Batik kini semakin digemari. Nah, sebagai perempuan, kita wajib nih punya kain batik Truntum karena terkandung makna filosofi yang sangat indah di baliknya. Ini penjelasannya.

Masih ingat ungkapan “Di balik kesuksesan seorang pria, ada wanita hebat di belakangnya”? Lalu, siapa di balik keberhasilan seorang wanita, apakah ada keterlibatan seorang pria? Dua pertanyaan tersebut saling berkorelasi, sebagaimana Tuhan menciptakan manusia untuk berpasang-pasangan. Tapi bagaimana jika ungkapan tersebut diubah menjadi “Di balik kesuksesan seseorang, ada masalah kekosongan yang dihadapinya”?

harmony-001-diambil-dari-lovespellsdotcom

Jika suami/pasangan berselingkuh atau menikah lagi, terbayang, kan, betapa hancurnya hati  wanita tersebut.  Dunia seolah-olah ambruk, kehidupan pun berjalan terseok. Contoh lain, kesibukan rutinitas pria yang bekerja, kerap mengabaikan istri dan anak-anaknya. Tidak sedikit, terlebih lagi di era social media, para istri mencari kekosongannya di facebook, twitter, path. Awalnya untuk menghilangkan kesepian, kemudian ia malah selingkuh dengan teman semasa SMA-nya. Ada juga wanita yang menumpahkan perasaannya dengan berbelanja yang menghabiskan jutaan rupiah tiap kali belanja.

Ada pula  rasa hampa yang terjadi setiap hari membuat seorang wanita menuangkannya ke dalam kain kosong. Mari, kita berjalan-jalan ke abad 18, ketika Sunan Pakubuwana III Surakarta Hadiningrat berkuasa dan disibukkan urusan kerajaan. Istrinya, Kanjeng Ratu Kencana merasa diabaikan oleh kesibukan kerja Sunan Pakubuwana III. Ditambah kesibukan Sunan meladeni selir-selir barunya. Maka lupalah Sunan pada istrinya. Barangkali, penyebab kedua ini, yang membuat hidup Kanjeng Ratu menjadi kian tawar dan kosong. Dan, malam hari bagai ribuan tahun yang tak pernah usai.

Banyak di antara kita sering merasa sangat kesepian  di malam hari, begitu juga Kanjeng Ratu. Beliau hanya memandangi langit dan bintang-bintang di malam hari. Suatu malam, ditemani semerbak wangi bunga Tanjung, tiba-tiba Kanjeng Ratu ingin melukis untuk menumpahkan segala perasaannya. Pada saat itu, masyarakat suka mengekspresikan perasaannya melalui batik.

Kain putih kosong menjadi sasaran tumpahan rasanya yang juga kosong. Cintanya yang besar kepada suami berbaur menjadi simbol langit, bintang, dan bunga Tanjung. Suatu hari, lembar-lembar kain itu menggoda Sunan Pakubuwana III untuk meliriknya. Gambaran bintang dan bunga Tanjung menyentuh hati Sunan hingga dirinya terpaku. Timbul lah rasa bersalah Sunan selama ini karena meninggalkan istrinya. Dan cinta Sunan Pakubuwana III kepada Kanjeng Ratu Kencana, kembali bersemi.

Karya lukis sang ratu tersebut dikenal dengan Batik “Truntum” yang berarti “bersemi kembali”, “tumbuh kembali” atau “semarak kembali”.

batiktruntum-google

Motif batik Truntum menjadi lambang romantika (lika-liku) cinta antara dua manusia. Proses lukis bintang-bintang kecil pada batik Truntum butuh kesabaran dan ketelatenan. Yang terkait filosofi dengan lambang kesetiaan, kesabaran, ketulusan, pertumbuhan yang terus berlangsung, dan harmoni. Dan Truntum menjadi simbol cinta Kanjeng Ratu Kencana kepada Sunan Pakubuwana III. Bukan gambar hati yang menjadi simbol seperti zaman sekarang ini.

