Apakah kita mau sekedar melihat kelemahan sebuah buku? Ataukah kita hendak melihat buku sebagai sebuah posisi atau sebuah perjalanan. Pada 22 Desember 2017, telah diselenggarakan bedah buku dengan judul “Perempuan Perspektif Sosiologi Gender”, di FISIP UI, dengan moderator Lugina Setyawati, dan pembicara Anie Soetjipto dan Mia Siskawati. Pertemuan ini terasa kekeluargaan. karena ada dress code unik, para pembicara dan panitia dan beberapa orang yang hadir menggunakan tenun ikat. Tenun ikat merupakan hadiah  Keluarga Seda pada perempuan dan pada Indonesia. Kepada perempuan, karena mereka menghasilkan karya ini dan  Ery dan Nessa menerbitkan buku tentang Tenun Ikat, sebuah hadiah dan penghargaan pada koleksi yang dikumpulkan oleh ibu Yohana Seda. Buku ini merupakan peringatan 1000 hari berpulangnya ibu Yohana. Bagi Ery, sang ibu memberikan wawasan dan inspirasi, teringat kata kata ibunya bahwa Ery berada pada tempat yang salah untuk tiga hal; karena perempuan, karena agama dan karena pekerjaan. Di dalam masyarakat yang patriarkal, ketiga hal ini merupakan representasi dari keberadaan dan pengalaman perempuan. Kesadaran ini yang membuat Ery sangat berhati-hati menjaga tindakan dan perkataannya, masyarakat seringkali salah dengan melihat perempuan sebagai “lawan” dari laki-laki.
Sedikit pengantar untuk buku tenun ikat tersebut, buku cantik ini berisi tentang teknik tenun ikat dan beberapa ilustrasi yang diambil dari koleksi ibu Yohana. Di dalamnya, kita bisa menghayati kecintaan ibu Yohana kepada tenun ikat dan bagaimana beliau menambah koleksinya. Diawali oleh kebiasaan dari NTT di mana tamu diberikan buah tangan berupa tenun, sebagai rasa bersahabat dan penghargaan, ibu Yohana mendapatkan banyak sekali kain tenun ikan dan kemudian menjadikannya kecintaan. Melalui cinta ibu, kita bisa menikmati dan menghargai tenun ikat. Koleksi ibu Yohana membawa kita pada kekayaan dan karya perempuan dan tidak terbatas pada kain dari NTT, tetapi juga tapis Lampung dengan gambar yang tidak dapat ditemukan lagi pada saat ini.
Kembali pada kegiatan bedah buku, Nah buku Ery perlu dilihat sebagai sebuah posisi dan sebuah perjalanan seorang perempuan, akademisi. Buku ini berisi perjalanan dan pandangan pandangan Ery Seda, tentang perempuan di dalam perubahan sosial masyarakat Indonesia. Buku ini merupakan kumpulan artikel terpilih dari beberapa sumber yang sudah diterbitkan dan yang tidak diterbitkan, dalam rentang yang cukup panjang 2003-2013. Inspirasi tulisan ini menggambarkan kegiatan dari penulisnya yang bekerja sebagai dosen dan pegiat di gerakan perempuan, dan juga kontribusi beliau di dalam kegiatan keagamaan.
Ery membuka dialog ini dengan menceritakan penghayatan dan penghargaannya kepada Tjut Nyak Dien. Kutipannya kata kata bermakna diambilnya dari Tjut Nyak Dien, menunjukan keluasan jangkauan perhatiannya. Tjut Nyak Dien adalah perempuan yang berlaga memimpin pasukan laki-laki. Artinya dia mengatasi keterbatasannya sebagai perempuan dan halangan karena peran perempuan yang lekat dengan ruang domestik, dan masuk serta memimpin ruang laki-laki.
