Belum lama ini Majelis Ulama Indonesia menganggap perlu mengeluarkan fatwa bernomor 24 Tahun 2017 tentang HUKUM DAN PEDOMAN BERMUAMALAH  MELALUI MEDIA SOSIAL. Di dalam fatwa tersebut juga menyebutkan bully secara eksplisit, yakni pada Ketentuan Hukum (bagian 2, poin 3b): Setiap muslim yang bermuamalah melalui media sosial diharamkan untuk melakukan bullying, ujaran kebencian, dan permusuhan atas dasar suku, agama, ras, atau antar golongan.

Fatwa MUI tentunya ditujukan kepada orang dewasa yang sudah dikenakan sanksi hukum, baik hukum agama maupun hukum negara. Perlunya cyberbullying disinggung seperti ini, menandakan bahwa orang dewasa pun masih banyak yang perlu diberi pemahaman mengenai bully melalui media internet juga merupakan tindakan yang salah dan korbannya perlu mendapatkan pertolongan. Walaupun seharusnya orang dewasa sudah paham, kenyataan bahwa orang dewasa juga kerap melakukan bullying membuat MUI merasa harus “turun tangan”.

Jika orang dewasa saja bisa menjadi pelaku dan korban bully, apalagi anak-anak. Dunia anak yang seharusnya menjadi dunia yang ceria dan penuh dengan kegiatan yang menyenangkan juga tak lepas dengan bully. Anak-anak penulis pun pernah mengalaminya dan membuat penulis memutuskan harus turun tangan langsung menemui orang tua dan anak pelaku bully. Hal ini merupakan tanggung jawab orang tua agar anak mempercayai orang tua sebagai tempat mengadu ketika menjumpai hal-hal yang tidak diinginkan. Adalah tugas orang tua memberikan rasa aman dan nyaman kepada anak-anaknya.

Masalahnya, persepsi bully pada setiap orang berbeda. Pada sebagian orang, kejadian semisal sekelompok anak mengunci dari luar anak lain di dalam ruangan tertutup, atau menertawakan kondisi fisik yang berbeda, atau memelorotkan celana, hanya dianggap main-main belaka. Bahkan dalam lingkungan rakyat kebanyakan, hal seperti ini lazim dengan ungkapan yang seolah jadi pembenaran: “namanya juga anak-anak”.

Baiklah, mari kita samakan persepsi mengenai istilah bullying. Menurut American Psichological Association, bullying adalah bentuk perilaku agresif seseorang yang dengan sengaja dan menyebabkan luka atau ketidaknyamanan pada orang lain. Ada empat kategori bullying, yaitu fisik (misalnya pemukulan), verbal (seperti ejekan), emosional (biasanya terjadi dalam sebuah relasi yang di mana seseorang membuat peryataan atau bertindak sesuatu untuk menyakiti pasangannya, contohnya seperti fitnah atau pengabaian), dan cyberbullying (intimidasi menggunakan teknologi informasi).

Setelah persepsi disamakan, perlu adanya kepekaan untuk menepis bully. Penulis pernah bertemu ayah seorang siswa yang juga konsultan pendidikan yang sedang menunggui anaknya yang bersekolah di sebuah sekolah dasar negeri. Lelaki itu mengatakan bahwa beberapa kali dia harus melerai sendiri perkelahian di sekolah itu karena tak ada orang dewasa di sekitarnya yang mau melerainya. Padahal perkelahian di antara anak-anak tidak boleh dibiarkan, meskipun itu perkelahian berimbang. Apalagi jika dalam perkelahian itu ada tindak bully di dalamnya.

Mengenai bullying di sekolah, Anna Surti Ariani, seorang psikolog yang akrab disapa Nina mengatakan, “Untuk sekolah, penting mempublikasikan program anti-bullying dengan tegas dan jelas. Disosialisasikan dengan gamblang apa yang mesti dilakukan jika murid menjadi korban, penonton, atau cenderung menjadi pelakunya.” Idealnya demikian, namun pada kenyataannya tak semua sekolah memahaminya.

Kepekaan warga di lingkungan tempat tinggal juga amat dibutuhkan. Saat terjadi sebuah kasus kekejaman terhadap anak dua tahun lalu, Kak Seto pernah mengatakan, “Ini mohon dicanangkan gerakan nasional stop kekejaman terhadap anak. Presiden mencanangkan, lalu menteri, gubernur, bupati, walikota agar membentuk satgas perlindungan anak di setiap RT dan RW,” ujar pria yang karib disapa Kak Seto itu saat ditemui di kantor Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jakarta, Jumat (9/10/2015).

Menurut Kak Seto persoalan perlindungan anak harus menjadi tanggung jawab semua elemen masyarakat. Tugas itu tidak bisa hanya dibebankan pada polisi, KPAI, dan Komnas PA saja. Meminjam istilah “it takes a village to raise a child” yang dipopulerkan oleh Hillary Clinton, Kak Seto mengatakan bahwa mendidik anak perlu orang sekampung, melindungi anak juga perlu orang sekampung.

Kalau semua warga masyarakat berperan aktif, dengan persepsi yang sama, tak perlu ada anak-anak yang merasa tertekan hingga melakukan bunuh diri karena di-bully. Namun kuncinya adalah kesadaran diri dan rasa tanggung jawab. Juga kepedulian bahwa anak-anak di sekeliling kita bukan hanya anak si A atau si B, bukan hanya “milik” orang tuanya. Anak-anak di sekeliling kita dan semua anak di negara ini adalah anak-anak kita. Mereka adalah anak-anak bangsa yang akan menjadi penggerak roda bangsa kita di masa depan. Yang pasti, mereka akan menjadi penentu kelangsungan bangsa ini di masa depan.

Referensi tambahan:

  • Celebrate Your Weirdness, Positeens: Positive Teens Against Bullying (Edisi khusus Kawanku, 2014).
  • http://news.liputan6.com/read/2337024/kak-seto-melindungi-anak-butuh-orang-sekampung
  • http://health.detik.com/read/2016/05/04/153419/3203782/1301/saran-psikolog-agar-bullying-di-sekolah-tak-terus-terusan-terulang(mm)