Mengisi yang kosong. Inilah tahap awal pada proses membatik. Ibarat hati yang kosong diisi oleh desain-desain dan meletakkan elemen motif dasar rasa dan pikiran.  Berlanjut ke tahap berikutnya, memberikan “isen-isen” tuk mengisi ruang-ruang di antara elemen-elemen motif. Tahap akhir, mengisi ruang-ruang di antara batik yang terlihat masih kosong dengan memodifikasi pola isen .

Desain merupakan pikiran dan hati sedangkan elemen motif ialah lambang/simbol yang kita lihat di sekitar maupun alam semesta. Isen-isen menaburkan titik-titik maupun garis-garis  melengkapi kesinambungan tema yang akan membuahkan keindahan . Proses  terakhir, harmonisasi secara keseluruhan yang bisa diartikan telah berdamai – mencapai tingkat keselarasan.

Motif batik Truntum memancarkan bagaimana kita memandang romantika cinta. Hanya saja pola pandang masyarakat sekarang ini berbeda dengan masyarakat yang hidup di zaman tradisional. Apakah kita masih memegang kesabaran menghadapi problema kehidupan berumahtangga maupun percintaan di antara percikan media sosial? Belum lagi tambahan ‘kompor’ dari teman/keluarga/rekan/tetangga. Tidak jarang juga kondisi keuangan makin membebani kehidupan berkeluarga maupun orang yang masih single.

Seringkali masalah yang sedang dihadapi memanfaatkan media sosial dengan melakukan perilaku berdampak negatif.  Juga tanpa media sosial, wanita kerap melakukan sesuatu yang malah merugikan. Bukan saja perihal rumah tangga, urusan politik, ekonomi, pendidikan, sosial, dan lainnya, harmonisasi bagai sirna ditelan raksasa.

Kekosongan hati atau hidup bisa diisi dengan berkarya seperti yang dilakukan Kanjeng Ratu Kencana. Tidak semua wanita harus bisa membatik. Karya seni bukan hanya membatik, tapi juga berbisnis, membangun komunitas, mendirikan perpustakaan/kios ketrampilan, menulis, menjahit, ataupun berkarir. Semakin Kanjeng Ratu merasa kalut, dirinya membenamkan diri pada lukis batik.

Menghasilkan karya merupakan proses perjalanan yang melibatkan energi rasa dan tubuh. Dalam seni visual batik, mempunyai konsep harmoni dan keseimbangan. Harmoni dan keseimbangan mengisi kekosongan dan kehampaan yang terkumpul dari energi-energi rasa, pikiran, dan tubuh. Setiap pengerjaan sampai selesai, melalui  proses layaknya metamorfosa kupu-kupu. Waktu demi waktu, keuletan demi keuletan, kesabaran demi kesabaran berbasis pada apa yang ada di badan dan apa yang ada di hadapannya. Kemudian muncul budaya berkarya.

Budaya berkarya merupakan bagian dari harmoni dan keseimbangan hidup. Jika pola sikap dan perilaku ini menularkan virus positif ke banyak orang, betapa indah, tentram, dan sejahteranya negeri ini.  Seperti kita ketahui, budaya bukan sekadar batik, bangunan candi, kain songket, kuliner nusantara, arsitektur rumah adat, upacara adat, tapi juga  akal budi. Cara kita berbahasa (berkomunikasi), berperilaku, pandangan, berbangsa, dan bersosialisasi, merupakan bagian dari budaya. Dan proses berkarya bisa membuahkan individu-individu yang berbudaya dalam artian luas.

Lalu, apa arti sukses buat kita?

Albertheine Endah pernah diwawancara oleh salah satu majalah wanita  mengenai pengalamannya menulis biografi orang-orang sukses.

“Selama saya mewawancarai mereka, justru mereka mengartikan sukses bukan dari jumlah rumah, harta, uang, dan karier. Tapi sukses itu tersenyum bahagia karena duduk bersama dengan orang-orang yang kita cintai.”(sn)