Ingin anakmu nantinya tumbuh cerdas dan memiliki masa depan yang sukses? Kalau begitu, jangan lupa untuk terus mengasah kecerdasan linguistik pada anak. Apa maksudnya?

Kecerdasan linguistik diartikan sebagai kepekaan anak pada kata-kata, suara, ritme, perubahan bentuk kata, fungsi yang berbeda dari bahasa, fungsi bunyi, susunan kalimat, dan penggunaan kata/kalimat yang praktis.

Mengasah kemampuan linguistik seseorang tidak berarti mengerucut hanya pada profesi bidang bahasa atau sastra. Kemampuan ini dapat digunakan dalam bernegosiasi, melakukan penafsiran, berpendapat, menjual, berpidato, laporan narasi, menjelaskan sesuatu, membujuk, berinteraksi, penyunting bahasa, dan sebagainya. Ini berarti, kecerdasan linguistik akan berguna hingga dewasa (ketrampilan bekerja) bila diasah sejak kecil.

Menurut website linguistics.edu, kecerdasan linguistik tidak terbatas hanya pada anak-anak yang berbakat seni atau bahasa. Selain mampu berbahasa dengan baik, anak-anak juga dilatih berpikir secara logika dan menguatkan daya ingat/memori. Terlebih lagi, jika sejak dini anak-anak sudah membaca sastra, maka manfaatnya tidak sekadar bisa berpikir logika, tapi peka pada perihal kemanusiaan. Juga kritis dalam menanggapi sesuatu hal. Mengenal sastra adalah salah satu cara meningkatkan kecerdasan linguistik.

lingustik

Cara meningkatkan kecerdasan linguistik anak:

  • Orangtua membuat cerita yang disampaikan kepada anak. Kemudian anak menceritakan kembali melalui tulisan atau suara/ucapan kepada anak/orang lain.
  • Mengajak anak bermain permainan kata, misal scrabble, teka-teki silang, tebak-tebakan kata.
  • Membiasakan anak bercerita tentang kegiatan di sekolah/kursus atau apa saja mengenai kesehariaannya dalam bentuk jurnal atau verbal.
  • Menulis tentang tujuan tempat liburan yang ingin dikunjungi. Anak bisa mengungkapkan keinginan, deskripsi tempat, alasan pilihan, menetapkan waktu sehingga anak dapat berpikir, membangun imajinasi dan berekspresi bebas.
  • Mengenalkan anak pada buku bacaan (termasuk majalah untuk seusianya) dengan membaca bersama, pergi ke perpustakaan, dan menjadi anggota klub baca di internet atau non-internet. Mengenalkan anak membaca buku sastrawan, misal buku Pramoedya, NH Dini, dan lainnya. Membuat perpustakaan kecil di rumah.
  • Bermain satu hari satu kata. Permainan bisa berbagai cara: menyebarkan sepotong kertas berisi kata yang disembunyikan, atau menyebutkan satu kata baru kemudian menjelaskan arti/lawan/persamaan/pengunaan dalam kalimat. Bisa ditambah dengan gambar agar menarik.
  • Membuat puisi, cerita pendek, fiksi, prosa, atau satu paragraf yang bisa melatih menulis. Jika anak punya bakat dan minat dalam puisi, latih dirinya membaca puisi dan cerpen. Dan ikutsertakan dirinya mengikuti lomba.
  • Menjadwalkan kegiatan berdiskusi, mengeluarkan pendapat, memberanikan diri tampil dengan tema yang ringan terlebih dahulu atau sesuai umur anak.
  • Mendongengkan cerita kepada anak. Biasanya ini dilakukan kepada anak-anak di bawah usia lima tahun. Tapi banyak juga anak di bawah usia 12 tahun masih menyukai mendengar dongeng.
  • Mendengarkan musik sekaligus lirik-liriknya. Menyanyikan lagu di depan anak, turut sertakan anak dalam atmosfir gembira. Secara bergantian anak yang bernyanyi sehingga mereka mudah mengingat dan mengeluarkan apa yang ditangkap dalam ritme dan lirik (kata). Juga bisa sekaligus menciptakan lagu dan liriknya.

Emosi dan ekspresi dibutuhkan anak untuk berkembang dan menjadi pribadi mandiri. Karena kedua hal tersebut akan terus dipakai hingga mereka dewasa. Bunyi dan nada bisa pula merangsang sensitivitas, otak, pola pikir yang membantu perkembangan kemampuan/ketrampilan dan kecerdasan anak. Kecerdasan linguistik bisa membantu pemahaman pada pengertian kata-kata, bunyi bahasa, pengunaan bahasa, dan kaidah bahasa, dalam menuangkan karya yang unik.

Kecerdasan majemuk ini juga bisa memengaruhi reaksi emosional orang lain dengan menggunakan kata-kata yang mereka ciptakan.

Untuk meningkatkan serta mengembangkan kecerdasan linguistik, anak-anak  dapat diajak ke alam bebas. Orangtua dan anak sebelumnya bersepakat dalam menentukan tema, misal jalan-jalan ke Istana Bogor melihat hewan kijang. Anak-anak dilatih fokus linguistik dan bisa mengembangkan ketrampilan lain seperti mengambar kijang. Malah bisa juga bersama menciptakan tarian dengan sekumpulan kijang-kijang di Istana Bogor. (sn)