Oleh Mariana Lusia Resubun

Sebagai mahasiswa perantauan asal Merauke yang indekos di kota studi Bogor, setiap awal bulan otomatis saya pergi berbelanja kebutuhan bulanan. Jam di tangan menunjukkan angka 19.47 WIB, saya dan sahabat bergegas keluar dari kos dan menunggu angkot (angkutan kota). Udara dingin, hujan pun rintik-rintik. Sebagai penguhuni “kota hujan” selama kurang lebih 3 tahun, kami tidak kaget dengan kondisi seperti ini. Kondisi dimana pagi sampai siang cuaca cerah dan panas karena terik matahari, namun menjelang sore awan mulai mendung dan akhirnya hujan pun turun.

Angkot pertama yang lewat langsung kami setop, angkot jurusan Ciampea – Laladon. Tujuan kami adalah pasar modern Jogja Dramaga, satu-satunya penumpang sebelum kami adalah seorang bapak berambut putih yang saya taksir berumur 50an tahun. Setelah naik dan angkot pun melaju, baru saya sadari bahwa si bapak disamping saya sedang merokok. Sebenarnya saya kesal dengan si bapak. Berhubung beliau sudah tua dan hawa dingin menusuk kulit, maka dengan pengendalian diri yang luar biasa untuk sabar. Saya beranggapan bahwa sudah “sewajarnya” bapak itu merokok di dalam angkot karena udara dingin dan hanya berdua dengan sopir. Untunglah jalan bebas hambatan, tidak ada macet dan kurang lebih 10 menit kami telah sampai di tempat tujuan.

10 menit yang cukup menyiksa bagi saya, bagaikan “buah simalakama” di dalam angkot udara bercampur asap rokok, membuat hidung tersumbat, pusing dan sesak napas. Terpaksa saya membuka jendela merasakan hembusan angin segar bercampur asap kendaraan bermotor. Di dalam benak saya, seandainya ada udara bersih kemasan tentunya saya tidak perlu menghirup asap rokok si bapak atau menghirup asap kendaraan bermotor.

Sekali lagi kesabaran saya diuji karena ketika sampai di pelataran tempat tujuan, saya melihat seorang bapak yang sedang asyik merokok sembari menunggu hujan reda. Di samping bapak tersebut duduk 2 orang anaknya, 2 orang gadis kecil yang saya taksir berumur 10 dan 6 tahun. Tidak ada usaha dari sang ayah untuk menyuruh dua orang putrinya tersebut duduk menjauh, atau sang ayah yang menjauh dari anaknya. Artinya asap rokok yang dinikmati sang bapak juga dihirup oleh kedua anaknya.

Bogor “kota hujan” yang telah bersalin rupa menjadi “kota sejuta angkot”. Di dalam benak saya sebelum berangkat ke Bogor, Bogor pasti dingin sehingga saya membawa “senjata” berupa 2 selimut tebal yang pada akhirnya hanya menjadi penghuni tetap di lemari karena tidak terpakai. Menyambung dari cerita saya di atas, yang ingin saya sampaikan adalah bagaimana perasaan anda ketika menghadapi kemacetan akibat angkutan umum yang sangat padat berebutan jalan dengan pengguna kendaraan pribadi? Belum lagi kebiasaan angkot yang “ngetem dulu” atau parkir di tempat sambil menunggu penumpang penuh.

Seakan belum cukup menguji kesabaran, ada pula penumpang pria yang seenaknya merokok di bangku depan di samping supir atau merokok di tempat kernet. Saya yang cerewet, biasanya berkata sopan “maaf pak, tolong jangan merokok”. Sebenarnya ingin kukatakan “pak, ada Peraturan Daerah No 12 Tahun 2009 untuk tidak merokok di tempat umum”, namun hanya tersimpan di dalam benak saya. Untuk menyiasati debu, polusi udara akibat asap kendaraan bermotor dan asap rokok, banyak orang menggunakan masker ketika naik angkot. Hanya satu kali saya pakai masker, saya tidak tahan karena nafas terasa sesak dan pengap. Saya butuh oksigen kemasan.

