Oleh : Mariana Lusia Resubun

Tips menulis dari penulis abal-abal (katanya saya penulis jadi dimintai ilmu untuk mengajarkan menulis). Padahal saya tidak tahu apa-apa hanya senang bercerita lewat tulisan, jadi lebih tepat judulnya adalah “curhat kita”, dibandingkan “tips menulis”.

menulis

1. Banyak Membaca

Alasannya karena dengan banyak membaca koleksi perbendaharaan kata menjadi banyak, sehingga kata-kata yang dituliskan mengalir seperti air. Saya sangat senang membaca, karena dari kecil sebelum saya mengenal huruf, ibu saya telah mengajarkan membaca sedari dini, melalui dongeng-dongeng yang dibacakannya sebagai cerita pengantar tidur. Di rumah kami penuh dengan berbagai jenis bacaan mulai dari kumpulan novel, komik, tulisan-tulisan populer, majalah wanita, remaja dan anak-anak.

Coba tanyakan kepada saya judul-judul novel dan inti cerita dari novel Pramoedya Ananta Toer, Agnes Jessica atau Barbara Cartland atau Stephenie Meyer atau JK Rowling. Pasti dengan mudah saya sebutkan dibandingkan saya disuruh menyebutkan jenis-jenis erosi yang harus saya pelajari dari buku Konservasi Tanah dan Airnya Pak Sitanala Arsyad, atau tentang pengelolaan Daerah Aliran Sungai dari bukunya Pak Chay Asdak.

Saya membutuhkan “contekan” karena belum menguasai isi buku tersebut, berbanding terbalik apabila saya bercerita tentang isi novel, pasti lancar. Buku adalah pelarian terbaik, ketika menghadapi masalah dan beratnya hidup. Selain itu dengan membaca, wawasan dan cakrawala pengetahuan kita bertambah. Saya sudah mengunjungi desa Edensor di Inggris lewat tulisan Andrea Hirata, saya sudah mengunjungi sekolah sihir Hogwarts lewat tulisan JK Rowling, saya sudah mengunjungi Penang Malaysia lewat tulisan Barbara Cartland dan saya sudah mengunjungi tempat-tempat lainnya dalam imajinasi saya, karena membaca.

2. Menulis dari hati, jujur dan tanpa intervensi dari pihak manapun

Ada beberapa tulisan saya seperti “MeraukeKu Sayang” dan “Ironi di Tanah Surga”, dianggap merupakan tulisan pesanan pihak-pihak tertentu, dianggap sebagai intervensi dari pihak-pihak yang hanya ingin mengambil keuntungan dari situasi yang terjadi di tanah Papua. Padahal demi Tuhan, saya menulis murni dari hati saya. Muncul dari kegelisahan dan keresahan hati yang paling dalam, karena melihat kondisi ketidakadilan yang terjadi di tanah Papua.

Saya hanya mencoba menulis secara jujur. Mencoba menjadi “suara dari mereka yang tidak bersuara”. Saya menulis sambil menangis karena saya memposisikan diri berada pada posisi mereka yang termarginalkan di tanahnya sendiri. Mereka yang tidak seberuntung kita, yang menikmati segala jenis fasilitas dan menjadi bagian dari modernitas. Mereka yang kalah saing atas nama pembangunan, padahal mereka hidup di tanahnya sendiri. Apakah ini adil untuk mereka?

3. Menulislah mulai dari hal-hal kecil

Sedari kecil, saya terbiasa menulis, mengarang dan berimajinasi. Semua tulisan saya, saya dokumentasikan ke dalam buku harian. Saya juga ingat zaman sekolah, mulai dari SD sampai SMA, saya punya buku diary, yang berisi biodata teman sekelas. Saya ingat dalam setiap buku diary saya, saya paling “cerewet”, karena tulisan saya yang paling panjang. Setiap hal yang ada dalam pikiran saya, saya tuangkan ke dalam tulisan. Diary yang berisi biodata teman-teman, mulai dari masa SD hingga SMA masih tersimpan rapi di dalam lemari pakaian.

Mungkin saya dikatakan kampungan, di era kekinian, dengan majunya sarana komunikasi seperti video call, saya masih suka menulis surat untuk ibu dan pacar saya. Saya ingat untuk cinta pertama saya di masa SMA, saya tergila-gila padanya karena suaranya yang sangat merdu, mirip Donnie Sibarani vokalis Ada Band. Saya tulis sebuah surat, berisi ungkapan kekaguman dan cinta saya padanya.

