Juli lalu, tindak perundungan (bullying) santer diberitakan di berbagai media. Sekelompok mahasiswa sebuah universitas ternama diberitakan merundung salah satu kawan yang berkebutuhan khusus. Lalu, muncul pula berita adanya seorang siswi SD yang mengalami perundungan oleh sekelompok siswa SD dan SMP.

Wikipedia mengartikan bullying sebagai sebuah penindasan, penggunaan kekerasan, ancaman atau paksaan untuk mengintimidasi orang lain. Ada faktor motif menguasai baik secara fisik maupun verbal yang dilakukan oleh pelaku bullying pada korbannya, yang menyebabkan korbannya menjadi terpojok.

Aksi perundungan bisa terjadi di mana saja, mulai dari lingkungan di sekitar rumah ataupun di sekolah. Sebagai orang tua, sudah selayaknya kita memberikan perhatian lebih pada aksi perundungan ini. Karena, anak-anak kita berpotensi terlibat dalam tindakan ini, entah sebagai korban, atau malah sebagai pelaku.

Menyoal pelaku perundungan

Selama ini kita cenderung fokus pada pada korban perundungan. Simpati berbagai kalangan semua tercurah pada mereka. Tapi jangan lupa, pelaku perundungan sesungguhnya layak mendapatkan perhatian yang sama besarnya.

Beberapa penelitian menyebutkan, kecenderungan seseorang untuk menindas orang lain tidak datang dengan sendirinya. Pelaku tak selalu menunjukkan tanda yang mengarah pada perilaku agresif atau menguasai orang lain. Tidak jarang, anak yang terlihat baik dan penurut di rumahnya, berubah agresif ketika di luar rumah dan jauh dari pengamatan orang tuanya.

Orang tua akan sedih jika anaknya menjadi korban perundungan. Sebaliknya, ketika anaknya justru menjadi pelaku, orang tua menunjukkan perasaan kecewa yang mendalam. Kecewa terhadap anaknya yang menjadi pelaku bullying, sekaligus kecewa pada diri sendiri karena merasa gagal mendidik anaknya.

Lalu, bagaimana cara untuk mengantisipasi agar anak tidak menjadi pelaku tindak perundungan terhadap orang lain?

  1. Membangun komunikasi yang positif akan membuat anak merasa nyaman berada di dekat orang tuanya. Anak memiliki kebutuhan untuk didengarkan, dipahami jalan pikirannya, dan dihargai sudut pandangnya, yang mungkin berbeda dengan orang tuanya. Ketika merasa dihargai sebagai dirinya sendiri, seseorang cenderung memperlakukan orang lain dengan cara yang serupa.
  2. Membangun iklim kompetisi yang sehat di antara saudara dalam keluarga. Yang perlu dikembangkan adalah sportifitas, bukan senioritas. Orang tua sebaiknya berlaku adil dan proporsional terhadap semua anaknya, tidak pilih kasih atau membedakan perhatian antara kakak dan adik. Anak yang terbiasa hidup dalam keluarga yang demokratis akan menjunjung tinggi kesetaraan di antara teman-temannya.
  3. Ajarkan kepada anak-anak untuk mengasah kepedulian terhadap orang lain, terutama mereka yang kondisinya kekurangan. Ajarkan pada anak bahwa Tuhan menciptakan makhluk dengan berbagai ragam bentuk dan kepandaiannya.
  4. Ajarkan kepada anak cara mengungkapkan rasa kesal dan marah dengan tepat. Jangan melarang anak untuk marah. Arahkan mereka untuk menyalurkan kemarahannya dengan sehat dan bertanggung jawab.
  5. Ajak anak berdiskusi tentang aksi perundungan. Kasus-kasus yang terjadi bisa menjadi contoh bahwa sikap merendahkan hanya akan membawa penderitaan bagi orang lain. Jadikan itu sebagai refleksi sekaligus pengingat, bahwa merundung itu tindakan yang tidak baik.
  6. Lakukan pendampingan saat anak menonton televisi, membuka internet, memainkan game. Anak belajar dengan cara meniru. Kekerasan yang ditontonnya rentan ditiru dan dipraktekkan pada kawan-kawannya. Jika tak didampingi, lama-kelamaan anak akan menganggap kekerasan adalah hal biasa.

Bagaimanapun, rumah adalah benteng pertama bagi anak-anak. Di dalam benteng ini, orang tua yang mengemban tanggung jawab utama dalam melindungi sekaligus membentuk karakter dan akhlak anak-anaknya. Jika semua itu tersedia, niscaya keinginan untuk merundung orang lain jauh dari pikiran anak-anak kita.(nf)