Sampah merupakan persoalan serius di berbagai tempat. Mulai dari permukiman tempat tinggal warga, daerah perkantoran, hingga kawasan wisata. Rasanya tidak ada satupun tempat yang tidak menghasilkan sampah. Sampah yang menumpuk dan tidak dikelola dengan baik tentunya selain menjadi sumber penyakit, juga akan membuat lingkungan tidak enak dipandang. Bencana banjir yang belakangan ini terjadi pun disebut-sebut berawal dari kebiasaan masyarakat yang sering membuah sampah tidak pada tempatnya.

                Di sejumlah daerah, upaya pengelolaan sampah dengan benar kini mulai ditanggapi serius. Mulai dari semakin banyaknya disediakan bak-bak sampah di ruang publik, edukasi tentang bagaimana memilah sampah berdasarkan jenisnya, hingga didirikannya bank sampah. Bank Sampah merupakan tempat dimana nasabah dapat memberikan setoran berupa berbagai jenis sampah, sesuai ketentuan masing-masing bank sampah. Dan nantinya dapat menarik tabungan tersebut dalam bentuk uang tunai, maupun aneka produk hasil pengolahan sampah di sana.

                NTB, tepatnya di Pulau Lombok, sudah hadir pula bank sampah seperti yang dimaksud di atas. Salah satunya yaitu Bank Sampah NTB Mandiri. Bank Sampah ini didirikan pada tahun 2011 silam oleh seorang perempuan pemerhati lingkungan bernama Aisyah Odist. Hingga kini, Bank Sampah NTB Mandiri telah memiliki lebih dari 37 mitra, ratusan nasabah, serta mempekerjakan sebanyak 8 orang karyawan. Menariknya, Mbak Aisyah hanya memilih mereka para penyandang disabilitas untuk bekerja sebagai karyawan di Bank Sampah NTB Mandiri. Hal tersebut bertujuan untuk memberikan ruang bagi mereka untuk berkarya.

                Sejak tahun 2011, Bank Sampah NTB Mandiri yang dikelola oleh Aisyah Odist telah mengolah berbagai jenis sampah menjadi aneka produk bermanfaat. Pembeli produk yang dihasilkannya tersebut pun tidak hanya warga lokal, tetapi juga warga asing yang kebetulan sedang datang berwisata ke Lombok. Mbak Aisyah pun sering diundang untuk mengikuti pameran yang berkaitan dengan sampah, dari kegiatan tersebut beliau bisa memamerkan produk yang dihasilkan oleh Bank Sampah NTB Mandiri yang selama ini dikelolanya. Hingga akhirnya produk-produk tersebut bisa dikenal luas.

                Kemudian jika ditanya, sampah jenis apa saja yang bisa diterima di Bank Sampah NTB Mandiri? Saat saya mengajukan pertanyaan ini ke Mbak Aisyah, dengan mantap beliau menjawab: semua jenis sampah. Ya, baginya tidak ada sampah yang tidak berguna. Sampah anorganik seperti plastik, kertas, dan lainnya dapat diolah menjadi tas, bantal, dompet, tikar dan masih banyak lagi. Sementara sampah organik seperti sampah-sampah dari dapur, dapat diolah menjadi pupuk yang bermanfaat bagi tanaman. Aneka produk bermanfaat tersebut bisa kita lihat di lokasi berdirinya Bank Sampah NTB Mandiri, tepatnya di Jln. Leo No.24 Ampenan, Mataram. Ingin membeli langsung produk-produk olahan sampah di sana? Bisa!

                Kita semua berharap semakin banyak berdiri bank sampah lainnya baik di Pulau Lombok, maupun di daerah lain di luar sana. Tidak hanya semakin banyak, aktifnya sebuah bank sampah tentu akan sangat memberikan dampak positif bagi permasalahan sampah yang selama ini sulit ditangani. Karena dengan semakin banyaknya masyarakat yang sadar akan pengelolaan sampah yang baik, maka akan tercipta pula lingkungan yang bersih dan sehat. Sebagaimana awal berdirinya Bank Sampah NTB Mandiri ini, yang didirikan sebagai bentuk keprihatinan akan banyaknya masyarakat, utamanya yang tinggal di daerah sekitar kampung tempat Bank Sampah NTB Mandiri berada yang belum sadar akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

             Dengan kehadiran Bank Sampah NTB Mandiri ini, Mbak Aisyah berharap agar tidak hanya kesadaran masyarakat yang dapat terbentuk, tetapi juga mereka memiliki keterampilan untuk mengelola sampah menjadi sesuatu yang bernilai jual tinggi bahkan  bisa bersaing di tingkat internasional.  Jika semakin banyak masyarakat yang sadar dan memiliki keterampilan tersebut, bukan hal yang mustahil bahwa Bank Sampah NTB Mandiri dapat menjadi solusi atas permasalahan sampah di Pulau Lombok.(ah)