Diskusi dimulai dengan paparan dari Anie Soetjipto, yang menceritakan hangatnya pertemanan dengan Ery yang sudah berlangsung bertahun-tahun, Ery adalah sosok yang serius, oleh karena itu Anie menyiapkan cukup bahan sebagai pengisi dialog dan diskusi.  Bersama sama beberapa teman perempuan, berdasarkan narasi dari Anie Soetjipto, Ery dan Anie merupakan salah satu dari aktor yang membidani Cetro. Mereka bersama-sama bangkit menyiapkan mekanisme demokrasi Indonesia pasca Reformasi, selain mendukung demokrasi, mereka juga memikirkan tentang representasi perempuan di dalam ruang politik. Kata penting yang perlu digarisbawahi adalah pengalaman perempuan, yang seringkali perempuan terlupakan sebagai elemen penting di dalam politik. Pengalaman perempuan seringkali terlewatkan, karena dipandang tidak penting dan urusan yang remeh temeh, padahal data dan informasi menunjukkan bahwa perempuan perlu maju dan berkembang. Pengalaman perempuan merupakan gambaran yang perlu diangkat, untuk meningkatkan representasi perempuan. Untuk meningkatkan representasi perempuan, maka  dibutuhkan upaya affirmative action, untuk mendukung perempuan. Affrimatice action tidak terbatas pada 30 % keterwakilan perempuan karena, dalam kata katanya, Ery juga percaya pada mekanisme perempuan pilih perempuan untuk mengangkat representasi perempuan. Kenyataannya, walaupun sudah didampingi dengan mekanisme affirmative action, representasi perempuan masih rendah
Paparan Anie Soetjipto sangat menggugah, di mana pengalaman  perempuan mampu menghasilkan energi yang luar biasa. Ketika 1998, di dalam reformasi terdapat beberapa perempuan Cina yang mengalami perkosaan. Anie yang ahli politik Cina, tidak dapat menjawab pertanyaan teman-temannya, “kenapa Cina, kenapa perempuan, kenapa pada masa reformasi?”. Hubungan Internasional adalah jurusan yang membicarakan yang besar-besar; negara, diplomasi dan lainnya. Seakan tidak ada orang di dalamnya. Kenyataan ini yang menjadi energi dibalik kegiatan Anie yang sangat beragam; dosen, pegiat perempuan, dan lainnya.
Bagian pertama buku ini memetakan situasi perempuan Indonesia, kecuali datanya yang menggunakan data 2004, paparannya penting, karena dibaca sebagai gambaran dari struktur sosial masyarakat Indonesia. Kadang kala data dipergunakan untuk menggambarkan tentang posisi perempuan Indonesia, tetapi tidak dikaitkan dengan struktur sosial yang ada. Struktur sosial perempuan dipertimbangkan ketika melihat peran dan posisi perempuan, tidak terlihat dan bahkan tidak diindahkan.
Dalam struktur budaya yang berkaitan dengan perkawinan, Mia Siskawati menggambarkan situasi buruk perempuan Indonesia. Dengan mengutip kalimat yang diperoleh dari Konferensi Perempuan Indonesia 1 tahun 1928, masalahmya masih serupa; perkawinan anak, poligami, kemiskinan. Artinya tidak banyak perubahan. Bahkan Anie Soetjipto menggarisbawahi dengan menyatakan “kita kalah di semua lini”.
Mengapa demikian karena masalah budaya, menurut Ery tidak banyak diperhatikan. Perubahan yang diperhitungkan adalah perubahan sosial misalnya representasi politik. Melalui sistem kuota sudah diperoleh perempuan di legislatif, akan tetapi seperti tidak berdampak. Mereka hadir masih di dalam badannya namun belum dengan kepentingan, serta kebutuhannya, apalagi pemikirannya.
Para pembahas dan Ery sendiri menceritakan dan menarasikan masalah perempuan dengan sangat kendalam.  Diskusinya berkembang, tetap konstruktif dan membangun. Kesimpulan yang dapat diangkat adalah adanya kecenderungan bahwa kegiatan perempuan adalah ruang publik yang perlu dikembangkan dengan juga bagi perempuan lain. Ini adalah strategi yang strategis untuk maju bersama-sama dengan kecepatan dan kegiatan yang berbeda-beda. Cara seperti ini tidak terhindarkan karena perempuan memiliki keberagaman, sehingga memfasilitasi kepentingan-kepentingan yang ada. (Widjajanti Santoso)