebut, lalu kemudian meningkat pada program-program lain yang ada dalam kurikulum. Keberhasilan pada anak diukur dengan penilaian yang terus-menerus pada setiap sesi terapi.

  1. Metode Kaufman

Jika pada metode ABA dituntut adanya kepatuhan anak dalam mengukuti instruksi terapis pada awal mulainya terapi perilaku, maka pada metode kaufman justru sebaliknya. Terapis yang mengikuti perilaku si anak. Terapis mengamati, mempelajari, dan membantu anak mengembangkan diri dengan caranya sendiri. Pada tahap awal anaklah yang menunjukkan cara yang dia pahami dan terapisnya mengikuti lalu perlahan-lahan melakukan koreksi atas perilaku dengan contoh yang benar. Pada prinsipnya metode ini  bertujuan menimbulkan motivasi anak untuk berkembang.

  1. SON-RISE

Son-Rise merupakan metode yang dikembangkan oleh Barry Neil dan Samahria Kaufman. Program untuk orang tua ini menerapkan beberapa prinsip yang dapat membantu anak autistik keluar dari keterbatasannya.Prinsip tersebut adalah mencintai dan menerima serta inspirasi untuk tumbuh dan berkembang.

  1. Terapi Wicara

Anak penyandang autisme seringkali terkendala dalam masalah berbicara dan berbahasa. Itulah yang menyebabkan mereka sulit berkomunikasi dengan orang lain. Anak dilatih untuk berbahasa melalui terapi wicara yang dilakukan dalam berbagai tahap.

  • Terapi Propilactic pre-speech
  • Terapi etiologic
  • Terapi symptomatic
  1. Terapi Sensori Integrasi

Input sensorik yang bermacam-macam sering menjadi masalah tersendiri bagi anak autistik, hal ini disebabkan fungsi biologis otaknya terganggu sehingga penyampaian informasi ke otak tidak sempurna. Terapi ini merupakan penelitian DR. Ayres.Melalui terapi sensori integrasi anak diajarkan untuk menerima berbagai rangsangan atau input sensorik. Sehingga kemampuan menyerap input sensoriknya akan meningkat dan dapat membantu perkembangan otaknya, khususnya yang terkait dengan sensori.

  1. Terapi okupasi

Terapi okupasi merupakan terapi yang bersifat fisik. Menggunakan berbagai jenis alat untuk membantu anak memperkuat bagian-bagian tubuh yang lemah. Memulihkan otot, sendi-sendi dan kondisi tubuh secara keseluruhan. Selain tentu saja berimbas pada masalah mentalnya. Melakukan terapi okupasi dapat membuat anak teralihkan dari kondisi neurosis, dengan mengembangkan potensi kecerdasan, intelektual dan memotivasi semangatnya. Meski terapi okupasi bukan khusus untuk anak autis namun terapi ini sangat membantu anak autis mencapai perkembangan fisik dan emosi yang baik.

Sebelum melakukan terapi setiap anak dilakukan penialain terlebih dahulu untuk memudahkan membuat program yang paling tepat. Beberapa terapis sering mengeluh saat orang tua bertanya “kapan anak saya akan sembuh dari autisme?”, “Berapa lama terapi ini dibutuhkan?”.  Perlu dipahami bahwa setiap anak berbeda pun orang tuanya, maka akan sulit memastikan sampai kapan anak membutuhkan terapi. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, kembali lagi pada peran orang tua yang turut menentukan keberhasilan sebuah metode terapi. Setiap anak autistik itu unik, masing-masing metode terapi memiliki efek yang berbeda pada setiap anak. Jangan menyerah jika perkembangan anak dinilai lambat. Harus tetap berjuang demi kemajuan anak. Intervensi dini pada anak autistik juga berdampak signifikan dalam mempercepat kesembuhannya.(em)