Cyber Crime atau kejahatan dunia maya adalah istilah yang mengacu kepada aktivitas kejahatan dengan komputer atau jaringan komputer (wikipedia).

 “What?? You cook? Really? Kamu kan susah hafal resep?” tanya Delia pada Tatia, sahabatnya.

“Ih, 2017 kok masih bingung mikir resep. Googling dong. Manfaatin tuh smart phone dan internet.” sahut Tatia.

Familiar sama kalimat di atas? I bet you are.

Gadget, smartphone, internet, dan hal googling meng-googling rasanya sudah menjadi bagian dari keseharian kita. Can’t get enough of it. Sehari tanpa smartphone, pasti terasa ada yang hilang.

Tidak hanya berkaitan dengan sosial media yang kita miliki, tapi memang ada banyak sekali hal yang bisa kita dapatkan hanya dengan usapan jari.

Resep, fashion, review makanan atau film, booking hotel atau tiket perjalanan, design interior idea, bahkan sampai gosip bisa kita dapatkan di sini.

Tapi sadarkah kita, bahwa dengan segala kemudahan yang ditawarkan oleh internet ada bahaya besar yang ikut mengintai?

Sadarkah kita, bahwa sebagai perempuan, kita rentan sekali dengan bahaya besar tersebut?

Mungkin tidak.

Hal inilah yang membuat Serempak Id dan Iwita mengadakan roadshow seminar Waspada Cyber Crime di beberapa kota, salah satunya di Jogjakarta.

Awalnya sih, saya pikir acara ini akan berat banget dipahami hehe. Tapi syukurlah, kekhawatiran saya sama sekali tidak terbukti. Seminar yang diadakan di STMIK Jendral Achmad Yani, Yogyakarta ini justru malah sangat menyenangkan. Pembicaranya juga seru. Baru kali ini ada workshop cyber crime tapi audiencenya ngakak terus. thumbs up for Serempak id dan Iwita.

Acara ini dibuka dengan  satu tarian “Nona Masih Sendiri” yang berasal dari NTT yang keren banget.

Kenapa memilih Yogyakarta sebagai salah satu kota tujuan road show? Karena kota ini adalah kota pelajar yang termasuk ke dalam smart city. Keberagaman budaya yang ada di Jogja membuat kota ini menjadi salah satu kota dengan pengguna internet yang besar.

 

Apa Itu Cyber Crime

Berdasarkan pada dokumen kongres PBB tentang The Prevention of Crime and The Treatment of Offlenders, di Havana, Cuba pada tahun 2000 menyebutkan ada dua istilah cyber crime.

Cyber crime in a narrow sense (dalam arti sempit) disebut computer crime: any illegal behavior directed by means of electronic operation that target teh security of computer system and the data processed by them.

Cyber Crime in a boarder sense (dalam arti luas) disebut computer related crime: any illegal behavior comitted by means or relation to, a cmputer system offering or system or network, including such crime as illegal possession in, offering or distributing informations by means of computer system or network.

Jadi bisa disimpulkan: segala kejahatan yang ditimbulkan atau disebabkan oleh teknologi (internet, gadget, smartphone, email, SMS, dll) bisa dikategorikan sebagai cyber crime.

 

Macam-Macam Cyber Crime

 “Hai dear, nama saya Anita Jackson. Saya adalah orang Indonesia yang menikah dengan orang Amerika. Saat ini saya sedang terlibat masalah besar. Suami saya meninggal dunia dan mewariskan uang sebesar  500.000 US dolar. Tapi keserakahan menguasai saudara suami saya. Saya ingin menitipkan uang saya di rekening anda. Saya ketakutan, tidak punya siapapun di negara ini. Nyawa saya dan anak saya terancam.  …”

Atau pernah anda di add oleh pria bule yang memuji anda setinggi langit, kemudian kalian berpacaran, dan ketika sang kekasih hendak berkunjung ke Indonesia, dia mengabarkan bahwa dia tertahan di Bea & Cukai karena membawa uang ratusan ribu dolar Amerika atau hadiah-hadiah mahal. Kemudian dengan panik menghubungi anda dan meminta anda mengirimkan sejumlah uang untuk membayar denda Bea dan Cukai tadi?

Pernah mengalami hal seperti ini? Mungkin sering. Ada yang pernah merespon/membalas email tersebut? Saya harap tidak.

Karena itu adalah salah satu contoh cyber crime yang melibatkan email anda. Bila anda merasa kasihan kemudian terbujuk untuk menuruti keinginan mereka, mungkin saja anda akan tertipu mentah-mentah.

Kisah-kisah di atas adalah cyber crime yang menyerang kondisi psikologis seseorang hingga bisa menimbulkan rasa iba dan kemudian memudahkan mereka untuk melakukan aksi jahatnya.

Tapi kenapa Iwita sangat menyoroti kaum perempuan dan anak di sini?

Karena kaum perempuan lebih dekat dengan teknologi dan rentan terhadap penipuan.

