Oleh Memez Heidy Prameswari

“Saya sebenarnya tidak suka menggunakan sosial media. Bahkan Cenderung tidak aktif, “ Nova Eliza mengaku. Perempuan cantik kelahiran Aceh, 4 Juni 1980 ini dengan blak-blakan mengaku ketidaksukaannya pada sosial media pada acara roadshow SEREMPAK, yang digelar di Hotel Sari Pan Pacific Jakarta, 1 Agustus 2016 silam.
Alasan Nova Eliza tidak secara aktif menggunakan sosial media karena berbagai faktor. Selain karena kesibukannya sebagai aktris, penyanyi sekaligus Instruktur Yoga, Nova Eliza juga kerap menemui hal tidak menyenangkan di ranah sosial media. Namun, belakangan ketidaksukaannya terhadap penggunaan sosial media berubah seratus delapan puluh derajat setelah Ibu satu anak ini mendirikan Yayasan Suara Hati. sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat yang punya kepedulian terhadap perempuan yang menjadi korban kekerasan.

NOVA-ELIZA

Semenjak mendirikan Suara Hati pada Desember 2015, Nova Eliza giat mengkampanyekan misi dari Yayasan yang didirikannya. Salah satu cara yang digunakannya adalah menggelar pameran foto yang menampilkan 60 orang tokoh publik dengan ekspresi perempuan yang mengalami penindasan. Pameran foto ini telah digelar di sejumlah kota, seperti Bali, Makassar, Surabaya, dan saat ini tengah digelar di Erasmus Huis, Jakarta.
Kepedulian Nova Eliza di gerakan sosial Suara Hati ini diakuinya sebagai keseimbangan dalam hidup. Jika di industri hiburan dia mencari uang, di gerakan sosial, Nova Eliza mengaku mendapatkan kebahagiaan batin yang tidak didapatkannya ketika bergelut dengan dunia keartisan.
“Saya belajar dari Ayah yang pernah menjadi Bupati Pidie, yang sangat peduli dan membantu orang yang mengalami kesusahan,” Jelasnya.
Terlibat aktif dalam gerakan sosial diakui Nova Eliza tentu saja harus membuang jauh-jauh tujuan mencari uang.
“Bahkan, saya harus kreatif dan bekerja keras mengumpulkan dana untuk gerakan ini,” Terang Nova Eliza.
Dana yang terkumpul nanti, akan digunakan Yayasan Suara Hati untuk membangun rumah singgah di Aceh dan Jakarta.
Slide1

Dana yang berhasil dikumpulkan Suara hati akan digunakan untuk membangun rumah singgah di Aceh dan Jakarta. Kenapa Aceh? Sebagai perempuan yang lahir dan tumbuh besar di provinsi paling barat di Indonesia ini, Nova tahu benar banyak perempuan yang menjadi korban kekerasan masa lalu yang dilakukan oleh GAM.
“Banyak perempuan yang menjadi korban kekerasan, ada yang diculik, dan hal ini tentu saja meninggalkan luka yang mendalam.” Jelas Nova dengan nada getir.
Untuk menyebarkan misi mulianya ini, Nova kemudian giat berkampanye lewat sosial media.
Loh, jadi aktif bersosial media? “Iya dong. Kemudian saya melihat sosial media ini sebagai salah satu sarana tepat untuk menyebarkan misi Yayasan Suara Hati. Apalagi, bagi perempuan yang tidak berani melapor secara langsung, bias curhat atau melapor melalui akun sosial media.“ jelas Nova yang hari itu terlihat lebih segar dengan rambut tergerai dan balutan celana ripped jeans.
Salah satu hambatan yang dirasakan Nova Eliza dalam memberikan pendampingan terhadap perempuan yang menjadi korban kekerasan seringkali justru berasal dari korbannya sendiri. “Mereka enggan bersuara. Sebagian masyarakat yang masih menganut budaya patriarki membuat banyak korban kekerasan tidak berani berbicara.” Kisah Nova Eliza.
Untuk memuluskan misinya, Nova menggandeng Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan). Kerjasama ini diwujudkan dalam bentuk advokasi dan pendampingan. Ke depannya, Nova berharap bisa bekerja dengan Komnas HAM.

Slide2

Gerakan Suara Hati yang digagasnya, membuat Nova Eliza kini bermetamorfosa sebagai Aktivis Sosial, dan Internet sebagai jendela dunia tanpa batas membuat setiap kampanye dari gerakan sosialnya terpublikasi dengan luas, tanpa batasan ruang dan waktu. Harapannya, dengan bantuan Internet, semakin banyak perempuan korban kekerasan yang berani bersuara dan memperoleh pendampingan untuk perbaikan kualitas hidupnya.
Kekerasan yang dialami perempuan memang menjadi salah satu pekerjaan rumah dari pemerintah Indonesia. Dalam Catatan tahunan selama 2015 yang dirilis Komnas perempuan pada 7 Maret 2016 silam, pola, bentuk dan angka kekerasan terhadap perempuan kian meluas.

Jadi, kalau Nova Eliza saja peduli, bagaimana dengan kita? Sudahkah kita berperan atau minimal tidak diam saja melihat perempuan yang menjadi korban kekerasan di sekitar kita?

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba menulis serempak