Oleh Mariana Lusia Resubun
Cerita cantik di tahun 2015

Cantik menurut pengertian Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah elok atau molek rupa seorang perempuan, sehingga tidak heran banyak perempuan berlomba-lomba untuk tampil cantik. Karena saya perempuan, saya pun melakoninya. Diet ketat dengan hanya mengkonsumsi buah pepaya sebagai sarapan pagi dan makan malam saya jalani, porsi nasi yang biasanya setinggi “Gunung Gamalama di Ternate” saya turunkan demi mendapatkan berat badan ideal.

Rela berjam-jam di salon demi rambut yang lurus dan berharap akan seperti iklan shampo, dimana rambut yang lurus, hitam dan tergerai indah akan berkibar apabila terkena tiupan angin, sehingga semua mata akan tertuju padaku dan mungkin ada yang terpana asmara (korban iklan shampo) atau menghabiskan uang demi berbagai produk pemutih dan krim anti penuaan. Demi menjadi cantik para wanita rela menahan lapar, rela menghabiskan uang untuk berbagai perawatan kecantikan, rela menahan sakit di salon (sakitnya tuh pada saat alat catok rambut yang sangat panas mengenai kulit kepala atau tidak sengaja kena telinga).

Saya merasa lucu sekaligus kasihan melihat status teman-teman menjelang hari raya, ada yang menulis status di Facebook “terlambat ke salon” atau “tidak sempat ke salon untuk smoothing atau rebonding rambut” karena salon telah penuh dengan pelanggan yang lain. Atau ada yang sudah memposting foto dengan rambut barunya yang telah lurus, tak ada lagi rambut keriting kribo, yang ada hanya rambut lurus, mereka menjadi korban om luter “lurus terpaksa” dan tante kori “korban rebonding”. Menjelang hari raya, pemilik salon diuntungkan karena banyak wanita ingin tampil cantik dan berbeda. Dahulu saya juga korban om luter dan tante kori, saya merasa cantik dengan rambut lurus yang tergerai indah, walaupun hanya sementara, paling lama tahan 6 bulan dan memerlukan perawatan ekstra, tentunya dengan dana yang tidak sedikit.

Entahlah ini salah siapa? Apakah karena iklan di televisi stereotip wanita cantik adalah mereka yang berkulit putih dan berambut lurus, atau yang dikatakan berwajah khas Indonesia asli seperti artis Desy Ratnasari, Ririn Dwi Ariyanti atau artis Paramitha Rusady, atau karena “demam” drama Korea, kita ingin berkulit putih layaknya Yoona SNSD atau Park Shin Hye dari drama The Heirs. Ada kesamaan dari para wanita cantik yang menjadi idola ini, dimana mereka berkulit putih dan berambut lurus, sehingga kita yang berasal dari kawasan Timur Indonesia dari ras Melanesia, seringkali tergoda dan mecoba berbagai produk pemutih dan meluruskan rambut. Ya, kita korban iklan. Kita merasa kurang cantik apabila tampil berkulit hitam dan berambut keriting. Padahal di lain sisi siapa yang tidak kenal Agnes Monica atau Chef Farah Quin? mereka adalah contoh public figure Indonesia yang sengaja “menghitamkan kulit” untuk tampil cantik.

Ketika kita yang dari lahir dianugerahi warna kulit gelap ingin putih, mereka yang berkulit putih ini justru ingin tampil eksotis dengan warna kulit yang gelap. Manusia memang tidak pernah bersyukur, saya ingat dalam sebuah khotbah di Gereja Katedral Merauke. Seorang pastor asal Jawa mengatakan merasa heran ketika berada di Papua, banyak sekali dia melihat wanita Papua yang meluruskan rambut, dan ketika di Jawa, di kampungnya, para wanita justru mengeriting rambutnya. Saya pun menertawakan kebodohan saya di akhir tahun 2015, memang saya tidak lagi meluruskan rambut karena telah bertobat, tetapi saya jatuh pada dosa serupa. Saya mewarnai rambut ala Rihanna, alih-alih tampak cantik, kata teman rambutku mirip rambut jagung.

 

cantik

 

Lucinda Belvil merupakan tokoh rekaan dalam novel klasik terbitan tahun 1978 yang berjudul Pengantin Tak Terduga karya Barbara Cartland. Saya langsung jatuh cinta kepada sosok Lucinda Belvil sang tokoh utama dalam cerita yang berlatar di abad 17 atau 18 Masehi di Inggris. Pada jaman itu, sebuah pernikahan diatur berdasarkan perjodohan dan untung rugi dalam mengumpulkan harta dan kekuasaan politik. Lucinda adalah gadis sederhana yang jauh dari kata cantik untuk ukuran orang Inggris di masa itu. Lucinda berambut hitam dan bermata hitam, kulitnya pun hitam karena sering terbakar matahari, jauh dari stereotip gadis cantik Inggris yang berambut pirang dan bermata biru. Lucinda tampak berbeda dari gadis Inggris kebanyakan karena dia mewarisi darah neneknya yang berkebangsaan Perancis.

