Semua orang berhak atas hak dan kewajibannya sebagai makhluk yang diberi akal oleh Tuhan. Tak terkecuali anak-anak. Mereka adalah bagian dari peradaban, jadi sudah sepantasnya kita turut menghargai hak anak dalam masyarakat. Orang tua tidak boleh abai, karena anak adalah penerus bangsa ini.

Hak anak termuat dalam UUD RI Nomor 4 Tahun 1979, di mana anak berhak atas perlindungan, kesejahteraan, pelayanan, bimbingan yang penuh kasih sayang dari keluarga dan juga pihak terkait. Selain itu, anak berhak atas pemeliharaan dan perlindungan dari lingkungan yang membahayakan atau menghambat tumbuh kembangnya. Sayangnya yang banyak terjadi sekarang ini, child abuse atau kekerasaan pada anak marak terjadi dan merampas hak anak dalam masyarakat. Di bawah ini adalah macam-macam bentuk kekerasan pada anak:

1. Penganiayaan

Penganiayaan adalah bentuk  child abuse atau kekerasan anak yang sering terjadi. Kekerasan yang mengakibatkan banyak hak anak dalam masyarakat yang terampas termasuk di dalamnya hak untuk mendapatkan perlindungan. Penganiyaan ini dapat berupa fisik maupun batin yang berpengaruh terhadap kondisi anak itu sendiri. Anak yang mengalami kekerasan pada fisiknya dapat mengakibatkan cacat mental, trauma, bahkan kematian. Bisa berakibat juga anak berpotensi menjadi penjahat, jika sedari kecil sering mengalami kekerasan dan tidak ada tindak lanjut atau pengobatan atas rasa sakitnya.

2. Pelecehan Seksual

Saat ini pelecehan seksual sedang marak terjadi, tak terkecuali pada anak-anak. Pelecehan seksual tidak hanya dalam wujud pemerkosaan, tetapi bisa dalam bentuk lain seperti memasukkan benda asing atau menyentuh pada alat vitalnya dengan tujuan memuaskan gairah pelaku,   yang kadang kala membuat sang anak merasa ketakutan. Hal-hal seperti di atas kadang tidak disadari oleh para orang tua dan anak juga merasa takut untuk menceritakan kejadian yang dialami. Tentu saja, ini bisa membuat anak kehilangan gairahnya, cenderung menarik diri dan menjadi pendiam.

3. Penolakan

Bentuk child abuse lainnya hadir dalam bentuk penolakan. Mengapa demikian? Anak yang merasa kehadirannya tidak diinginkan oleh orang tuanya adalah salah bentuk pengabaian. Orang tua yang bersikap acuh terhadap anak dan menunjukkan ketidaksukaanya akan menghambat tumbuh kembang anak itu sendiri. Mereka yang merasa kehadirannya tidak begitu penting cenderung tumbuh menjadi anak yang pesimis dan tidak memiliki semangat hidup, sebab bagi mereka pencapaian apapun yang didapatnya tidak akan bernilai apa-apa di mata orang tuanya.

4. Eksploitasi Anak

Anak adalah tonggak penerus bangsa ini, dipundaknya lah tersemat harapan bangsa di masa depan. Mendukung anak-anak bekerja di jalanan, baik itu sebagai pemulung, penjaja makanan dan minuman, serta mengamen adalah salah satu bentuk eksplotasi pada anak. Memaksa anak untuk bekerja pada usia kanak-kanaknya demi keuntungan ekonomi, sosial, dan politik tanpa memperhatikan hak anak seperti perkembangan fisik dan mentalnya.

5. Bullying

Bullying beda dengan pertengkaran, di mana pertengkaran biasanya dilakukan oleh kedua belah pihak yang memiliki kekuatan yang sama. Sementara itu, bullying adalah penindasan yang dilakukan oleh satu pihak terhadap pihak lain yang lebih lemah. Tindakan bullying termasuk kekerasan yang fatal. Anak yang mengalami bullying di masa kecilnya akan sulit membangun relasi, menjadi penyendiri, dan sulit bersosialisasi. Bahkan jika tindakan bullying ini dilakukan berulang-ulang, anak akan mengalami gangguan mental, kognitf, serta fisik hingga dewasa nanti. 

6. Membatasi Anak

Membatasi anak termasuk kekerasan secara emosional. Menyuruh anak untuk tetap di dalam rumah dan tidak membiarkannya bersosialisasi dan bergaul dengan teman sebayanya Hal ini bisa mengganggu tumbuh kembang anak, khususnya dalam berinisiatif dan bersosialisasi. Child abuse semacam ini dilakukan oleh orangtua yang acuh terhadap hak anaknya, dan tentu saja anak akan mengalami hambatan di masa depannya karena kurangnya sosialisasi sejak kecil. Bentuk pembatasan ini dianggap kekerasan tergantung pada situasi dan tingkat keparahannya.

Banyaknya kekerasan pada anak berupa fisik dan juga verbal membuat banyak hak anak dalam masyarakat menjadi terabaikan. Anak harus tumbuh dan berkembang dengan normal,  peran berbagai pihak sangatlah dibutuhkan untuk mencegah terjadinya beragam bentuk child abuse. Khususnya bagi keluarga sebagai orang terdekat anak, masyarakat sekitar, maupun pemerintah dalam hal ini Komisi Perlindungan Anak. Upaya pencegahan bisa dilakukan dengan melakukan sosialisasi dan penyuluhan terkait apa saja hak anak yang harus diperhatikan.(slk)