Namun sampai dengan hari ini, kurang lebih 11 tahun dari masa kelas 2 SMA, surat tersebut tidak pernah sampai ke tangannya, Saya hanya seorang “Pemuja Rahasia”, setiap kali bertemu dengan dia, walaupun dia tidak kenal saya, saya goreskan ke dalam catatan harian saya. Saya merasa romantis dengan menulis surat. Saya merasa saat paling jujur bagi saya, adalah ketika mengungkapkan isi hati lewat bahasa tulisan dibandingkan dengan bahasa lisan.

4. Menulis sambil membuka kamus Bahasa Indonesia

Hal ini sangat penting, karena kita hidup di Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang terdiri dari 34 provinsi dan ribuan pulau, suku bangsa dan bahasa. Maka bahasa Indonesialah satu-satunya bahasa pemersatu. Saya ingat ketika mengikuti mata kuliah Pengelolaan Sumberdaya Air Terpadu di kampus saya Institut Pertanian Bogor (IPB). Dalam salah satu presentasi saya, ketika itu tampilan slide di layar infokus tidak tampak karena ada kesalahan teknis.

Awalnya saya katakan maaf gambar tidak nampak karena terhalangi. Namun di bagian akhir presentasi, saya katakan “maaf terpele”. Sontak beberapa teman sekelas yang berasal dari kawasan Indonesia Timur, yaitu teman dari Ternate dan Ambon tertawa. Karena mereka mengerti maksud saya, dan ini menjadi bahan lelucon kami di kelas. Saya juga ingat ketika membuat tulisan berupa laporan atau makalah, kami dari Indonesia Timur seringkali membutuhkan waktu yang lebih banyak, karena kendala bahasa. Dalam menulis laporan, susunan subyek, predikat, objek dan keterangan seringkali menjadi rancu, sehingga kami membutuhkan lebih banyak bimbingan dan koreksi.

Hal ini juga mungkin yang menyebabkan saya belum menyelesaikan tugas akhir saya. Jadi jangan menganggap saya penulis ya, Tetapi sebagai bocoran, saya selalu membuka halaman Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online ketika menulis, harapan saya agar tulisan saya dapat dibaca dan dimengerti orang Indonesia dari Sabang-Merauke.

5. Menulislah hal-hal yang dikuasai

Ketika menulis saya mencoba mengangkat realita sosial yang terjadi di tanah Papua pada umumnya dan Merauke pada khususnya. Saya menulis realita yang ada karena menjadi bagian dari segala hal yang terjadi, merasakan sendiri, melihat dan mendengar ketidakadilan yang terjadi. Ada pula saya selipkan sedikit pengetahuan yang saya pelajari di bangku kuliah, terkait tanah, air dan daerah aliran sungai (DAS). Tentunya sambil “mencontek” dari buku acuan.

Tetapi setidaknya bisa saya pertanggungjawabkan apa yang saya tulis, karena tahu sedikit, walaupun ilmuku hanya “seujung kuku” jika dibandingkan dengan mereka yang disebut sebagai “ahli”. Saya mencoba menulis dengan bahasa sederhana agar mudah dipahami orang awam sekalipun, apapun latar belakang pendidikannya. Saya ingin mengajak pembaca untuk berempati, memunculkan sisi kemanusiaan untuk melihat realita yang terjadi di tanah Papua. Tanah Papua dieksploitasi habis-habisan, sementara masih banyak Orang Asli Papua yang miskin, belum berpendidikan, menjadi korban pelanggaran HAM dan termarginalkan di tanahnya sendiri, hutan dan tanahnya juga terancam rusak dan hilang akibat pembangunan. Apakah ini adil?

6. Ilmu itu ibarat bola salju

Saya senang menulis, tetapi susah sekali bagi saya untuk menulis sebuah puisi. Namun ada beberapa tulisan status saya di FB (Facebook), yang tidak saya sadari berbentuk seperti puisi. Ada sebuah komentar masuk, menanggapi tulisan saya itu, “kuliah ambil jurusan puisi ya?”. Saya katakan padanya bahwa pengetahuan itu ibarat bola salju, dimana ada sebuah ilmu yang menjadi inti atau dasar pegangan kita, namun dengan seiring berjalannya waktu inti itu semakin membesar, bergerak seiring keinginan kita untuk belajar.

