Anak yang memiliki prestasi cemerlang ternyata bukan satu-satunya jaminan kesuksesan di masa depan. Tapi kemampuan sosial juga ikut berperan penting di sana. Penelitian terbaru sudah membuktikannya.

A stock photo of a caucasian and african american child sharing in the play room

Kemampuan Sosial Tentukan Masa Depan

Selama ini, orangtua dan sekolah selalu mementingkan nilai akademis sebagai tolak ukur prestasi anak. Prestasi cemerlang menandakan masa depan anak yang cerah. Ternyata, hal itu tidaklah sepenuhnya benar. Penelitian terbaru yang diterbitkan oleh American Journal of Public Health, menemukan hubungan yang kuat antara kemampuan sosial anak di masa TK (balita) dengan seberapa suksesnya masa depan mereka.

Penelitian yang dilakukan selama 20 tahun ini menemukan fakta bahwa anak yang penolong dan senang berbagi sejak dari usia balita, kemungkinan akan lebih cepat lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan saat berusia 25 tahun. Sedangkan mereka yang tidak, kemungkinan untuk lulus SMA atau bahkan kuliah sangatlah kecil dan justru cenderung untuk terjerumus ke dalam penggunaan narkoba hingga melanggar hukum.

Tidak hanya senang menolong dan berbagi, penelitian yang dilakukan kepada 800 anak TK hingga mereka berusia 20 tahun-an ini, memberikan fakta bahwa anak-anak yang kemungkinan sukses di masa depan ini juga menunjukkan sikap senang berbagi, bekerja sama, mau mendengarkan orang lain, dan mampu memecahkan masalah atau konflik.

Penelitian yang dilakukan oleh Penn State University dan Duke University ini dilakukan melalui hasil evaluasi guru TK terhadap murid-murid yang menjadi objek penelitian. Evaluasi yang dinilai berdasarkan dari kemampuan anak mendengarkan orang lain, mau berbagi, penolong, dan mampu memecahkan masalah. Peneliti kemudian menganalisis apa yang terjadi pada anak-anak tersebut di masa pertumbuhannya, apakah mereka lulus SMA, kuliah, dan mendapatkan pekerjaan, atau justru berhubungan dengan dunia kriminal, penyalahgunaan narkoba, dan masalah mental.

Hasilnya, jika anak mendapatkan peningkatan nilai satu poin, maka dia memiliki kemungkinan dua kali lebih besar untuk lulus kuliah dan 46% lebih besar mendapatkan pekerjaan di usia 25 tahun. Sedangkan mereka yang mengalami penurunan nilai satu poin, memiliki kemungkinan 67% lebih besar dipenjara dan 52% lebih besar senang minum-minuman keras.

perkembangan-emosional-anak-1

Bisa Diajarkan Pada Anak

Damon Jones dari Penn State University berkata, dia dan rekan-rekan peneliti lain sudah mengetahui pentingnya kemampuan sosial dan emosional anak dalam masa pertumbuhannya, tapi mereka sama sekali tidak menyangka kalau hal tersebut akan berpengaruh sangat besar terhadap masa depan anak. Hal ini tentunya bisa memberikan pesan pada seluruh institusi pendidikan, bahwa ternyata kemampuan sosial dan emosional anak juga sama pentingnya dengan kemampuan kognitif untuk menciptakan masa depan yang cemerlang.

“Kita terlalu fokus dengan prestasi akademik seseorang. Penelitian-penelitian sebelumnya juga menyatakan bahwa hanya itulah satu-satunya faktor utama dalam mencapai kesuksesan,” ujar Damon, yang juga menjabat sebagai peneliti utama dalam penelitian ini.

Karena alasan itu, orangtua penting untuk mengajarkan kemampuan sosial dan emosional pada anak. Sama seperti kemampuan kognitif, hal ini tentu saja bisa diajari. Sofia Dickens, pendiri perusahaan EQtainement yang menciptakan berbagai permainan untuk mengasah kecerdasan sosial dan emosional anak, yakin akan hal tersebut. “Kemampuan ini adalah sesuatu yang sederhana dan dapat diajarkan di mana saja. Intinya adalah untuk membantu anak mengontrol tubuh, pikiran, serta emosionalnya,” ucapnya.

Membaca buku bersama anak merupakan hal paling mudah yang bisa dilakukan orangtua. Dengan membaca buku, anak yang belum memiliki pengalaman hidup, maka bisa memelajarinya melalui perjalanan hisup orang lain dari buku yang dibacanya. Jangan lupa untuk berinteraksi dengan anak selama membaca buku bersama, misalnya dengan menanyakan tanggapan anak mengenai karakter utama di cerita tersebut atau apa yang akan anak lakukan jika berada di posisi karakter tersebut. Hal ini mengajarkan anak untuk berempati dengan merasakan apa yang dialami oleh orang lain.

Hargai Perasaan Anak

Selain membaca buku, orangtua juga bisa membantu anak untuk mengekspresikan dan mengenali perasaannya. Saat anak marah, beritahu mereka kalau itu adalah perasaan marah dan cari tahu apa yang menyebabkannya. Setelah itu, ajarkan juga mereka untuk menyalurkan perasaannya. Misalnya, saat marah, anak bisa menyalurkan rasa marahnya dengan mencorat-coret di atas kertas sampai perasaannya lega. Penelitian menunjukkan bahwa cara mengelola perasaan harus diajarkan agar anak nantinya tidak salah bersikap dalam menyalurkan perasaan mereka.

Menjadi contoh orangtua yang baik di mata anak juga penting untuk perkembangan emosionalnya. Orangtua yang suka meledak-ledak saat marah dan berkata-kata kasar, tentu saja akan menjadi contoh buruk untuk anaknya. Emosional anak akan berkembang dengan baik jika orangtuanya memberikan contoh yang baik pula. Terakhir, selalu hargai perasaan anak. Saat anak merasa kesal, marah, atau sedih, pasti ada alasan di balik itu. Hargai perasaan mereka dengan mencari tahu penyebabnya dan bantu mereka untu menyalurkan perasaannya.(ew)