Bus Transjakarta Khusus Perempuan

0
31

Naik Transjakarta khusus perempuan? Mungkin bagi warga Jakarta, tak semua tahu bahwa di Jakarta kini telah ada Transjakarta khusus perempuan. Ya, PT Transportasi Jakarta telah meluncurkan bus khusus Perempuan pada 21 April 2016. Bus gandeng ini berkapasitas 38 penumpang duduk dan 80 penumpang berdiri. Kursi dalam bus khusus ini menghadap ke depan, tidak seperti bus biasa yang menghadap ke samping. Hingga kini, menurut Direktur Umum Transjkarta, Budi Kaliwono, pengemudi perempuan masih terbatas. “Rencananya ada sepuluh bus khusus perempuan di koridor  1 rute Blok M-Kota,” kata Budi seperti dikutip dari Tempo.co.

Kini, sudah ada dua bus yang tersedia di koridor 1. Kedua bus ini memiliki ciri khas berwarna pink, sehingga terlihat menarik dan soft. Di badan bus tertulis “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Kedua bus itu memang sengaja dikhususkan untuk perempuan. Hadirnya kedua bus ini untuk menjawab isu pelecehan seksual, baik verbal maupun non verbal, yang kerap menjadi momok menakutkan bagi perempuan. Berdasarkan data yang tercatat di Humas Polda Metro Jaya, angka kriminalitas di angkutan umum sepanjang 2012 ini sebanyak 31 kasus. Dan 16 kasus diantaranya dialami oleh wanita.

Karena bus ini diperuntukkan khusus bagi penumpang perempuan, maka pengemudi dan petugas on board pun perempuan. Untuk posisi driver, pihak Trans Jakarta hanya mampu menyediakan driver perempuan pada pagi hari. Mengutip dari Tabloid Nova, keterbatasan armada bus pink ini yang membuat driver dan petugas on board bus harus kerja berkali-kali lipat dibandingkan petugas di Trans Jakarta Umum.

Waktu pengoperasian bus ini sama dengan bus Transjakarta reguler yang lain. Pola kerja para pengemudi ini dibagi dalam dua shift, yaitu pagi dan siang. Shift pagi bertugas dari pukul 5 pagi hingga 12 siang. Bus ini dikemudikan oleh dua orang. Sedangkan untuk shift siang, mulai pukul 12.00 hingga pukul 21.00 WIB dan disopiri oleh driver pria. Kabarnya sebelum bus ini diluncurkan, upaya untuk menangani isu pelecehan seksual di dalam bus sudah dilakukan dengan menyediakan ruang khusus perempuan di setiap bus transjakarta.

Namun, diharapkan dengan kehadiran bus ini bisa bermanfaat dalam menanggulangi pelecehan seksual pada penumpang perempuan. Namun sayangnya pengoperasiannya masih belum optimal. Mulai dari kurangnya jumlah armada hingga keterbatasan petugas. Alhasil, masa tunggunya pun lebih lama. Ini tentu berbeda dengan bus TransJakarta reguler yang jumlahnya lebih banyak dan jangka waktu antara satu bus dengan bus lainnya cukup cepat. Namun, apabila mengharapkan keamanan dari bahaya pelecehan seksual di kendaraan umum, kehadiran bus khusus perempuan ini bisa dikatakan membawa angin segar. Jika aman menggunakan kendaraan umum, maka akan berdampak dengan pengurangan penggunaan kendaraan pribadi yang berpotensi menyebabkan kemacetan. (rab)