Semua hal dapat kita pelajari, dimana yang baik kita simpan dan yang kurang baik kita tinggalkan. Saya kurang tahu apa latar belakang pendidikan dari seorang Mira W, novel-novelnya selalu best seller dan diangkat ke dalam film maupun sinteron di era tahun 80 an hingga 90 an. Dalam setiap novelnya dia selalu mengangkat tema kedokteran. Andrea Hirata seorang sarjana ekonomi bukan dari jurusan sastra, namun dia mampu menulis kisah yang luar biasa, tetralogi Laskar Pelangi. Agnes Jessica seorang guru matematika, namun dia tinggalkan profesinya untuk menjadi seorang novelis. Dewi (Dee) Lestari dengan karya fenomenalnya novel Supernova, merupakan alumus dari jurusan Hubungan Internasional salah satu universitas swasta di Bandung, dia sekarang dikenal sebagai novelis dan juga penyanyi. Ada pula seorang kawan yang sekarang sedang studi di Amerika Serikat, latar belakang pendidikannya adalah S1 Teknik Kimia, S2 teknik kimia fokus ke material dan sekarang menempuh pendidikan S3nya mengambil jurusan material dan manukfakturing.

Beliau mengenalkan saya akan istilah pemberedelan nutrisi alias dedak, yaitu begitu banyak orang ingin memberikan dedak kepada ayam padahal nutrisinya berada disitu semua dan sangat bagus untuk kesehatan manusia. Awalnya saya mengira beliau mempunyai latar belakang pendidikan ilmu gizi atau nutrisi. Ternyata beliau orang teknik. Inti dari poin ke-6 ini, adalah semua orang bisa menulis, apapun latar belakang pendidikannya. Ilmu apapun itu dapat kita pelajari selama jiwa masih bersatu dengan tubuh ini.

7.Menulis adalah cara saya berjuang

Menulis adalah cara saya berjuang, saya menulis bukan untuk mencari nama. Saya menulis bukan untuk mencari uang. Menulis adalah bentuk perjuangan saya. Perjuangan saya untuk kehidupan mereka yang terpinggirkan di tanahnya sendiri.

Saya ingat ketika saya menulis, ada sebuah komentar pada tulisan saya dari seorang kawan, teman berdebat dan berdiskusi yang sangat baik. Kata beliau, “melalui tulisanmu, kamu dapat mempengaruhi pola pikir orang untuk maju atau untuk mundur”. Saya katakan padanya, kalau saya ingin Orang Asli Papua (OAP) maju di tanahnya sendiri, jadi tuan pembangunan di tanahnya sendiri. Oleh karena itu saya menentang wacana Lumbung Pangan di Merauke, karena hanya mensejahterakan pendatang, korporasi benih padi, pupuk dan pestisida serta alat dan mesin pertanian. Hutan dan dusun sagu hilang, OAP hanya menjadi penonton tanah dan hutannya dirusak, kesejahteraan hanya menjadi impian.

Dalam tulisan saya, saya tidak hanya memprotes kebijakan yang ada, saya coba memberikan solusi pembangunan berbasis kearifan lokal dengan memanfaatkan setiap sumberdaya yang ada. Tulisan saya pernah diblokir, pernah juga ada kata-kata yang masuk dalam pesan pribadi saya, yang tidak suka dengan tulisan-tulisan saya. Ada upaya pembunuhan karakter terhadap diri saya, katanya saya tidak pantas menulis, saya menulis hanya untuk cari muka, saya hanya perempuan keturunan guru perintis dari Kei (Maluku Tenggara).

Saya dikatakan hanya mencari keuntungan dari tulisan-tulisan saya. Saya hanya tertawa. Untuk apa saya menulis hal-hal yang dipandang “keras” sehingga mungkin “menampar” wajah mereka yang merasa sebagai pelaku korup di tanah ini. Untuk apa saya membahayakan diri saya sendiri, sehingga nama saya mungkin masuk “daftar hitam” sehingga layak disingkirkan karena “berani bersuara”. Saya tidak pernah membayar ataupun dibayar untuk mempublikasikan tulisan saya, karena saya berjuang lewat tulisan-tulisan saya.

           

“Karena kau menulis, suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, di kemudian hari” (Pramoedya Ananta Toer)

 

 

 

1 COMMENT

  1. “Karena kau menulis, suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, di kemudian hari” (Pramoedya Ananta Toer)
    Terima kasih banyak atas pencerahannya ya mbak. Saya jgja tidak punya keahlian mmbuat puisi. Tapi prnah membuka buku catatan sendiri, ada penggalan kalimat yg isinya mirip bnget sma puisi. Dan saya nggak nyadar klo itu emang tulisan saya sndiri hhee