Orang tuanya putus asa, apakah mungkin dia mendapatkan seorang suami. Akhirnya karena suatu kebetulan dan bagaikan “mukjizat” dia menikah dengan Lord Meridan, bangsawan tampan yang tidak menginginkannya menjadi istri. Lucinda memang tidak cantik, tapi dia sangat cerdas karena rajin membaca dan memiliki kemahiran berkuda, hal yang tidak dimiliki wanita lain di jaman itu. Pada akhirnya dia berhasil menaklukan hati sang suami dan jatuh cinta kepadanya, karena kecerdasan dan keistimewaannya walaupun dia tidak berambut pirang dan bermata biru.

Kembali ke dunia nyata bukan rekaan dalam novel, saya sangat kagum dengan wanita cantik yang satu ini. Sosoknya yang ramah, cerdas dan bersahaja, jauh dari kesan angkuh walaupun banyak prestasi yang telah diraih, baik di kancah lokal, nasional maupun internasional. Seorang puteri asli Merauke berdarah Manado dari sang ibu. Rambut keriting dan kulit hitamnya diwariskan dari sang ayah, lelaki asli Merauke.

Christy Anggeline Jawiraka nama wanita cantik ini, seorang model dan pramugari “paruh waktu” disela-sela kesibukannya yang padat sebagai mahasiswi kedokteran. Debutnya di “dunia kecantikan” dimulai ketika mengikuti perlombaan “Puteri Merauke 2007, lalu Puteri Indonesia Papua 2007, lalu masuk 10 besar di ajang Puteri Indonesia 2007”. Prestasinya yang sangat membanggakan bagi kita masyarakat kota Merauke sekaligus mengharumkan nama bangsa Indonesia di kancah internasional adalah ketika “Angel”, nama wanita cantik ini disapa memenangkan “Runner up II” sekaligus “Miss Friendship” pada kontes Miss Southeast Asia 2013.

Angel dalam bahasa Inggris berarti malaikat, bagiku sosok seorang Christy Anggeline Jawiraka bagaikan malaikat, setidaknya bagi ibu dan adik-adiknya. Sebagai seorang yatim, dia menjadi “tulang punggung” dalam keluarganya. Sosok cerdas dan pekerja keras, hal ini terlihat dengan bagaimana dia dapat membagi waktu diantara kesibukan belajar sebagai seorang mahasiswi kedokteran, tentunya dengan hafalan dan tugas yang banyak sembari “mengais rejeki” dengan menjadi model dan pramugari.

Kisah hidupnya tidak mudah, ada pengalaman pahit disana. Menghabiskan masa kecil sebagai minoritas di daerah yang mayoritas penduduknya “berkulit putih” menjadikan “Angel kecil” merasa terasing dan berbeda karena warna kulitnya yang hitam. Namun, kasih sayang dan didikan kedua orang tuanya dan berdasarkan iman yang dianut, mengajak “Angel kecil” untuk mempraktikkan firman Tuhan yang berbunyi, “Jika pipi kananmu ditampar, berikanlah juga pipi kirimu”. Membalas perbuatan mereka yang tidak baik dengan sikap yang baik, mereka pasti berubah. Ternyata benar. Dari situlah tumbuh rasa percaya diri yang tinggi dalam diri Angel, gadis cantik pemilik sabuk hitam dari cabang olahraga beladiri karate.

Harapan cantik di tahun 2016

Semoga saja ada iklan atau produk kecantikan di Republik Indonesia yang menyentuh kami yang berambut keriting dan berkulit hitam, agar tidak perlu menjadi “korban” untuk menjadi seragam dengan saudari-saudari yang berkulit putih dan berambut lurus. Saya berharap dari kotaku tercinta, kota Merauke lahir “Angel-Angel” yang lain, yang tampil penuh percaya diri dengan hitam kulit dan keriting rambut. Menunjukkan segala yang terbaik dari dalam diri guna meraih prestasi.

Saya berharap para wanita, tidak lagi membuat dirinya cantik dengan menyakiti diri sendiri, untuk tampil serupa idola, semoga para wanita dapat menerima diri apa adanya, cantik dan cerdas dari dalam. Bukankah elok fisik akan tergerus usia, tetapi budi baik dan kecerdasan akan abadi sepanjang masa dan dibawa sampai mati. Jadilah diri sendiri walau hitam kulit, keriting rambut, yakin dan percaya, kamu dan saya istimewa. Gali potensi diri dan tunjukkan prestasi di tahun yang baru, cukup di tahun yang lama kita menjadi “korban” iklan.

1 COMMENT

  1. Seakan kata “cantik” itu harus disandingkan dengan para model yg ada di tipi2 itu ya mbak.
    Sedih dan trenyuh skali. Seharusnya kta menerima apa yg Tuhan berikan serta terus menjaga dan merawat kecantikan itu sendiri 😀