Di era yang serba canggih seperti sekarang ini, segala akses yang berhubungan dengan pelayanan kepada publik, dapat diperoleh dengan mudah, termasuk segala sesuatunya yang berkaitan dengan kesehatan para pekerja. Maka dari itu, oleh negara, setiap perusahaan diharuskan memberikan kesejahteraan berupa jaminan kesehatan kepada para pekerja (pegawai) nya, yaitu dengan Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN –  KIS).

Di Indonesia, hampir semua Rumah Sakit milik pemerintah dan swasta, menerima pembayaran dengan kartu JKN – KIS. Berbagai penyakit, dapat memperoleh layanan kesehatan dengan iuran yang diambil dari gaji pekerja, yang dibayarkan setiap bulannya. Uang ini dikelola dengan sistem gotong royong, agar semua peserta JKN – KIS memperoleh layanan kesehatan yang layak, yang dimulai dari Fasilitas Kesehatan (Faskes) I misalnya Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dan Klinik maupun dokter yang telah bekerjasama dengan JKN – KIS, sampai ke Rumah Sakit.

Namun, untuk layanan kesehatan bagi pasien penyakit seperti patah tulang, sayangnya tidak bisa ditangani dengan JKN – KIS, melainkan harus dengan Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS) Ketenagakerjaan. Maka dari itu, selain Kartu Indonesia Sehat, diharapkan pekerja memiliki Kartu BPJS Ketenagakerjaan.

Seperti yang tertulis pada website resminya di www.bpjsketenagakerjaan.go.id, BPJS Ketenagakerjaan merupakan badan hukum publik yang melindungi seluruh pekerja melalui 4 program jaminan sosial ketenagakerjaan, yaitu Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Kematian, Jaminan Hari Tua, dan Jaminan Pensiun. Namun di sini, saya hanya membahas mengenai Jaminan Kecelakaan Kerja saja. Tak hanya website resmi, BPJS Ketenagakerjaan juga memiliki akun Instagram @bpjs.ketenagakerjaan.

Website resmi BPJS Ketenagakerjaan 

Tahun 2016, saya mengalami kecelakaan saat akan pulang ke rumah seusai bekerja. Kecelakaan kali ini terbilang parah, karena menyebabkan patah pada bagian paha kanan saya, berikut lutut kanan saya juga geser. Ditambah lagi pergelangan saya juga patah.

Karena orangtua saya takut dengan resiko amputasi, setelah semalaman tak dijenguk dokter spesialis patah tulang (orthopedi) di Rumah Sakit, berhubung saat itu dokternya cuti, orangtua saya memutuskan untuk membawa saya ke tukang urut patah tulang. Di rumah, saya diurut terus namun seperti tak ada perubahan, apalagi hasil yang baik, karena saya tak bisa bangun, bahkan untuk duduk. Belum lagi, saya harus mengalami panas yang naik dan turun. Setelah dilihat oleh dokter umum di dekat rumah, dikatakannya, saya mengalami infeksi. Pasalnya, karena bagian betis saya membesar dan berwarna merah namun tidak keras seperti bengkak pada umumnya. Atas sarannya, saya kembali dibawa ke rumah sakit.

Setelah dipastikan saya mengalami infeksi, saya berobat ke rumah sakit saja. Namun karena masalah saya tak dapat langsung ditangani dengan JKN – KIS, saya diminta untuk memakai kartu BPJS Ketenagakerjaan. Kedua kali, saya ke rumah sakit lainnya. Namun setelah dilakukan berbagai tes, ternyata saya ditolak lagi karena rumah sakit tersebut tak melayani pasien untuk kartu BPJS Ketenagakerjaan. Setelah saya hubungi kantor, kantor mencarikan rumah sakit yang menerima kartu BPJS Ketenagakerjaan. Alhamdulillah ketemu. Tanpa pulang ke rumah lagi setelah semalaman di rumah sakit, saya langsung menuju ke rumah sakit berikutnya, masih dengan ambulance, karena saya tidak bisa duduk.

Setelah masuk ke rumah sakit baru, selang 2 hari kemudian, saya dioperasi. Operasinya yaitu dilakukan pemasangan pen. Biaya rumah sakit, obat dan pemasangan pen, tidak dibebankan ke saya. Setelah hampir dua minggu di rumah sakit, saya juga tak diminta melakukan pembayaran apapun, kecuali kamar karena keluarga saya meminta penggantian kamar, yang tak ter-cover BPJS Ketenagakerjaan. Selebihnya, tak ada biaya apa-apa.

Selama 2 tahun saya melakukan konsultasi ke dokter, dilakukan tindakan foto ronsen, dan fisioterapi, semuanya gratis. Inilah yang sangat membantu meringankan beban keuangan saya, mengingat biaya konsultasi dokter, foto ronsen dan fisioterapi yang mahal. Semua biayanya, ditanggulangi oleh BPJS Ketenagakerjaan.

Karena masih tak membuahkan hasil seperti yang saya harapkan, saya melakukan pindah rumah sakit. Oleh dokter yang baru, saya disarankan untuk melakukan operasi kembali karena tulang saya belum tumbuh. Operasi yang disarankan, yaitu cangkok tulang (bone graft). Dokter ini menyarankan, agar saya menggunakan layanan kartu BPJS Ketenagakerjaan agar saya tak dibebankan biaya lagi, kerena dokter tahu biaya operasi seperti ini sangat mahal. Setelah cangkok tulang, baru akan dipasang pen yang baru, karena pen yang lama, sudah tak mungkin dapat digunakan lagi.

Oleh kantor, saya kembali dibantu untuk melengkapi data-data yang diperlukan. Setelah lengkap, tahun 2018 ini, saya kembali menjalani operasi. Namun karena memang infeksinya parah, pen lama dibuka dan bagian tulang saya dibersihkan. Tak bisa langsung dipasang pen. Jadi saat itu, paha hingga betis saya, digips. Baru sebulan kemudian, dilakukan cangkok tulang. Selain dengan bantuan sedikit bantuan tulang buatan, kata dokter, diambil juga tulang sum-sum yang terdapat di pinggul kanan saya. Saat sesudah operasi, sakitnya sungguh luar biasa. Biayanya bagaimana? Alhamdulillah, tanpa biaya sepeser pun saat di rumah sakit.

Sekarang sudah 4 bulan pascaoperasi bone graft, walaupun mobilisasi saya masih dengan kursi roda dan tongkat (mengulang lagi dari awal), namun biaya konsultasi ke dokter, obat-obatan dari dokter ortopedi, bertemu dokter spesial fisioterapi, berikut layanan fisioterapi, semuanya gratis. Jadwal terapi saya juga tak terganggu, tetap 2 atau 3 kali seminggu di rumah sakit.

Dengan BPJS Ketenagakerjaan yang membantu biaya perawatan saya selama sakit ini, saya masih memiliki harapan untuk dapat berjalan kembali. Walau memang masih membutuhkan waktu, setidaknya beban pikiran saya tentang biaya perawatan, agak lebih ringan.(az)