Indonesia merdeka karena pendiri bangsa ini gemar membaca dan menulis. Negara ini merdeka karena dibangun oleh ide dan gagasan, mereka yang mempunyai ide dan gagasan rela kehilangan banyak waktu untuk membaca banyak karya dan kemudian menulisnya sebagai dialektika hasil pemikiran yang orisinil. Tentunya kita mengenal nama-nama besar penulis yang ada di negeri ini. Seperti, Tan Malaka, Soekarno, Moh. Hatta, Ki Hadjar Dewantara, dan Pramoedya Ananta Toer. Pemikiran mereka melebihi zamannya, ketika banyak orang Indonesia tak banyak yang berpendidikan dan mayoritas penduduknya masih belum bisa baca-tulis. Mereka telah membaca karya dari banyak pengarang dan menulis banyak buku yang pernah mengguncangkan dunia. Seperti Dibawah Bendera Revolusi dan Indonesia Menggugat karya Soekarno, Madilog dan Aksi Massa karya Tan Malaka, Pendidikan karya Ki Hadjar, dan Empat Novel Tetralogi Buru karya Pram. Mereka adalah Faunding Father dalam segala hal, termasuk pencipta budaya menulis Indonesia.

Soekarno mengatakan bahwa negara ini akan besar ketika banyak orang Indonesia telah mahir membaca dan menulis. Hatta menegaskan bahwa intelektual tidak boleh pasif menyerahkan segalanya pada kekuasaan, karena kaum intelek punya tanggung jawab moral dan politik untuk kemajuan bangsa. Tan Malaka pernah menyatakan bahwa negara ini akan maju ketika dibangun dengan penguatan dasar logika dan pemikiran karena bangsa ini krisis akan pemikiran ilmiah. Ki Hadjar menegaskan bahwa pendidikan sebagai alat untuk memederkakan manusia yang belum merdeka, dan terakhir Pram menyatakan bahwa menulis merupakan tugas bangsa dan warganegara, karena bagi Pram kemerdekaan ini tidak didapatkan secara gratis tetapi dengan darah yang berkobar.

 Sungguh mengherankan realita sekarang ini kita dimanjakan dengan teknologi yang canggih, arus informasi yang dapat diakses dengan mudah lewat internet, dan mudahnya membeli buku yang berkualitas  di pasaran. Tetapi mengapa generasi muda kita gagap akan membaca apalagi membangun budaya menulis? Ternyata mereka lebih banyak mengahabiskan energi dan pemikirannya hanya untuk menulis di media sosial seperti Facebook, Twitter, BBM, Patch dsb. Sangat disayangkan mereka mengahabiskan waktu dengan percuma untuk menulis di media sosial yang akan segera basi dan lapuk oleh waktu.  Di medsos semua orang menjadi lebih tak jelas dalam berargumen, lebih banyak keranjang sampah dari pada kualitas yang ada di kontennya. Padahal di dalam internet sendiri sebenarnya banyak fitur-fitur menarik dalam hal bacaan guna memperkaya wawasan dan ilmu pengetahuan, seperti Jurnal nasional maupun internasional, Ebook gratis, Artikel ilmiah, dan media pemberitaan yang berkualitas. Tapi anehnya keberadaan sumber daya informasi ini tidak digunakan secara maksimal oleh generasi muda sekarang.

Kita lihat saja di ruang publik pendidikan misalkan, seberapa banyak orang membaca buku di kantin maupun lobi tunggu di Universitas?  Faktanya lebih banyak orang yang asik memainkan handphone sambil update status di medsos dari pada membaca buku ataupun membaca jurnal di internet. Padahal di Jerman hampir semua orang membaca buku baik di kantin, di dalam bus, ruang tunggu, bandara, dsb. Mereka menikmati hidup dengan membaca dan menulis,  produktivitas menulis orang Jerman juga tinggi. Kita pernah mengalami hal seperti itu ketika para pendiri bangsa kita masih hidup, padahal mereka hidup pada abad ke-20 yang masih susah mencari referensi buku, terbatasnya jumlah toko buku, dan belum ada akses internet sama sekali. Tetapi produktivitas dalam hal menulis maupun membaca sangat tinggi. Ada hal yang salah. Generasi muda kita sedang gagap akan teknologi, gagap akan ilmu pengetahuan, dan gagap dalam menulis karya. Kita lihat mahasiswa di banyak kampus ketika mengerjakan tugas kuliah, mereka lebih suka copy-paste internet dari pada mengerjakan tugas secara mandiri. Ketika mengerjakan skripsi lebih baik menggunakan jasa pengetikan skripsi dari pada susah payah membaca buku dan mengetik sendiri. Generasi yang penuh nilai-nilai pragmatis, generasi yang mulai tak tahu sejarah bangsanya, dan generasi yang selalu gagap dalam segala hal.

Kita sekarang akan bertanya di mana peran pendidikan dan perguruan tinggi untuk meng-counter permasalahan generasi gagap ini? Kalau kita lihat sistem pendidikan sekarang ini semakin lama semakin kaku, dan menekan kreatifitas. Misalkan ketika siswa ataupun mahasiswa berbeda pandangan dengan guru dan dosennya, mereka dianggap sebagai haters kemudian di cap sebagai pembangkang. Kurikulum dibuat dengan klaim kekuasaan dan bersifat birokratis, cara-cara dialogis dan berfikir bebas sesuai dengan kehidupan ilmiah ditinggalkan hanya demi efisiensi waktu dan kerja. Siswa maupun mahasiswa tak pernah diajak berdiskusi dalam membuat kurikulum maupun kebijakan pendidikan, bagaimana generasi ini akan suka membaca dan menulis? Kalau si pembuat kebijakan saja tak pernah mempedulikan nasib subjek yang ada di dalam pendidikan itu sendiri. Dari awal saja sudah tidak ada kejujuran dalam melihat pendidikan sebagai upaya memederkakan manusia, karena  generasi muda telah di setting menjadi generasi penurut. Jadi jangan salahkan generasi sekarang jika mereka lebih aktif update medsos, dari pada membaca buku. Karena mereka telah ditekan oleh banyak aturan-aturan pendidikan, dan padatnya materi dalam pembelajaran. Sikap anti-intelektualitas di dalam pendidikan semakin terlihat ketika pembuatan dan keputusan hanya diserahkan oleh seorang menteri yang sebenarnya ia bukanlah malaikat yang tak bisa disalahkan.

Budaya menulis adalah tanggung jawab seorang manusia. Menulis merupakan tanggung jawab moral sebagai warga negara. Jalan alternatif yang ada sekarang yaitu memperbaiki sistem pendidikan, memerdekakan siswa-siswa, dan membuat sistem pendidikan yang berkualitas dan menjunjung kebebasan berfikir. Internet dan teknologi bukanlah masalah sebenarnya, tapi masalah sebenarnya adalah lembaga pendidikan dan perguruan tinggi yang kurang tanggap dalam menjawab persoalan ini. Sudah waktunya berbenah dan bergegas menjadi bangsa yang mandiri dengan tulisan-tulisan yang berkualitas, setelah itu mengguncangkan dunia dengan kemampuan anak bangsa.(Danang Pamungkas)