Siapa tak kenal dengan Gedung Sate. Bangunan yang merupakan landmark kota Bandung dengan tusuk sate di puncaknya, yang sekaligus kantor pemerintahan daerah Jawa Barat ini tidak hanya megah namun menarik untuk dipelajari. Gedung ini dirancang oleh arsitek belanda J. Gerber, rampung pada tahun 1920. Tak hanya fungsinya sebagai kantor, ternyata gedung ini memiliki museum tersendiri yang dibuka untuk umum sejak 31 Januari 2018.

Sumber : Dokumen penulis

Banyak sudut-sudut foto menarik di museum ini. Desainnya yang futuristik dan modern jauh dari kata membosankan. Maket-maket yang diterangi lampu, gaya ruangan industrialis sangat terasa saat memasuki museum ukuran 500 meter persegi ini. Belum lagi banyak terdapat mural karya Bandung Sketchwalk yang cocok untuk background foto instagram-mu.

Fasilitas museum pun begitu beragam. Museum ini memiliki ruang teater. Disana pengunjung akan diberi wawasan lewat audiovisual berdurasi 10 menit. Video ini berbicara tentang perubahan tata ruang di wilayah gedung sate, sebelum dan setelah dibangun, sejarah perencanaan sampai pembangunan gedung sate pada zaman penjajahan Belanda yang melibatkan ribuan pekerja, serta jumlah 6 bulatan pada tusuk sate yang berarti 6 Gulden biaya pembangunan Gedung Sate waktu itu. Bahkan laporan keuangannya pun dapat kita lihat.

Sumber : Dokumen Penulis

Kalau mau seru-seruan ada ruangan Augmented Reality. Di ruangan ini diri kita akan terproyeksikan ke layar, beserta dengan pekerja tak kasat mata. Ruangan ini sangat menghibur, apalagi jika datang bersama teman-teman. Kita bisa bermain peran sambil mengambil video.

Kecanggihan teknologi di gedung ini juga nampak dari layar 4D yang dapat kita saksikan di tengah ruangan. Selain itu, kita juga dapat mencoba wahana VR (Virtual Reality) dan merasakan sensasi naik balon udara.

Sumber : Dokumen penulis

Konten dari museum ini banyak membahas tentang keunikan arsitektur Gedung Sate yang merupakan percampuran antara gaya Eropa dengan gaya tradisonal Indonesia. Bahkan disebutkan bahwa gedung sate merupakan gedung yang memiliki percampuran gaya yang paling kaya di dunia.

Sumber : Dokumen Penulis

Salah satunya terlihat dari detail bangunan seperti kaca patri atau kaca prisma yang digunakan sebagai penerangan alami. Benda-benda bersejarah seperti telefon kuno, banwir dan duplikat sirine gedung sate yang jangkauannya mencapai 1 km ditampilkan disini. Ada pula robekan dinding yang memberi informasi bahan dasar dinding bangunan yang berasal dari tumpukan batu gunung dari Gunung Manglayang. Gedung Sate ini pun dikenal tahan gempa karena fondasinya yang kuat.

Disini pun kita dapat belajar sejarah pergantian pemimpin di Jawa Barat. Kemudian ada 7 orang tokoh yang namanya terpampang disini karena jasanya yang besar dalam pembangunan Gedung Sate.

Selain mengenal Bandung lebih dalam di museum ini, terdapat beberapa fasilitas pendukung di sekitarnya. Sebelum memasuki museum, terdapat Coffee Shop di sebelah kiri yang dilengkapi dengan Free WiFi. Selain itu wilayah sekitaran gedung sate juga sering digunakan sebagai tempat foto prewedding.

Kekurangannya hanya terdapat pada pencahayaannya yeng memang dibuat agak redup dan letaknya yang ada di belakang gerbang utama gedung sate. Namun, masih sangat berharga untuk dikunjungi.

Museum ini sangat cocok sebagai tempat rekreasi penyegaran bagi millenials dari museum lain karena suasananya yang modern. Selain itu, hanya perlu merogoh kocek Rp.5000,- untuk dapat menjelajahi museum ini. Museum ini buka dari hari Selasa sampai Minggu pukul 09.30 – 16.00, libur di hari Senin dan Hari Libur Nasional.(rah)

Gedung Sate
Jalan Diponegoro No.22, Citarum, Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat 40115
(022) 4233347
(022) 4233347
museumgedungsate@jabarprov.go.id