Pembukaan Roadshow Serempak tahun 2018 di Pekanbaru  tepatnya tanggal 23 Mei 2018 di sambut dengan hujan lebat tetapi tidak membuat seluruh tamu undangan untuk malas melangkahkan kaki ke gedung STIKES Hangtuah Pekanbaru, dan saya pribadi semakin penasaran untuk mengetahui keseruan yang ada diacara tersebut. Dan saya adalah tamu undangan yang pertama kali datang. Ini adalah acara ke 3 kali nya saya bertemu dengan ibu cantik “Bu Martha” seorang ibu yang sangat cerdas dan energik, selalu membuat kami ibu-ibu organisasi perempuan untuk selalu bersemangat dalam segala hal terutama tak henti-hentinya menyemangati kami agar menulis…menulis….dan menulis. Dan saya pun termotivasi untuk itu.

            Roadshow 2018 di Pekanbaru ini dibuka dengan tarian Laksamana Hang Tuah yang dihadiri oleh Plt. Walikota Pekanbaru Bapak H.Ayat Cahyadi, S.Si.dengan mengambil tema : SEREMPAK CERDAS : IINTERNET SEHAT MENUJU IBU SEJAHTERA DAN ANAK BAHAGIA”.

            Sekelumit tentang sejarah tarian Laksamana Hang Tuah yang merupakan cerita rakyat Riau adalah seorang ksatria dan tokoh legendaries Melayu pada masa pemerintahan Kesultanan Malaka dan seorang pelaut dengan pangkat Laksamana  yang merupakan petarung yang hebat didarat dan dilautan yang bernama Hang Tuah yang tinggal di Pulau Bintan yang berada di Perairan Riau. Orang tua dari Hang Tuah sudah mempunyai firasat bahwa anaknya akan menjadi orang yang terkemuka. Sejak usia 10 tahun Hang Tuah sudah berlayar ke Laut Cina Selatan disertai empat sahabatnya, yaitu Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lekir dan Hang Lekiu. Dalam perjalanannya, mereka berkali-kali diganggu gerombolan lanun. Dengan segala keberaniannya mereka mampu mengalahkan gerombolan itu sampai akhirnya berita tersebut sampai ke telinga Bendahara Paduka Raja Bintan yang sangat kagum dengan keberanian mereka. Laksamana Hang Tuah sering melawat ke luar negeri hingga ke negeri Judah dan Rum untuk memperluas pengaruh kerajaan Melaka di seluruh dunia.

            Kembali ke cerita tema serempak, tentang internet, pikiran saya langsung tertuju pada anak saja, usia 10 tahun kelas 5 SD,,karena dia paling protes dengan bundanya karena tidak boleh menggunakan internet atau media sosial apapun,,kecuali mencari tugas dengan didampingi bundanya,dan selalu berdebat panjang dengan bundanya ,karena teman-temannya disekolah sudah menggunakan semua. Alhamdulillah saya bisa mengikuti roadshow ini,,,setelah pulang dari acara roadshow saya langsung buka laptop di depan anak saya, dan seraya mengatakan, coba liat apa yang bunda bawa pulang dari acara roadshow ini,,,dengan duduk manis dan jari tangannya membuka slide power point satu persatu dan mengucapkan astaqfirullah,,,bahaya banget ya bunda.

            Dan anak saya berulang-ulang membaca, akibat kebanyakan main gadget adalah cahaya ponsel memicu kegemukan, tidur tidak nyenyak, proses detox tubuh terganggu, tegang terus menerus, otak bekerja terus menerus sehingga dapat merusak sel otak, yang dapat menimbulkan penyakit seperti pelupa, Alzheimer, tidak konsentrasi, tidak bisa menghitung, berantakan (baik kamar tidurnya, buku, pakaian dll), kehilangan memori, sulit belajar dan mata rusak. Dan setelah tau info tersebut, setiap sepupunya yang datang kerumah selalu di beritahu nya tentang bahaya gadget tersebut.

         Bila dikaitkan dengan tema serempak,,anak adalah amanat yang harus dipikul oleh orangtua, terutama ibu,,yang selalu menjadikan rumah sebagai lembaga pendidikan sekolah pertama untuk mendidik anaknya dengan penuh kecintaaan, kasih sayang dan agama agar anak menjadi pemimipin yang bertakwa dan handal.

