Beberapa hari lalu, saya menulis sebuah status di FB. Status tentang bunuh diri. Begini status saya,

Papah saya punya kebiasaan berolahraga setiap hari di salah satu taman di Jakarta kalau hari kerja dan di komplek kalau weekend. Beberapa hari lalu papah cerita saat sedang berolahraga, ada yang gantung diri di pohon. Saya mendengar ceritanya aja langsung jiper. Kebayang kan lagi berolahraga seperti biasa tau-tau malah menemukan orang gantung diri? Tapi berita ini memang kalah gaungnya karena di hari yang sama vokalis Linkin Park juga bunuh diri.

Tadi pagi, mata masih kriyep-kriyep, mamah saya mengabarkan kalau kepala koordinator satpam komplek melakukan bunuh diri di rumahnya. Duh! Saya lagi-lagi merinding.

Maraknya bunuh diri membuat saya berpikir. Sekadar menghakimi aja kayaknya gak tepat, ya. Ibaratnya seperti kita sedang sakit trus tau-tau ada yang bilang, “Kerja melulu, sih makanya kecapean trus sakit.” Seringkali kali yang sakit tau kok penyebabnya apa. Tapi apakah sebelum sakit orang-orang terdekat sudah mengingatkan?

Gak bermaksud menyalahkan orang terdekat juga. Justru saya lagi berpikir banget ini. Karena kadang mereka yang depresi pun mampu menutupinya dengan baik.

Sekitar 1-2 tahun lalu juga anak tetangga ada yang bunuh diri. Diduga penyebabnya sejak ditinggal wafat ibunya, anak tersebut kesepian. Sempat curhat di WAG kalau dia mau bunuh diri tapi dianggap becanda ma teman-temannya. Sampai kemudian ada yang nanggapin serius tapi sayang udah terlambat.

Sepagian ini saya jadi mikir udah sedekat apa hubungan dengan keluarga? Hubungannya sih baik-baik aja tapi apa sampai ke hati, ya? Saya sih merasa begitu. Tapi tetap kembali introspeksi. Semoga memang selalu baik-baik saja.

Lindungi kami semua ya, Allah. Amiin

Setelah status itu, berturut-turut saya membaca berita lainnya tentang bunuh diri. Kakak beradik yang bunuh diri dengan meloncat dari lantai salah satu apartemen di Bandung. Seorang gadis remaja yang sebelumnya heboh dengan berita uang 42 juta itu sekarang dikabarkan tewas dengan dugaan bunuh diri.

Saya tidak tahu apakan bunuh diri merupakan suatu fenomena atau bukan. Semakin maraknya berita bunuh diri membuat saya berpikir, apa yang harus saya lakukan terutama untuk anak-anak?

Saya sudah mengajak anak-anak berdiskusi dan meminta mereka untuk tidak melakukan hal seperti itu, seberat apapun masalah yang kelak mereka akan dapatkan. Saya berusaha menjadi pendengar yang baik sejak mereka masih anak-anak.

Saya pernah membaca kalau curhat bisa menjadi salah satu cara ampuh untuk mengurangi atau menghilangkan depresi. Seringkali mereka yang sedang depresi hanya butuh pendengar yang baik. Jangan pernah pula menganggap remeh orang yang sedang curhat. Kadar ringan atau berat permasalahan yang dirasakan setiap orang bisa berbeda.

“Jangan dianggap bercanda kalau teman atau saudara sudah ngomong atau teriak minta tolong atas depresi yang dialaminya,” ujar Psikolog klinis Liza Marielly Djaprie

“Perhatikan perubahan perilaku, misalnya menutup diri, kehilangan minat dan hobi, kebiasaan sehari-hari kalau biasanya bekerja jadi ogah-ogahan. Mulai didekati dan ditanya untuk membuka kesempatan penderita berbicara,” ucap Liza. (Republika.co.id)

Orang terdekat memang seharusnya menjadi orang yang lebih dahulu mengenali perubahan bahasa tubuh. Saya pernah ikut seminar parenting ibu Elly Risman tentang pentingnya mengenali bahasa tubuh anak. Tidak semua anak mau berbicara secara terbuka, termasuk kepada orang terdekat. Itulah pentingnya memahami bahasa tubuh, agar orang tua bisa segera mengetahui kondisi anak.

Bila curhat dengan orang terdekat belum cukup, mungkin sudah saatnya meminta bantuan ahli. Yang terpenting jangan biarkan orang yang sedang depresi larut sendiri dalam masalahnya. Kita harus belajar untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar.(ma)