Bunda, masih ingatkah masa remaja dulu? Jaman bandel-bandelnya, sering membantah orang tua, masa mencari identitas diri. Bagi bunda yang sudah memiliki anak gadis atau lajang, apakah situasinya sama dengan jaman dulu? Bunda yang memiliki remaja di era milenial, umumnya merupakan generasi X. Sebuah generasi yang penuh tuntutan dari orang tua masa baby boomer, dan kini menghadapi sang buah hati yang native digital.

Masa lalu, orang tua bunda sering memberlakukan jam malam. Pokoknya, maghrib sudah tinggal di rumah. Untuk curhat, masih menggunakan diary, dan rasa-rasanya paling takut ketahuan sama orang tua. Yang penting nilai bagus, bermoral baik, dan orang tua tidak pernah dipanggil guru BP. Bagaimana dengan remaja di era milenial?

Menurut Elly Risman, pengasuhan anak era milenial membutuhkan energi yang ekstra. Dengan sangat mudahnya anak mengakses media digital membuat anak mencari informasi dengan mudah. Jika dulu orang tua, atau guru menjadi tempat bertanya, saat ini akan cukup dengan “tanya google” semua informasi mudah diperoleh. Tidak hanya mesin pencari, keberadaan media sosial juga kadang memberi masalah tersendiri. Mungkin bunda masih ingat, dengan kasus yang terjadi pada beberapa remaja wanita yang menjadi korban traficking akibat mendapat iming-iming dari teman prianya di sebuah platform sosial media. Alih-alih ingin mendapat jejaring pertemanan, si gadis pun menjadi korban hingga nyawanya hilang. Tentu kita tidak ingin menghadapi kondisi seperti itu.

Jadi, apa yang harus dilakukan oleh bunda saat menghadapi putra-putri yang sudah menginjak remaja? Berikut beberapa tips yang dapat  :

  1. Memelihara kedekatan orang tua dan anak

Di usia remaja umumnya anak lebih dekat kepada teman atau sahabat daripada orang tua. Apalagi saat remaja sudah memasuki masa pubertas. Umumnya remaja lebih sungkan kepada orang tua daripada teman. Usahakan menjadi teman untuk anak, dengan sering melakukan kegiatan bersama yang disukai anak. Jika dimungkinkan, libatkan teman anak. Sehingga mereka juga tidak canggung dengan bunda.

  1. Memberikan contoh yang baik pada anak

Menurut pepatah, contoh adalah guru yang paling baik. Seringkali orang tua hanya memberikan perintah, tetapi tidak memberikan contoh. Tidak jarang juga, orang tua melakukan hal yang dilarangnya pada anak. Akhirnya sang anak tidak percaya pada orang tua.

  1. Mengajarkan agama pada anak

Pendidikan agama merupakan salah satu yang harus diajarkan pada anak dan juga menjadi bekal anak saat menghadapi pergaulan. Maraknya berbagai informasi di dunia maya, terutama di sosial media, membuat anak dapat terjebak dalam pergaulan yang salah. Jika anak sudah mendapat pendidikan agama sejak kecil hingga dia remaja, maka anak akan dapat memilah mana yang dapat diikuti dan mana yang akan menimbulkan bahaya.

  1. Memberikan tanggung jawab pada anak

Di usia remaja, orang tua sudah dapat memberikan tanggung jawab pada anak. Apalagi jika anak sudah melewati masa sekolah. Selangkah lagi, remaja kita akan memasuki usia dewasa. Artinya dia akan mengemban tanggung jawab bagi dirinya, keluarga dan lingkungan. Di masa ini, bukan saatnya lagi jika bunda yang mengerjakan dan mengambil alih tanggung jawab anak. Bukan hanya memanjakan, tetapi juga akan membuat anak menjadi tidak mandiri.

  1. Menjadi bunda yang melek digital

Bunda melek digital adalah sebuah keharusan di masa kini. Dengan melek digital, maka bunda tidak akan kalah up to date dengan teman-teman anak. Bukan tidak mungkin, anak akan sangat bangga jika bundanya memiliki prestasi. Gaptek bukan menjadi alasan bagi bunda untuk melek digital. Saat ini banyak bunda yang malah dapat memanfaatkan media digital untuk berbagai aktivitasnya.

Menjadi orang tua bagi remaja di era milenial memang tidak mudah. Tantangan yang dihadapi jauh lebih sulit daripada orang tua di masa lalu.Tetapi, apapun itu semua harus dihadapi untuk menjadikan anak-anak mandiri dan sukses pada saat mereka dewasa. Percayalah, pendidikan yang baik akan menjadi contoh bagi anak-anak saat mereka menjadi dewasa kelak.(snm)