Masih soal kebiasaan merokok, saya indekos di rumah kos campur putra-putri. Seorang sahabat saya sesama perantauan adalah seorang perokok aktif, saya selalu cerewet soal kebiasaannya ini dan akhirnya kalau dia ingin merokok pasti dia mengusir saya jauh-jauh atau terpaksa menahan keinginan merokok kalau ada saya. Sahabat saya ini telah menikah dan mempunyai anak bayi, saya selalu mengingatkan dia untuk mengganti baju sebelum menggendong anaknya, karena konon asap rokok masih tersimpan berjam-jam di baju. Coba bayangkan apabila bayi merah terpapar racun dari asap rokok?

Para sahabat tahu bahwa saya benci dengan asap rokok, sehingga pasti saya diusir atau saya yang “menguliahi” mereka tentang dampak dari asap rokok bagi diri mereka sendiri atau bagi saya selaku perokok pasif. Saya sangat anti asap rokok, mungkin karena ayah dan kakak lelaki saya bukanlah perokok. Namun terkadang kondisi tidak memungkinkan saya menjadi “pemenang” dan rokok dimatikan, ada kondisi tertentu dimana saya berhadapan dengan orang yang merokok, dan saya tidak bisa menghentikannya dari merokok. Akhirnya saya “terpaksa” menghirup asap rokok dengan “berteman” tisu dan minyak angin untuk menetralisir dampak asap rokok bagi saya. Dalam kondisi seperti ini, saya butuh oksigen kemasan.

oksigen

Tahun 2010 saat berada di daerah Jember Jawa Timur, hampir di setiap desa ada petani tembakau maka tidak heran produksi tembakau dari Jember merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Menghentikan kebiasaan merokok, otomatis akan berdampak pula pada nasib para petani tembakau, pabrik rokok juga terancam “gulung tikar”. Ancaman kemiskinan dan pengangguran pun menghantui.

Lagi-lagi seperti “buah simalakama”, urusan kesehatan atau kesejahteraan kah yang harus diprioritaskan. Semua kembali kepada individu masing-masing, pilih sehat atau sakit. Tetapi kata sebagian besar perokok, ide menjadi mati tanpa rokok, rokok sebagai sumber inspirasi, rokok teman begadang yang setia dan rokok lebih setia daripada seorang kekasih. Saya pun tertawa sendiri, mengingat cerita kakak ipar yang menjual rokok di Kampung Sawa, sebuah kampung yang sangat jauh di daerah Asmat. Katanya ada seorang pemuda yang membeli rokok, tetapi dia ingin membeli rokok keluaran lama yang tidak ada gambar-gambar mengerikan penderita kanker mulut pada bungkus rokok tersebut. Artinya banyak orang tahu bahaya dan dampak buruk dari rokok, tetapi semua itu dikesampingkan demi kenikmatan sesaat. Resiko sakit dan “kantong bolong” akibat kebiasaan merokok seakan tidak ada arti.

Saya searching di internet harga 1 tabung oksigen adalah Rp 1.250.000, oksigen yang biasa disediakan di rumah sakit. Selama ini oksigen yang kita hirup adalah gratis tanpa dibeli. Saya membayangkan apabila hutan-hutan kita, baik di tanah tercinta Papua maupun di Kalimantan terus dieksploitasi secara membabi buta. Laju deforestasi dan degradasi hutan semakin tinggi, para perokok aktif semakin banyak sedangkan pepohonan dan hutan sudah tidak mampu lagi menghasilkan oksigen. Apakah kita terpaksa harus membeli oksigen? Tentunya kita membutuhkan oksigen kemasan yang bisa dibawa kemana saja dan bukan sebuah tabung yang berat. Dimanakah kita bisa membeli oksigen kemasan? Berapakah harga 1 kemasan oksigen?

Seandainya ada kompensasi bagi perokok pasif, 1 batang rokok bagi perokok aktif = 1 oksigen kemasan untuk perokok pasif. Seandainya hanya perokok aktif yang bisa menghirup asap rokoknya, asapnya ditelan sendiri sehingga tidak berdampak buruk pada orang lain atau lingkungan sekitar.

#anak kampung dari Merauke