Ketika ditanya tentang kesuksesan orangtua dalam mendidik anak, yang menjadi ukuran paling nyata adalah manakala anak selalu menjalankan sholat lima waktu. Ada beberapa keluhan seorang ibu terhadap anaknya, yaitu dia hanya sholat di depan ibunya saja ketika ibunya pergi ia tidak sholat, ia menjamak beberapa sholat sekaligus, ia sholat tapi setelah perdebatan yang lama dan panjang dan berulang kali, sholat sekali lalu meninggalkan sholat dua kali, ibu capek membangunkannya karena tidurnya pulas sekali, sholatnya cepat dan tidak khusyu’.

Dan dari pengalaman pribadiku, aku selalu menyuruh anakku untuk sholat sejak  dini sejak mereka masih sekolah di Taman Kanak-kanak dengan membangkitkan kerinduan mereka akan pahala yang besar yang disediakan Allah SWT bagi mereka yang sholat. Kuceritakan betapa keindahan Jannah (surga) bagi mereka yang sholat dengan segala fasilitas. Jika kudapati mereka terlalu larut dalam bermain saat waktu sholat tiba, kuajak mereka secara tidak langsung dengan mengatakan : “ayo kita sholat agar dapat pahala dari Allah anak-anakku saying, ayo siapa yang mau berlomba mendapat ridha Allah? Dan Allah akan memberikan hadiah yang lebih menarik dan lebih menarik dari semua permainan yang ada.”

Aku punya kisah nyata yang terjadi pada putraku yang berumus 10 tahun,,,aku mulai membiasakannya agar sholat tepat waktu apalagi dia sudah berkhitan dan akan berdosa bila meninggalkan sholat. Pada suatu hari putraku berkata, bunda, bangunkan aku untuk sholat shubuh nanti yaa? Namun ketika kubangunkan, ia justru merengek dan ingin kembali tidur lagi, maka kutinggalkan dia. Tatkala kuceritakan kejadian tersebut pada pagi harinya, eh ia justru mengatakan bahwa dirinya tidak merasakan apa-apa ketika dibangunkan untuk sholat shubuh. Hamper setiap hari ia minta dibangunkan untuk sholat dan masih melakukan hal yang sama, akhirnya aku membimbingnya ke kamar mandi dan kuusap wajahnya dengan air dengan penuh kelembutan, awalnya ia marah dan menangis dan aku berkata, tapi tadi sebelum tidur adek minta dibangunkan untuk sholat kepada bunda”. Sambil meninggalkannya kembali tidur. Di pagi harinya setelah terbit matahari, anakku menyalahkanku mengapa bundanya tidak membangunkannya untuk sholat shubuh? Dan aku menceritakan bahwa bahwa bundanya sudah berusaha untuk membangunkan, namun ia mengatakan : adek tidak merasakan dibangunkan bunda.

Akupun tidak putus asa untuk terus membangunkannya pada malam-malam berikutnya sehingga akhirnya ia terbiasa  untuk bangun pagi dan sholat shubuh. Alhamdulillah

(anakku bersama sepupunya setelah melakukan sholat bersama)

(adakalanya ketika disuruh sholat,, ada aja usil yang dikerjakannya,,sholat sambil ngupil,,,disinilah peranku sebagai seorang ibu untuk menasehati anakku bagaimana etika dalam sholat)

(anakku ketika mengikuti karantina tahfiz di yayasan Al-Haramain Pekanbaru).

Beberapa harapan yang diinginkan seorang ibu untuk membiasakan anaknya rajin sholat, yaitu ibadah kepada Allah dan taat kepada perintahnya, menunaikan tanggungjawab di hadapan Allah, supaya sholat mereka mampu  mencegah mereka dari perbuatan keji dan mungkar, mendapatkan pahala karena terpenuhinya hajat orang lain dengan menolongnya untuk mengamalkan agamanya terutama sholat, mendapatkan keturunan yang sholeh yang kelak akan mendoakan seorang ibu setelah ia tiada, pahala mencetak generasi mukmin yang kuat beribadah.

Sekarang aku berpesan kepada setiap ayah dan ibu : “ajarilah anak-anak kita taat beragama sejak kecil, agar mereka menolongmu untuk taat beragama, mengingatkanmu terhadapnya dan mendoakanmu setelah engkau tiada”.(Zulhaida Endriani)