Oleh : Nancy Duma Sitohang

Apa jadinya jika manusia kaya ilmu tetapi miskin budi pekerti dan berkarakter buruk? Manusia akan mengutamakan kepentingannya lebih dari apa pun. Bahkan, tak peduli meskipun perbuatannya akan merugikan orang lain. Contohnya banyak, lho.

Yang terkini adalah sepasang suami-istri pembuat vaksin palsu. Demi mengumpulkan kekayaan, mereka tega mempertaruhkan kesehatan anak-anak Indonesia yang mendapat imunisasi dengan vaksin-vaksin palsu buatan mereka.

Ada pula dokter-dokter yang membuka praktik aborsi ilegal. Pengacara yang bersedia membela pelaku kejahatan seksual terhadap anak atau perempuan. Guru yang memberi siswanya kunci jawaban ujian, dan lain-lain.

Tak ayal lagi, pendidikan karakter sangat penting dan harus dimulai sedini mungkin, sejak masa kanak-kanak, mulai dari lingkungan keluarga berlanjut ke lingkungan sekolah, sampai lingkungan sosial yang lebih luas.

 

7f31600c037e17806a34a98b9f27767es_final4_1

 

Nilai-nilai Pendidikan Karakter

Dalam situs kemendikbud  disebutkan bahwa ada 3 komponen utama pembentuk karakter bangsa, yaitu integritas, kerja keras dan gotong royong.

Komponen integritas mencakup nilai tentang kejujuran, dapat dipercaya, dan tanggung jawab. Komponen kerja keras meliputi nilai-nilai luhur tentang etos kerja, daya saing, optimistis, inovatif, dan produktif. Dan komponen ketiga gotong royong meliputi nilai kerjasama, solidaritas, komunal dan berorientasi pada kemaslahatan.

 

Bermain di Tempat Umum

Sebuah pepatah berbunyi, “Bisa karena biasa”  “Practice makes perfect”. Pendidikan karakter harus dipelajari lewat praktik berulang kali di kehidupan sehari-hari dan bisa dilakukan di mana saja. Saat bermain ayunan di taman umum, salah satu contohnya.

Di Jakarta, Pemprov. DKI telah menyediakan taman RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak) di beberapa wilayah. Di taman-taman tersebut tersedia bermacam-macam alat bermain untuk anak batita sampai dengan kelas 4 SD. Misalnya, bak pasir, perosotan, jungkat-jungkit, ayunan, dan panjat-panjatan. Sedangkan untuk yang lebih besar, tersedia lapangan futsal dan lapangan basket mini. Semua fasilitas itu terbuka untuk umum. Anak mana pun boleh menggunakan.

Andaikan, anak Anda memilih bermain ayunan. “Lagi, Bunda! Lagi!” Kemungkinan besar begitulah anak Anda akan meminta berulang kali. Ia girang bukan kepalang setelah merasakan sensasi berayun di ketinggian dan sejuknya tiupan angin.

Saat asyik bermain, seorang anak datang menghampiri. Berdiri memandangi penuh harap tapi tak berkata-kata. Pertama, mungkin karena anak itu pemalu. Kedua, mungkin karena ia takut ada Anda, seorang dewasa di sisi anak Anda.

Saat itulah proses pendidikan karakter dimulai. Apakah anak Anda hanya akan balas memandangi sambil terus berayun? Ataukah ia turun dari ayunan dan mempersilakan anak itu untuk merasakan kegembiraan yang sama? Biasanya, yang pertama yang akan dipilih anak-anak. Alasan pembenaran pertama karena ego tentu saja: “Kan aku yang datang duluan. Jadi, aku main selama aku suka.”

 

new-piktochart_548_8cf471b1065bfed94c1645f9b3278e135e03d2c8

 

Jika demikian, giliran Anda yang memainkan peran. Jelaskan kepada anak Anda dengan kata-kata yang mudah dipahami sesuai tahapan perkembangannya hal-hal berikut ini.

  1. Semua alat permainan di taman adalah fasilitas umum. Jadi, semua anak yang datang, punya hak yang sama untuk menggunakannya.
  2. Oleh karena jumlah anak yang ingin memainkan lebih banyak daripada alat permainan yang tersedia, maka alat permainan harus digunakan bergantian.

Dengan bermain di tempat umum, anak Anda akan belajar memedulikan orang lain, mengantre, bersikap sopan, dengan mengatakan, “Boleh saya bermain sekarang?” saat meminta giliran dan “Terima kasih” saat dipersilakan.

Sebagai orangtua, kita tentu menginginkan anak kita tumbuh menjadi individu yang berbudi pekerti, kan?

 

Referensi

Situs kemendikbud, http://ditpsd.dikdas.kemdikbud.go.id/article/post/beragam-jurus-pembudayaan-budi-pekerti (diakses 11 Agustus 2016).