Di tahun 2010, beberapa artikel menjelaskan bahwa pengguna BBM adalah perempuan, dan 50 % dari itu adalah perempuan rumah tangga. Bukan pegawai kantoran. Pengguna facebook tercatat 72% adalah perempuan. Jadi, bila saat ini diperkirakan member facebook ada 680 juta jiwa, berarti hampir 500 juta diantaranya adalah perempuan. Bahkan 68% dari pelaku transaksi online adalah perempuan. (Sumber: witeger.com)

Komnas Perempuan mencatat, pada saat ini, terdapat 16.217 kasus kekerasan pada perempuan yang berhasil didokumentasikan.

Sedangkan untuk kejahatan pada anak, berdasarkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia, sepanjang tahun 2015, ada sekitar 3.700 anak yang menjadi korban kekerasan.

Berdasarkan penjelasan dari Bp. Surahyo Sumarsono , B. Eng, St (Konsultan dan Pengajar IT), ada beberapa contoh cyber crime yang marak terjadi. Beberapa diantaranya adalah:

  1. Pornografi

Di mana pelaku sengaja membuat, memasang, mendistribusikan, dan menyebarkan material yang berbau pronografi

  1. Human Traficking

Penjualan manusia, yang pada umumnya korban adalah perempuan usia muda-dewasa dan anak-anak, secara paksa –bisa dengan proses penculikan, ancaman, dll-. Umumnya para korban human traficking ini akan dijadikan budak seks atau PSK di banyak negara.

  1. Profiling

Pelaku akan mengamati korban dari media sosialnya, kemudian menduplikasi dan berpura-pura menjadi si korban untuk mengambil data bahkan bisa sampai dengan harta.

  1. Virus

Virus/malware adalah salah satu kejahatan yang sengaja dilakukan oleh hacker –black hat hacker- untuk merusak jaringan kita bahkan sampai membajak akun dan mengambil/menghapus data-data yang kita miliki

  1. Hacking

Pernah mengalami akun media sosial kita tiba-tiba tidak bisa diakses dan kemudian sudah berganti nama/pemilik? Ini adalah salah satu ulah hacker yang sekarang marak terjadi. Akun instagram yang biasanya memiliki ribuan atau puluhan ribu follower sangat rentan akan pembajakan jenis ini.

“Bahkan saat ini kejahatan fraud juga mulai menyerang bidang kesehatan seperti pembajakan klaim BPJS yang dilakukan oleh instansi kesehatan demi mendapatkan untung berlipat” pungkas Bp. Surahyo.

 

Pencegahan dan Penanggulangan Cyber Crime

Menurut Ibu Norma Sari, S.H, M.Hum –Dosen FH Univ Ahmad Dahlan dan juga aktivis perempuan dan anak) manusia pada saat ini banyak sekali yang terserang sindrom FOMO.

FOMO atau Fear Missing Out adalah sebuah sindrom di mana manusia selalu ingin terlihat eksis di media sosial. Selalu ingin “pamer” apapun yang menjadi kesibukannya pada publik.

“Sindrom FOMO ini lah yang menyebabkan kita saat ini lebih takut ketinggalan gadget, daripada ketinggalan gadget.” jelasnya dengan lucu.

Sindrom ini juga lah yang semakin menimbulkan maraknya cyber crime.

Karena apa? Karena ternyata, data pribadi kita bisa disimpulkan dari aktifitas media sosial yang kita lakukan.

Dengan maraknya kejahatan di dunia maya, apakah kita harus menutup semua akun media sosial kita? Tentu saja tidak. Tapi alangkah lebih baiknya jika kita sebagai perempuan pada khususnya, mau belajar dan melek teknologi. Apa gunanya?

Tentu saja untuk membentengi diri dan meminimalisir kemungkinan kita sebagai korban cyber crime.

Berikut beberapa tips menurut para nara sumber yang bisa saya simpulkan untuk mencegah dan menanggulangi cyber crime.

  1. Pemberian Edukasi Seputar Cyber Crime

“Negara yang tidak mendidik dan melatih kaum wanitanya bagaikan orang yang hanya melatih tangan kanannya” – Pluto (Source: http://perempuan-tik.blogspot.com/2011/04/iwita.html).

Kalimat itu seakan menegaskan betapa pentingnya kaum perempuan dan juga anak-anak mendapatkan perhatian khusus.

Apakah hanya menjadi tugas negara? Tentu saja tidak.

Pemberian edukasi seputar kejahatan dunia maya perlu ditanamkan mulai dari desa sampai ke kota, mulai dari anak-anak di usia sekolah yang juga sangat rentan, sampai para wanita dewasa yang sangat dekat dengan internet.  Hal ini diharapkan menjadi salah satu benteng bagi kaum wanita untuk melindungi dirinya dan keluarga dari cyber crime.

