Cara Mencegah Terjadinya Tindak Kekerasan Verbal pada Anak

0
54

Bentakan maupun umpatan kasar yang sering diterima seorang anak di dalam lingkungan sekolah maupun keluarga bisa berefek buruk pada kepribadiannya. Temukan cara mencegahnya! 

“Heiii..! Kamu itu! terlambat lagi, terlambat lagi!” 

Kalimat di atas membuat saya menoleh paksa ke sisi kanan koridor jalan masuk pintu salah satu Sekolah Dasar (SD). Saya bergidik mendengar suara yang a.gak keras, dan ternyata suara itu ditujukan ke salah seorang anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar.  Ini berarti usia anak itu baru berkisar antara 7 sampai 12 tahun yang mempunyai masa pertumbuhan verbal. Bukankah usia ini tergolong dalam fase perkembangan anak yang tepat untuk pembentukan egonya? Bukankah pada fase ini pula seorang anak akan banyak menyerap segala bentuk informasi yang belum sanggup dicernanya? Segala sesuatu yang dilihatnya, segala suara yang didengarnya akan dia  serap tanpa menyaring mana yang baik dan buruk.

edukasi-kekerasan-1

Dalam aktivitas sehari-hari, sering kita berinteraksi dengan anak-anak di bawah umur.  Agar terhindar dari bentuk kekerasan verbal pada anak, maka kita harus bisa menjaga sikap. Pemahaman tindak kekerasan verbal perlu dipahami setiap orang, bukan hanya untuk orangtua saja karena dalam keseharian, anak akan berinteraksi dengan banyak orang.  Kekerasan verbal bukan hanya sebatas kata-kata saja misalnya berbicara dengan intonasi dan tekanan suara yang agak keras tetapi juga dengan ekspresi wajah, isyarat dan bahasa tubuh.

Anak adalah investasi masa depan.  Sudah sepantasnya kita memberikan perlakuan yang bijak dalam kehidupan sehari-hari baik dalam lingkungan rumah maupun dalam lingkungan sekolah.  Kedua lingkungan ini harus lebih di perhatikan karena di lingkungan inilah anak banyak menghabiskan waktunya.

  1. Lingkungan rumah

Di lingkungan rumah, orangtua dan seluruh keluarga termasuk asisten rumah tangga sangat berperan dalam kehidupan anak.  Olehnya itu, semua yang berada di lingkungan rumah, sudah sepantasnya memahami dan mengetahui teknik-teknik berkomunikasi yang baik sehingga anak dapat terhindar dari bentuk-bentuk kekerasan verbal yang setiap saat bisa mengancam kehidupan anak.

  1. Lingkungan sekolah

Di lingkungan sekolah juga demikian.  Seorang guru, kepala sekolah, penjaga kantin dan penjaga sekolah serta seluruh anak sekolah yang merupakan stakeholder  pendidikan sangat berperan penting dalam perkembangan anak. Walau seorang guru telah dibekali oleh pengetahuan tentang kekerasan verbal pada anak, tetapi kadang-kadang juga tanpa sengaja melakukan kekerasan verbal pada anak yang membuat anak merasa takut pada gurunya.  Jika sudah demikian, anak akan kesulitan menyerap materi pelajaran yang disampaikan oleh seorang guru. Akibatnya anak-anak tidak lagi merasa senang belajar di dalam kelas bersama teman-temannya, tidak nyaman lagi tinggal dalam sekolahnya yang pada prosesnya sekolah adalah tempat untuk belajr dan membina anak-anak.  Hal ini akan berpengaruh buruk pada anak, akibatnya anak akan sulit di atur, mudah marah bahkan akan menjadi nakal.

Menurut Ketua Umum Komisi Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait (2015), bahwa anak yang berpotensi mengalami kekerasan fisik dan psikis adalah anak-anak yang malas, penakut, tidak bisa diam, dan cengeng.  Anak-anak seperti inilah yang rentan terhadap tindak kekerasan fisik dan psikis.  Untuk itu orang yang ada di sekitar lingkungan anak perlu mendapatkan edukasi seputar kekerasan verbal/non fisik  atau jenis kekerasan yang tidak kasat mata karena tidak terjadi sentuhan fisik antara pelaku dengan korbannya.  Kekerasan non fisik ini dibagi menjadi dua, yaitu;

  1. Kekerasan Verbal

Kekerasan yang dilakukan lewat kata-kata. Contohnya: membentak, memaki, menghina, menjuluki, meneriaki, memfitnah, menyebar gosip, menuduh, menolak dengan kata-kata kasar, mempermalukan di depan umum dengan lisan, dll.

