Perceraian memang bukanlah akhir yang diinginkan oleh setiap pasangan, apalagi untuk anak-anak. Meski berat, orangtua tetap harus mengarahkan buah hatinya agar tidak menjadi anak broken home. Bagaimana caranya?

Meski bukan jalan terbaik, tapi pada beberapa kasus, perceraian merupakan solusi terbaik bagi sebuah keluarga. Khususnya untuk anak. Hubungan suami-istri yang sudah tidak harmonis dan tidak jarang menimbulkan pertengkaran hebat dalam keluarga, bukan tidak mungkin justru membawa pengaruh negatif pada perkembangan anak. Jika hal ini yang terjadi, perceraian memang merupakan solusi terbaik.

Tapi bukan berarti anak akan begitu saja terlepas dari trauma perceraian yang terjadi antara orangtuanya. Sama seperti saat mengambil keputusan bercerai yang tidak mudah, menyampaikan kabar perceraian pada anak juga sama sulitnya. Wulansari, Psi., psikolog Yayasan Kita dan Buah Hati, menyarankan, sepahit apapun kenyataannya, kabar perceraian harus dijelaskan kepada anak-anak.

“Sebagai langkah awal, berilah penjelasan yang mencakup kondisi realita yang akan dihadapi anak, namun dengan tidak melemahkan semangatnya. Misalnya, jelaskan pada anak bahwa sekarang ayah dan ibu sudah berpisah, karena beberapa alasan. Bila kondisi realita sudah dapat diterima anak, barulah pembicaraan dilanjutkan pada soal tempat tinggal dan hal lain yang terkait dengan pola komunikasi, sesuai kesepakatan dengan mantan pasangan,” jelas psikolog salah satu SD swasta di Jakarta ini.

Bagi anak yang sudah memasuki usia remaja atau di atas 12 tahun, orangtua bisa mengajak mereka berdiskusi mengenai masalah perceraian ini. Seperti perasaan yang mereka rasakan, pandangan yang mereka miliki, bahkan orangtua juga bisa meminta saran pada anak hal-hal apa saja yang bisa mereka lakukan bersama setelah perceraian terjadi. Namun untuk anak yang lebih kecil, yang paling penting ditekankan pada mereka adalah kasih sayang dan rasa aman yang akan tetap mereka dapatkan dari kedua orangtuanya meski sudah berpisah. Yakinkan anak bahwa mereka tidak akan kekurangan kasih sayang dan perhatian ayah dan ibunya meskipun sudah tidak tinggal bersama.

Setelah penjelasan awal yang orangtua lakukan sudah bisa diterima oleh anak, maka coba ikuti langkah-langkah di bawah ini agar anak tidak tumbuh dengan rasa trauma menjadi anak broken home.

Ingatkan Bukan Kesalahan Anak

Menurut Dr. Dono Baswardono, AISEC, MA, Ph.D, psikolog, terapis pernikahan dan keluarga, seksolog, dan juga psikoanalis, banyak anak percaya bahwa mereka telah melakukan suatu kesalahan atau dosa sehingga orangtuanya bercerai. Mereka bisa saja mengaitkan peristiwa saat dirinya dimarahi oleh orangtua atau jadi sumber pertengkaran ayah dan ibunya dengan perceraian yang terjadi dan menyalahkan diri sendiri. Jika ini terjadi, jelaskan kebingungan atau kesalahpahaman anak ini dengan kesabaran. Tekankan bahwa orangtua akan tetap mencintai mereka dan bukan mereka yang menyebabkan perceraian.

Tetap Jalin Komunikasi yang Baik

Jika orangtua saja sulit menghadapi perceraian, bisa dibayangkan apa yang dirasakan oleh anak-anak? Tentu saja ini lebih sulit karena mereka harus kehilangan salah satu figur orangtua di dalam rumah. Untuk itulah komunikasi penting untuk selalu dijalin dengan anak. Pahami dan dengarkan perasaan anak serta jangan lupa berikan respon terhadap semua yang mereka ceritakan. Ajak anak untuk berdiskusi mengenai apa saja yang terjadi di hidupnya setelah perceraian orangtuanya. Namun sebisa mungkin hindari menceritakan masalah orangtua pada anak agar mereka tidak merasa semakin terbebani. Dengan komunikasi yang terjalin dengan baik. anak akan tetap dekat dengan orangtua meskipun ada perpisahan.

Jangan Ganggu Rutinitas Anak

Perceraian mungkin membuat anak harus pindah rumah dan sekolah ke lokasi baru. Jika ini terjadi, maka usahakan hal ini tidak sering dilakukan agar anak tidak harus selalu mengubah rutinitas dalam hidupnya. Jika ini terjadi maka anak akan merasa hidupnya tidak ideal dengan terus-menerus berpindah rumah dan sekolah. Selain itu, jika ayah atau ibunya sudah memiliki jadwal untuk bertemu dengan anak setiap minggu, maka usahakan jadwal tersebut terus dijalani dan jangan diubah-ubah. Hal ini dilakukan agar anak tidak merasa diacuhkan dan dinomorsekiankan oleh salah satu orangtuanya.

Buat Anak Tetap Sibuk

Pasca bercerai, jangan pernah biarkan anak sendirian atau merasa kesepian. Hal ini akan memicu perasaan sedih, marah, kesal, dan rendah diri dalam dirinya. Sebagai langkah awal, ajak anak berlibur atau paling tidak pergi ke pusat hiburan untuk mengalihkan rasa sedihnya dan mengembalikan kebahagiaannya. Setelah itu, sarankan pada anak untuk mengikuti berbagai macam kegiatan atau kursus di luar jam sekolah. Dengan begitu, anak akan tetap sibuk dan secara perlahan melupakan kesedihan dan kekecewaannya.

Tetap Jalin Hubungan

Salah satu dari kedua orangtua harus tetap menjalin hubungan dengan anak, meskipun sudah tidak tinggal satu rumah. Atur jadwal pertemuan dengan anak sesering mungkin, jangan sampai anak terlalu lama tidak bertemu dengan salah satu orangtuanya. Jika memungkinkan, ajak anak untuk menginap di rumah ayah atau ibunya agar lebih banyak menghabiskan waktu bersama. Terakhir, tetap libatkan diri dengan kehidupan anak, baik itu di sekolah, tempat kursus, maupun kehidupan sosialnya. Intinya adalah jangan sampai hubungan antar orangtua dan anak sampai memudar. (ew)