Bisnis model kanvas bukanlah sebuah jenis bisnis, melainkan perangkat strategis yang ampuh untuk memajukan bisnis. Saat ini, penggunaan model bisnis ini menjadi hal wajib bagi start-up dan perusahaan yang sedang mengembangkan produk baru. Model bisnis satu ini baru diperkenalkan oleh Alexander Osterwalder di tahun 2008.

Lalu apa saja keunggulan bisnis model ini dibanding yang lain? Apa saja komponen yang wajib dianalisis untuk membuat bisnis model kanvas sempurna? Ini dia ulasan mendalamnya.

Keunggulan Bisnis Model Kanvas Dibanding Model Lainnya

Sebelum model bisnis ini diciptakan, ada beberapa model bisnis lain yang telah mendahuluinya. Sebut saja model Segitiga Ajaib Gassman dan Analisis Sebab-Akibat Massanell – Ricart. Akan tetapi para pendiri perusahaan lebih suka menggunakan Bisnis Model Kanvas. Alasannya, Segitiga Ajaib Gassman terlalu sederhana dalam menggambarkan bisnis. Sedangkan Analisis Massanell-Ricart terlalu rumit untuk dipahami.

Ada beberapa bisnis besar seperti IBM dan start-up teknologi saat ini yang berusaha mengembangkan model bisnisnya sendiri. Akan tetapi tetap saja pilihan mayoritas bisnis jatuh pada model kanvas. Sebab komponen di dalamnya memang sudah lengkap, singkat, dan jelas dalam menggambarkan sebuah bisnis.

9 Komponen yang Tidak Boleh Dilewatkan dalam Bisnis Model Kanvas

Bisnis yang menggunakan model kanvas pantang meninggalkan 9 komponen yang terdapat dalam model tersebut. Sebab keberadaan komponen-komponen tersebut berkaitan satu sama lain. Jika ada satu saja komponen yang salah dianalisis oleh pemilik bisnis, maka hal tersebut akan berpengaruh pada komponen lainnya. Berikut ini urutan komponennya secara lengkap.

  1. Partner Bisnis (Key Partner)

Poin pertama yang harus dipersiapkan sebelum memulai bisnis adalah orang-orang yang akan dilibatkan dalam bisnis. Misalnya untuk internal bisnis, di tahap awal sebuah start-up membutuhkan programmer, akuntan, dan promotor. Lalu untuk eksternalnya, start-up tersebut membutuhkan supplier dan beta-tester.

  1. Aktivitas Utama Bisnis (Key Activity)

Setelah menentukan orang-orang yang terlibat, tentukan aktivitas-aktivitas pokok apa saja yang akan dilakukan bisnis tersebut. Aktivitas yang dimaksud di sini adalah aktivitas membangun nilai bisnis, bukan aktivitas administratif. Misalnya dalam sebuah start-up, programmer membuat aplikasi, akuntan menentukan biaya, dan promotor melakukan promosi.

  1. Bahan Baku yang Digunakan (Key Resources)

Pasca tahu apa saja aktivitas yang akan dikerjakan, tentukan bahan baku apa saja yang akan digunakan. Termasuk juga sarana prasarana yang dibutuhkan untuk menjalankan bisnis tersebut. Sebaiknya dalam menentukan key resources, pebisnis menuliskan selengkap mungkin apa saja bahan yang dibutuhkannya untuk menjalankan bisnis.

  1. Nilai Bisnis yang Dijual (Value Propositions)

Pada poin ini seorang pebisnis memerlukan kemampuan analisis lebih tinggi lagi. Dari bisnis yang akan atau sedang didirikan, apa yang ingin dijual? Nilai apa yang akan ditawarkan ke konsumen di luar sana?

Ambil contoh saja, start-up transportasi seperti GO-JEK. Nilai yang dijual GO-JEK pada konsumennya adalah kemudahan untuk sampai ke tujuan meski ada hambatan dari segi transportasi.

  1. Hubungan dengan Konsumen (Customer Relationship)

Setelah menentukan nilai yang akan dijual bisnis, selanjutnya tentukan bagaimana “status” hubungan antara konsumen dan bisnis. Hal terpenting di poin ini adalah ikatan emosional bisnis dan konsumen. Misalnya, banyak konsumen menggunakan produk kecantikan A saat kulitnya kering. Hal itu bisa terjadi karena hubungan seperti itulah yang direncanakan perusahaan.

  1. Segmentasi Konsumen yang Ditarget (Customer Segmentation)

Selanjutnya setelah menganalisis hubungan dengan konsumen, bisnis perlu menentukan konsumen yang ditargetnya. Sebaiknya berikan deskripsi mengenai target konsumen dengan ringkas dan jelas. Contoh target konsumen yang ideal misalnya remaja wanita berusia 13 – 20 tahun yang ingin menggunakan kosmetik, tapi tetap tampak alami.

  1. Cara Menjangkau Konsumen (Channels)

Channel dalam Bahasa berarti “saluran”, dalam bisnis ini berarti saluran yang digunakan perusahaan untuk mengantarkan “nilai” ke konsumen. Contoh konkrit channel yang paling efektif saat ini misalnya melalui aplikasi atau jasa pengiriman barang.

  1. Bagaimana Bisnis Memperoleh Pendapatan? (Revenue Stream)

Pada poin ini, seorang pebisnis perlu menganalisis dari mana dia akan memperoleh pendapatan. Misalnya saja dalam bisnis aplikasi, perusahaan pembuat aplikasi bisa memperoleh uang dari transaksi pengguna dan iklan yang dipasang.

  1. Sumber-Sumber Biaya (Cost Structure)

Setelah tahu bagaimana bisnis akan mendapatkan uang, hal selanjutnya yang perlu dianalisis adalah sumber-sumber biaya. Pebisnis perlu menganalisis pengeluaran finansial yang terjadi di komponen kanvas sebelumnya, mulai dari key partner sampai channels. Setelah itu baru laba bisa ditentukan oleh sang pembuat model kanvas.

Demikianlah informasi lengkap dan mendalam mengenai bisnis model kanvas. Sebelum memulai bisnis, sebaiknya terlebih dahulu menggambarkannya dengan menggunakan model kanvas. Sebab hal ini bisa mempermudah pebisnis dalam mengatur siklus bisnisnya.(hn)