Oleh: Mugniar
http://www.mugniar.com

Walaupun baru dua kali ke Gorontalo dan tak pernah menyaksikan malam pasang lilin (tumbilotohe) pada menjelang malam lebaran, saya juga menganggap Gorontalo sebagai tanah saya. Dalam diri saya, sebagian mengalir darah Gorontalo. Bisa dibilang, saya mengerti bahasa Gorontalo secara pasif karena ibu saya merupakan native speaker-nya dan saya akrab dengan cita rasa Gorontalo melalui ile’e, bilenthango, binthe biluhuta, dabu-dabu, tili aya, cara isi, ilahe, ilabulo, kua bugis, kue kerawang, dan lain-lain. Saya juga akrab dengan baju karawo dan sapaan hangat “No’u”.

Banyak hal menarik di Gorontalo tetapi di televisi nasional, Gorontalo lebih banyak muncul untuk kabar buruk. Ini yang ketiga kalinya saya dengar/lihat berita buruk dalam setahun lebih terakhir ini di televisi (sekadar informasi, ketiga berita itu tentang pembunuhan, perkosaan, dan child trafficking). Sedihnya lagi, ketiga berita itu melibatkan perempuan dan anak sebagai pelaku dan korban! Yah, beginilah nasib daerah pelosok Indonesia Timur.

Benteng Otanaha Gorontoalo

Kota kelahiran dan tempat tinggal saya – Makassar pun mengalami sering mendapat cap buruk. Saya punya banyak cerita mengenainya yang diasosiasikan dengan kekerasan atau tawuran. Salah satunya mengenai tidak akan diterimanya pelamar kerja asal kampus di Makassar pada sebuah perusahaan. Cerita lainnya adalah mengenai beberapa kawan blogger dari daerah lain yang mengakui bahwa persepsi mereka tentang Makassar tak jauh dari kekerasan dan tawuran.

Bukan salah mereka, sih. Sering kali terjadi, kalau ada berita buruk di sini, pemberitaan televisi jadi seperti api yang makin ditiup. Besar dan heboh!

Sedih, deh.

Namun saya bersyukur, ada kawan-kawan blogger yang mengakui telah mendapatkan pencerahan tentang Makassar melalui tulisan-tulisan yang di-post blogger Makassar seperti saya. Ada juga yang mengatakan, “Kalau dengar kata ‘Makassar’ jadi ingat Mbak Mugniar.”

Ahhay, ini membuktikan bahwa blogger juga merupakan jurnalis warga!

Oya, saya mau memberi sedikit gambaran lagi. Ibu saya yang merantau dari Gorontalo ke Makassar sejak awal tahun 1960-an, selalu menajamkan pendengarannya ketika nama Gorontalo disebut di televisi. Keluarga Gorontalo yang berada di kota ini pun demikian. Namun ketika berita buruk yang muncul, betapa sedihnya mereka. Lalu mereka memperbincangkannya dengan rasa duka yang mendalam. Saat mendengar berita pembunuhan itu, ibu saya bahkan sampai menangis karena ia mengenal korbannya. Ah, jangankan mereka, saya yang lemah ikatannya dengan Gorontalo pun turut sedih.

So, para blogger yang berdomisili di Gorontalo … sudahkah bangun dari tidur panjangmu?

Ini kesempatan kalian menjadi duta daerah dan menyampaikan kepada dunia bahwa Gorontalo tidak sebatas layar televisi. Blogger bisa jadi jurnalis warga (citizen journalist), kan, ya? Saya dan blogger-blogger lain yang berdarah Gorontalo namun jauh dari Gorontalo, tak bisa cerita banyak tentang Gorontalo. Hanya kalianlah yang bisa.

Blogger Gorontalo, bangkitlah. Ayo jadi penyeimbang berita-berita negatif itu. Demi Hulonthalo kita!

Makassar, 23 Juli 2016