  1. Ketahanan Keluarga

Keluarga adalah salah satu benteng utama dalam mencegah maraknya cyber crime. Orangtua sudah sepatutnya “selalu kepo” pada kegiatan anak terutama dalam bermedia sosial. Kita harus benar-benar mengawasi dan mengarahkan anak bagaimana bermedia sosial yang bijak. Lebih baik dianggap cerewet kan daripada menyesal nantinya?

  1. Jangan Pernah Memamerkan Pass boarding di Media Sosial

Karena ingin pamer karena bisa dan mampu naik pesawat, dengan entengnya kita mengunggah foto pass boarding kita ke media sosial. Hati-hati, barcode yang terdapat di  tiket kita itu merupakan kunci untuk membuka data pribadi milik kita. Misal pun ingin mengunggahnya, pastikan bagian barcode anda watermark atau di-crop.

  1. Hati-Hati dengan Gadget dan Memory Card Anda

Pernah berfoto dengan pose sedikit menggoda dan kemudian menyesal kemudian menghapusnya?

Hati-hati dengan memory card yang pernah kalian gunakan. Data di dalamnya masih dapat terbaca oleh pihak lain meski kita sudah menghapusnya. Ingin membuangnya karena sudah rusak? Lebih baik hancurkan atau patahkan memory card tersebut.

  1. Hati-Hati dengan Apa Yang Kalian Posting

Sekali memposting –foto, twit, komen, data, dll-, maka tidak akan bisa hilang selamanya. Mungkin kita bisa menghapusnya dari media sosial milik kita. Tapi data tersebut pastinya sudah terekam oleh pihak media sosial/pihak kedua dan bisa dengan bebas disebar luaskan.

  1. Terlanjur Menjadi Korban? Jangan Ragu Untuk Melaporkan. Para pelaku cyber crime bisa dijerat dengan UU ITE No. 11 tahun 2008 yang telah disahkan pada 21 April 2008. Meski belum ada PP yang menjadi teknis pelaksanannya, diharapkan ini bisa menjadi cyberlaw untuk menjerat para pelaku kejahatan.
  2. Jangan segan melaporkan pada pihak berwenang, jika kita mendapatkan email atau sms mencurigakan dan mengetahui adanya investasi bodong.

Pernah  mendapatkan sms bahwa kita memenangkan hadiah mobil? Atau mendapat sms, bahwa kita diminta mengirimkan uang ke no rekening tertentu karena no rekening pertama salah? Atau pernah mendapat sms “Mama minta pulsa”?

Maraknya penipuan berdasarkan SMS palsu membuat hal ini dikategorikan sebagai cyber crime.

 Salah satu contoh cyber crime melalui email

Sekilas tentang IWITA

Jujur, ini kali pertama saya mendengar apa itu IWITA. Nah, jika kalian penasaran. Simak penjelasan di bawah ini. IWITA (Indonesian Women IT Awareness) adalah Organisasi Perempuan Indonesia Tanggap Teknologi Informasi.

Merupakan organisasi berbadan hukum yang memiliki kegiatan dibidang Sosial dan bersifat Nirlaba yang memiliki kegiatan antara lain

  1. Menyelenggrakan kegiatan pendidikan, pelatihan, seminar, lokakarya, sosialisasi, promosi dan lain sebagainya yang berhubungan dengan bidang perempuan dan teknologi informasi.
    b. Memberikan masukan kepada Pemerintah berkaitan dengan regulasi dan kebijaksanaan yang menyangkut bidang teknologi informasi.
  2. Menghimpun, mengelola dan mengembangkan bahan kepustakaan yang berhubungan dengan bidang perempuan dan teknologi informasi.
  3. Menerbitkan bulletin, jurnal maupun dokumen lainnya baik untuk kepentingan anggota, masyarakat umum dan pemerintah Republik Indonesia
  4. Mengadakan kerjasama dengan asosiasi lainnya baik di dalam maupun di luar negeri

Saat ini, menurut Ibu Martha Simanjuntak, sedang mengkampanyekan program 3Ends. Ends Violence Againts Woman and Children, Ends Human Trafficking, and End Barriers to Economic Justice.

(mengakhiri Kekerasan pada perempuan dan anak, mengakhiri Human Trafficking, dan mengakhiri pembatasan akses perempuan terhadap ekonomi dan teknologi).

Sebagai perempuan dan seorang Ibu, pasti kita menginginkan kaum perempuan dan anak-anak kita selalu terjaga dari kejahatan dunia maya.

Maka dari itu, marilah kita bersama-sama belajar agar menjadi perempuan mandiri yang cerdas dalam teknologi dan juga cerdas bermedia sosial.

Maka dari itu, marilah kita bersama-sama berusaha mensukseskan program 3Ends demi terwujudnya generasi muda dan perempuan yang berkualitas.

“JARIMU HARIMAUMU! JAGA JARI TELUNJUK KITA KAREN KITA TIDAK HANYA BISA MENJADI KORBAN TAPI JUGA BISA MENJADI PELAKU CYBER CRIME” –Ibu Norma-

Keseruan Jogja. Thanks to Serempak dan Iwita. (Ana Ike Indarwati)