Kenali anak speech delay autis atau bukan

Sebuah fenomena di era digital (sebuah benda canggih) yang menyuguhkan komunikasi satu arah, mengakibatkan kurangnya komunikasi secara tatap muka. Orang-orang dewasa tampaknya sangat menikmati dunia digital ini, mereka dimanjakan dan banyak diringankan karena tidak terlalu repot-repot ketemu orang yang ingin diajaknya melakukan kegiatan. Tetapi berbeda manfaat jika komunikasi era digital dilakukan oleh anak usia di bawah tiga tahun. Si anak memang tersenyum riang dan menikmati, tapi dampaknya akan buruk bagi perkembangan bahasa mereka.

Di dalam perkembangan anak, menurut perkembangan proprium (kumpulan dari tujuh aspek yang berkembang sejak lahir hingga dewasa), pada tingkatan anak usia di bawah tiga tahun, ia akan belajar menamai objek, menggunakan bahasa, dan mengenal nama diri. Pelajaran seperti itu jika pada masanya ternyata hanya disuguhkan oleh orang yang didekatnya dengan dunia digital, tanpa peran orangtua dan lingkungannya untuk mengarahkan belajar berbahasa, maka si anak tidak akan dapat belajar dengan maksimal.

Orangtua adalah orang terdekat bagi si anak, hendaknya dapat memberikan pendampingan untuk belajar berbicara. saya teringat cerita teman saya yang telah terbiasa menjadi penterapi bagi anak-anak autis, ia kebetulan mendapat keluhan dari si nenek anak tersebut bahwa cucunya menderita autis, autisnya kentara sebab cucunya belum dapat berbicara saat usianya tiga tahun. Sebenarnya ini hanya dugaan. Karena si kakak anak itu di masa kecilnya juga mengalami terlambat berbicara, jadi anak itu diklaim autis, padahal teman saya tadi ketika mendatangi rumahnya, ia datang sebagai guru penterapi si anak, lalu teman saya mengamati, ia hanya mengoceh tanpa ada kata yang memiliki arti. Dugaan teman saya ia tidak autis, mengapa? Karena kebiasaan orangtuanya dalam memperlakukan anak sehari-hari, si anak tidak diajak berbicara sama sekali.

Loh kok bisa? Si anak tidak diajak berbicara. Sejak kecil, sejak baru dilahirkan, anak itu tidak dirawat oleh sang ibu, melainkan dititipkan kepada perawat atau babysister. Karena keluarganya mampu, si ibu tidak perlu repot-repot merawat, tapi bagaimana jadinya saat dijaga oleh ibu asuh? Kasih sayang ibu kandung dengan kasih sayang ibu asuh jelaslah berbeda. Seorang ibu yang telah melahirkan anaknya tentu mempunyai perasaan yang berlebih dan berkeinginan anaknya berkembang secara normal, jika ibu kandungnya saja tidak mau merawat padahal mampu, ibu asuh justru akan lebih tega untuk membiarkan si anak bermain sendirian asalkan tenang, tidak menangis. Wal hasil, ibu asuh setiap kali si kecil nangis, ia diberikan permen atau bermain HP, lalu si anak diam. Itu yang dilakukan berulang-ulang.

Menurut cerita teman saya, si anak kakaknya dulu hanya menderita speech delay juga. Karena pada akhirnya kakaknya dapat berbicara normal, hanya saja berpikirnya agak terlambat. Disebabkan terlambatnya mengobati speech delay-nya. Anak autis dengan speech delay tentu berbeda. Jika keterlambatan berbicara si anak dikarenakan autis, itu berarti si anak sudah menderita terlambat berbicara sejak dalam kandungan. Tetapi jika ternyata karena keterlambatan berbicara bukan disebabkan penyakit bawaan, berarti ia dapat lebih mudah untuk diobati. Keterlambatan ini dikarenakan pola asuh dari orangtuanya.

Lebih meyakinkan lagi, si anak tadi yang berusia kurang lebih tiga tahun tidak menderita autis adalah karena pengasuhnya kurang mengajaknya berbicara, dan ketika ingin menidurkan si anak, hanya dengan memberikan HP dan membiarkan hingga tertidur. Coba bayangkan, anak tadi berlama-lama bermain hp dalam sehari, lalu kurangnya komunikasi, ia tidak akan mendapat materi untuk belajar berbicara.

Pola asuh sangatlah penting untuk perkembangan anak. Di dunia digital, jangan biarkan anak kita terpapar dampak negatifnya. Ada banyak segudang manfaat dunia digital, tetapi ada ribuan gudang negatif dari dunia digital. Di era modern memang penting, si anak mendapatkan pelajaran dari benda elektronik, namun ada baiknya orangtua dapat memantau mereka dalam menggunakan dunia yang satu ini. Jika anak hanya mendapatkan komunikasi satu arah, terutama pada usia anak di bawah tiga tahun, akan menghambat perkembangan bahasa. Lalu tips apa agar anak menjadi seimbang dalam pelajaran dunia digital?

Sebenarnya untuk mengontrol perkembangan berbicara pada anak usia di bawah tiga tahun, di dunia digital ini sangatlah mudah. Yaitu dengan seringnya anak mendapatkan komunikasi dua arah. Ajaklah anak bermain-main dengan kata, ajaklah anak mengenal nama-nama objek atau benda, sering mengajak berbicara, jangan biasakan bermain hp, ajak anak bermain yang sederhana seperti “ciluk ba”, ajari anak menyedot air dengan sedotan, atau meniup peluit, agar syaraf dalam mulut terbiasa bergerak dan dapat digunakan untuk berbicara.

Pada dasarnya yang mengakibatkan speech delay, selama ia tidak menderita autis adalah pola asuh orang terdekatnya. Jika si anak tidak dibiasakan bermain hp atau digital, namun si orangtua bisu, si anak juga tidak akan dapat berbicara. Gambaran gampangnya, ada anak manusia yang tinggalnya di hutan bersama hewan dan tumbuhan, si anak tersebut dapat berbicara layaknya hewan-hewan itu. Jadi jangan sampai orangtua salah mengasuh anak, memang tidak dapat dipungkiri, di era ini anak sedikit banyak akan mengenal dunia digital, lantas jangan menjadi alasan agar si anak diam dan ibu atau ayah yang sibuk ini dapat melaksanakan kegiatan dengan mudah, lalu anaknya dicekoki HP, TV, dan gadget lainnya. Akibatnya ya, bisa jadi speech delay.(Nur Chafshoh)