BNN

 

Dalam dua tahun ini, media memberitakan berbagai usia di bawah umur terindikasi menggunakan narkoba dan mengalami masalah kompleks, berurusan dengan hukum, dikucilkan masyarakat dalam lingkungannya, seperti diberitakan Harian Republika, pada 2014 lalu, ada 3 anak usia 17 tahun ditangkap karena menggunakan shabu, Tahun 2013 Pikiran Rakyat juga memberitakan hasil survey nya, bahwa pecandu narkoba pada umumnya anak usia antara 11-24 tahun. Dan menurut Badan Koordinasi Narkotika Nasional, pengguna narkoba pada remaja ada sekitar 7.000 siswa SMP, lebih dari 10.000 siswa SMU dan 800 siswa SD.

Ini adalah sinyal untuk segera membenahi tatanan penjagaan terhadap perilaku dan pergaulan sosial anak-anak Indonesia.

Peredaran narkoba yang banyak menyasar anak-anak harus segera dihentikan dengan tindakan tegas jika tak ingin Indonesia kehilangan generasi penerus berkualitas. Rata-rata pecandu narkoba pada anak usia produktif tentu sangat merugikan. Masa anak-anak seharusnya menimba ilmu sedalam-dalamnya untuk meneruskan pembangunan bangsa. Jika sebagian besar terganggu dengan masalah ini, kans lost generation terjadi.

Melihat kondisi anak-anak dan remaja yang hanya memahami sisi luar dari bahaya narkoba, solusi dari permasalahan di atas bisa diawali dengan edukasi ke setiap sekolahan, lingkungan masyarakat dan keluarga. Perlu dijelaskan bahwa bahaya narkoba berdampak jangka panjang. Menurut dr.Aisah Dahlan, aktivis BNN dalam seminarnya di sebuah Universitas di jakarta, menjelaskan bahwa dampak dari penyalahgunaan narkoba bisa menimbulkan komplikasi penyakit. Seperti Liver, TBC, Paru-Paru , Hepatitis B dan C, kerusakan otak, cacat, bahkan gangguan jiwa. “Bahkan ketika anak sudah pulih dari gangguan narkoba, ada kecenderungan tak bersemangat dan merasa boring, belum lagi godaan untuk menggunakan kembali yang menghampiri.” Tambah dr.Aisah.

Solusi untuk menyikapi penyalahgunaan narkoba pada anak :

Edukasi Keluarga di rumah

Dengan edukasi, salah satu senjata memerangi penyalahgunaan narkoba pada anak dan remaja. Luangkan waktu untuk berkumpul bersama, misalnya saat rekreasi, minum teh sore, kumpul di malam hari di ruang keluarga. Ciptakan satu topik tentang narkoba. Bahas dengan kombinasi cerita dan contoh kasus. Anak dan remaja pasti suka dengan metode seperti ini, Biasanya akan cepat menyerap dalam benaknya. Untuk melalui proses ini, orangtua juga harus melalui proses tahap belajar dulu, mengetahui apa itu narkoba serta dampaknya apa saja. Orangtua atau Kakak-kakak nya bisa mencari pengetahuan melalui buku bacaan, media, website BNN atau dari obrolan dan testimoni eks pemakai.

Baby Jim Aditya, aktivis narkoba, dalam penyuluhan tentang bahaya narkoba di Manggarai Jakarta Selatan menyatakan, bahwa para orangtua harus lebih paham wawasan tentang narkoba, seiring perkembangan zaman, banyak hal dan peralatan penyalahgunaan narkoba yang dibuat samar, bahkan menyerupai pealatan laboratorium kimia di sekolahan. “Misalnya, ada anak yang membawa bong sejenis alat penghisap shabu yang ditaruh di kamarnya. Tapi orangtua tidak tahu itu alat apa, sehingga kontrol pun lolos.” Kata Baby.

Menurut Baby Jim Aditya, ketika anak banyak bertanya soal narkoba, jangan dibatasi. Jawab saja dengan bahasa yang mudah dimengerti dan beri contoh kasus yang menguatkan. Sehingga anak punya gambaran dan dapat menangkap apa yang disampaikan dengan kapasitasnya.

Edukasi di Sekolah

Guru berperan juga dalam mendampingi anak didiknya di sekolah. Tak sedikit bandar dan kurir narkoba yang menyasar sekolahan sebagai target operasinya. Maka, guru harus bisa memberi wawasan dan saran agar anak-anak didiknya bisa membedakan mana ajakan yang bersifat negatif atau tidak. Sekolahan bisa bekerjasama dengan BNN atau instansi tertentu untuk mengulas edukasi tentang bahaya penyalahgunaan narkoba secara khusus.

Edukasi di Lingkungan

Lingkungan setempat sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak dan remaja. Selain edukasi dalam keluarga dan sekolah, di lingkungan pun perlu didampingi. Caranya, perhatikan siapa saja teman anak, bagaimana pergaulannya, gayanya dan pola berpikirnya. Setiap ada kumpul-kumpul di rumah, di kamar atau di rumah temannya, tetap awasi dengan elegan. Jangan terlihat seolah sedang diawasi. Orangtua bisa koordinasi dengan orangtua teman anak, jadi ada komunikasi saling menitipkan. Sehingga walaupun anak jauh dari pengawasan, masih bisa diperhatikan dengan bantuan ibu teman anak.

Lingkungan setempat, RT, RW atau kelurahan juga bisa bekerjasama dengan BNN atau suatu instansi untuk mengadakan penyuluhan rutin masalah narkoba.

Solusi untuk anak dan remaja yang telanjur kecanduan

Anak dan remaja yang sudah telanjur menyandu, bisa diatasi dengan rehabilitasi. Menurut UU No 35 Tahun 2009 tentang narkotika, bahwa pemakai dihukum dengan rehabilitasi. Dalam UU ini, sudah dibedakan antara kurir, produsen, bandar dan pemakai. Untuk pemakai dianggap sebagai korban, jadi hukumannya cukup direhabilitasi dan ini memberikan kesempatan anak atau remaja untuk menata masa depannya.

Anak atau remaja yang telanjur menyandu sebaiknya jangan dikucilkan atau dihukum dengan berbagai tekanan moral. Harus dirangkul dan diberi motivasi agar mau direhabilitasi. Setelah pulih, kasih semangat lagi untuk bergaul ke tengah masyarakat dan berkarya kembali.

Masalah narkoba yang masih rumit, perlu disikapi dengan tegas bersama seluruh elemen masyarakat. Mulai dari pemerintah, organisasi, komunitas dan masyarakat umum. Hal ini tak dapat didiamkan. Sejumlah kebijakan perlu diterapkan dengan tepat. Dan mengatasi darurat narkoba adalah tanggung jawab bersama. Untuk menyelamatkan generasi penerus berkualitas.

By : Ani Berta