(Tarian Laksamana Hangtuah dibawakan oleh mhs/i STIKES Hang Tuah)

(Pembukaan dihadiri oleh Plt.walikota Pekanbaru beserta tamu undangan lainnya)

Mendidik anak dengan dimanja dan hidup tanpa aturan, membiasakan anak hidup mewah, dan memberikan kepada anak segala apa yang diinginkannya, tanpa dapat menolak sedikitpun, seorang ibu dapat dikatakan orangtua yang membentangkan tangannya dengan pemberiannya padahal anaknya menggunakan uang itu untuk berlama-lama di warnet (contohnya) akan menjadikan hal yang sia-sia saja. Adalakanya seorang ibu memberikan kepada anaknya sesuai yang diinginkan manakala mereka terutama anak-anak kecil menangis dihadapan ibunya minta android.  Oleh karena itu sering terjadi saat anak-anak kecil meminta sesuatu kepada ibunya mereka akan menangis sampai apa yang dimintanya itu diperolehnya. Disaat anaknya menangis seorang ibu memberikan perhatian dan memberikan apa yang diminta karena rasa belas kasihan kepada anaknya dan berharap anaknya diam dari tangisannya. Menurut pendapat saya hal, hal semacam ini merupakan kerusakan di satu segi karena dapat menyebabkan anak tersebut nakal dan lemah.

            Memberikan android dan tidak mengawasi anak serta tidak memberikan pada handphonenya bahkan memberikannya pada setiap anaknya baik laki-laki ataupun perempuan, seorang ibu tidak menyadari bahwa jika penggunaannya salah, android akan menjadi faktor perusak  dan pemusnah karena akan banyak timbul kejahatan.

            Pemateri 1 ibu Astari Yanuarti menyampaikan materi dengan tema “CERDAS BERMEDIA SOSIAL”,, dimana dikatakan bahwa pemakai media sosial di Indonesia yang paling banyak adalah pengguna facebook (115 juta), youtube (50 juta), Instagram (45 juta) hal ini menandakan bahwa orang Indonesia rata-rata bisa menghabiskan waktu tiga jam 23 menit sehari untuk mengakses media sosial.

            Internet tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari anak muda zaman sekarang. Sebanyak 49,52 % pengguna internet di tanah air adalah mereka yang berusia 19 tahun hingga 34 tahun.[1]  Hal tersebut menimbulkan profesi-profesi baru di dunia maya, contohnya selegram (selebritas instagram), You Tuber (membuat konten You tube) dan menjamurnya perusahaan rintisan digital atau startup.

            Pemateri ke II disampaikan oleh bapak Yanwar Arief, M.Psi seorang Psikolog mengambil tema dengan judul “KEKERASAN SEKSUAL PADA ANAK”, beliau mengatakan hendaknya gadget baru dikasih kepada anak setelah usia 13 tahun dan bagi orang tua hendaknya menggunakan gadget itu dengan membuat jadwal sehingga perhatian orang tua ke anak tidak terbagi.

Pada tahun 2014 kasus kekerasan seksual pada anak di Provinsi Riau tercatat sebanyak 14 kasus. Pada tahun 2015 terjadi peningkatan dari 14 kasus menjadi 28 kasus. Tahun 2016 kasus kekerasan seksual pada anak semakin menigkat dengan jumlah kasus sebanyak 45 kasus, Tahun 2017 angka kekerasan seksual sudah mencapai 26 kasus.[2]  Bentuk-bentuk kekerasan seksual itu adalah Familial Abuse, Extra Familial Abuse, Perkosaan, Sodomi, Oral Seks, Sexual Gesture, Sexual remark, Pelecehan seksual.

            Setelah pemateri memberikan penjelasan dilanjutkan dengan tanya jawab dan permainan lainnya,,,,semua undangan dan panitia berfoto bersama.(Zulhaida Endriani)

Sumber :

  1. [1] https://tekno.kompas.com/read/2018/02/22/16453177/berapa-jumlah-pengguna-internet-indonesia
  2. [2] Sumber : P2TP2A PROV. RIAU