Setiap orang tua selalu ingin anaknya bertumbuh kembang dengan baik. Apalagi terhadap anak bayi yang setiap bulan pertambahan umurnya senantiasa memberikan kejutan dengan berbagai tingkah pola yang menakjubkan. Pencapaian terbesar bayi adalah saat ia mulai bisa berbicara dan juga berjalan. Berbagai stimulasi diberikan kepada bayi agar lebih cepat melakukan hal tersebut, terutama dalan hal berjalan. Karena saat bisa berjalan, bayi tidak perlu lagi terus-terusan digendong.

Seringkali dijumpai penggunaan baby walker pada bayi dengan harapan bayi cepat dapat berjalan karena dengan baby walker, kaki bayi ‘dipaksa’ untuk melangkah. Tetapi tanpa disadari, penggunaan baby walker ini ternyata malah dapat membahayakan buah hati. Benda yang memiliki kerangka keras beroda tanpa rem ini bisa saja meluncur bebas. Penggunaan baby walker telah dikenal sejak abad ke-17. Laporan dari American Academy of Pediatrics tahun 2001 mengatakan bahwa sebanyak 8800 anak dibawah usia 15 bulan mengalami cedera akibat penggunaan baby walker. Bahkan dilaporkan 34 bayi meninggal antara tahun 1973-1998 akibat jatuh dan mengalami cedera kepala.

Baby walker menjadikan bayi leluasa bergerak dan menggapai benda-benda berbahaya seperti kabel dan pisau di atas meja. Selama berada dalam baby walker, bayi memiliki risiko mengalami luka kepala, patah tulang, jalan jinjit, engsel atau tulangnya bergeser, menjadi malas belajar berjalan hingga luka bakar. Luka- luka tersebut bisa terjadi apabila:
Baby walker jatuh turun di tangga
Baby walker terjungkal saat melewati permukaan yang tidak rata
– Bayi dapat menggapai minuman panas, ceret atau setrikaan
– Bayi menggapai ember
– Dll
Bisa dibayangkan bagaimana bayi yang dapat dengan cepat bergerak menggunakan baby walker menggapai benda-benda yang telah diletakkan di tempat tinggi.

Berdasar tulisan dr. Irwanto, baby walker tidak membantu bayi cepat berjalan. Baby walker justru mengurangi keinginan bayi untuk berjalan karena adanya alternatif yang mudah yaitu berjalan dengan baby walker. Penggunaan baby walker juga menguatkan otot yang salah. Kedua tungkai bawah memang diperkuat, tetapi tungkai atas(paha) dan pinggul tetap tidak terlatih, padahal kedua tulang tersebut penting saat berjalan. Bayi juga tidak belajar untuk menyeimbangkan badan saat berdiri karena saat di baby walker bisa berjalan dengan cara duduk selain itu bila diperhatikan, kebanyakan bayi berjalan dengan ujung kaki saat menggunakan baby walker. Hal ini bisa menjadi kebiasaan bayi ketika tidak lagi menggunakan baby walker.

Tanpa baby walker, bayi lebih leluasa mengeksplorasi kemampuan dirinya. Kemampuannya pun berkembang secara bertahap seperti,
– Belajar duduk dan belajar bergerak antara duduk dan merangkak
– Belajar bergerak dari duduk ke melutut dengan berpegangan
– Dari melutut bayi belajar untuk menarik diri hingga posisi berdiri
– Belajar berdiri dengan berpegangan untuk menguatkan otot-otot yang nantinya dipakai untuk berjalan
– Belajar keseimbangan saat terjatuh dan mencoba berdiri kembali

Penggunaan baby walker jika pun terpaksa harus diawasi oleh orang tua karena baby walker bukanlah penjaga bayi. Biarkan bayi memiliki waktu lebih lama untuk bermain di lantai hingga saatnya nanti ia mampu berdiri dengan kemampuannya sendiri. (anindita)

Referensi: http://www.idai.or.id/atikel/seputar-kesehatan-anak/penggunaan-baby-walker