  1. Kekerasan Psikologis/Psikis

Kekerasan yang dilakukan lewat bahasa tubuh. Contohnya memandang sinis, memandang penuh ancaman, mempermalukan, mendiamkan, mengucilkan, memandang yang merendahkan, dan mencibir.

Orangtua harus memahami bentuk-bentuk kekerasan verbal pada anak agar bisa menghindar dari tindak tersebut, sehingga saat berinteraksi dengan anak, orangtua bisa lebih mawas diri dan lebih terkontrol baik dari segi ucapan maupun perbuatan.  Perlu dipahami bahwa kekerasan verbal bisa berakibat fatal bagi anak karena dampaknya akan menurunkan prestasi anak, menghilangkan rasa percaya diri, dan berani membantah orangtua.  Ini hanya sebagian kecil, masih banyak lagi dampak negative lainnya yang ditimbulkan oleh kekerasan verbal pada anak.

Faktor-faktor munculnya tindak kekerasan verbal pada anak

  1. Faktor Ekonomi

Sebuah rumah tangga pastinya membutuhkan banyak sekali tuntutan dalam pemenuhan kebutuhan hidup.  Namun apa daya manusia hanya bisa berusaha dan bekerja, hasilnya adalah Tuhan yang menentukan.  Tidak sedikit orang yang hidupnya masih berada digolongan ekonomi menegah kebawah.  Tidak terpenuhinya salah satu kebutuhan hidup, akan menimbulkan masalah dalam keluarga terutama dalam hal komunikasi verbal pada anak.  Sebenarnya bukan hanya karena himpitan ekonomi semata sebab keluarga mapan pun yang sibuk dengan pekerjaan diluar rumah bisa menjadi penyebab terjadinya kekerasan verbal pada anak.  Jika orangtua tak lagi punya waktu untuk anak-anak dirumah karena sibuk mencari nafkah untuk menghidupi keluarga sehingga saat pulang kerumah mendapati suasana yang kurang kodusif maka kelelahan akan memancing kemarahan, yang lebih parah lagi adalah jika anak yang menjadi sasarannya anak sering kena sasaran kemarahan orangtuanya

  1. Faktor Broken Home

Broken Home adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan keluarga yang berantakan.  Seorang anak kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari keluarga sehingga membuat anak menjadi tidak terkontrol dan berbuat semaunya.  Gagalnya membangun sebuah rumah tangga yang romatis bisa disebabkan oleh beberapa faktor.  Salah satunya adalah faktor keegoisan kedua orangtua yang membuat biduk rumah tangga harus kandas ditengah jalan.  Dalam hal ini, anaklah yang menjadi korban keegoisan orangtua

  1. Faktor Pendidikan

Pendidikan yang cukup akan berpengaruh terhadap cara orangtua mengikuti tumbuh kembang anak. Berbekal ilmu parenting yang dimiliki, akan semakin bijak orangtua memperlakukan anak karena memahami cara berkomunikasi yang baik, trik membimbing anak untuk memilah mana perbuatan dan perkataan yang baik dan yang kurang baik.  Dengan demikian anak-anak akan terhindar dari tindak kekerasan verbal.

  1. Faktor Lingkungan

Lingkungan yang baik akan berpengaruh baik terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak.  Begitupun sebaliknya, jika lingkungan buruk maka akan berpengaruh buruk pula pada anak.  Seorang anak yang sehari-harinya mendengar perkataan yang kasar dan tidak sopan dari lingkungan dimana dia berada, maka anak tersebut akan terbiasa dengan perkataan yang kasar dan buruk. Akibatnya sang anak akan menjadi tersisih di antara teman-temannya karena sifat kurang sopan yang dimilikinya.

Sumber bacaan:

http://www.psikologmalang.com/2013/03/bentuk-bentuk-kekerasan.html?m=1

A.Razak Daruma, dkk. Perkembangan Peserta Didik, Penerbit FIP-UNM, 2004(sm)