Apabila anda berkunjung ke Depok, Jawa Barat ada satu bangunan masjid yang tampak mencolok. Masjid itu adalah Masjid Dian Al Mahri. Mesjid ini diresmikan 31 Desember 2006 dan selalu dikunjungi masyarakat yang datang tidak hanya wilayah Jakarta saja melainkan hingga luar Jakarta. Seperti Kholifah, yang datang bersama tetangga dan sodaranya dari Jawa Tengah menggunakan bus ke Masjid Dian Al Mahri. 
 
Pendirian mesjid ini bertepatan dengan pelaksanaan sholat Idhul Adha 1427 Hijriah oleh pendirinya Dian Juriah Al Rasyid dan Drs. Maimun Al Rasyid. April 1999 dilakukan pemasangan tiang pancang pertama. Pada saat itu dilakukan juga peresmian Islamic Center Dian Al Mahri. Masjid ini terbagi atas ruangan utama mesjid, ruang mezanin (ruang tambahan tanpa ada perubahan struktur),  halaman dalam, selasar atas, selasar luar dan ruangan fungsional lainnya.
 
Luas bangunan masjid mencapai sekitar 8000 m2 di atas tanah 70 hektar. Di atas tanah itu juga berdiri rumah pribadi pemilik masjid. Ada pula gedung serba guna yang terletak di depan mesjid. Untuk menuju ke mesjid itu, jika ditempuh dengan berjalan kaki dari pos penjagaan membutuhkan waktu sekitar 10-15 menit.
masjid-dian-al-mahri
 
Daya tampung mesjid ini lebih dari 20.000 jamaah. Keindahan mesjid itu dilengkapi dengan kaligrafi yang ditulis dengan teknik waterjet. Teknik ini adalah pemotongan bahan menggunakan mata intan melalui tekanan tinggi. Bahkan penulisan kaligrafi ini dikerjakan oleh ahli dari luar negeri. Hampir semua dinding masjid Dian Al Mahri dihiasi kaligrafi yanng terukir indah. Salah satunya ada tulisan surat Al Mu’minuun ayat 1-11. Surat Thaahaa ayat 14 menghiasi portal mihrab. Kalimat syahadat juga menghiasi mesjid. Di pintu masuk sisi utara dan selatan, jamaah akan disambut doa I’tikaf dan di pintu utama tertulis doa memasuki mesjid.
 
Bagian luar mesjidnya terdiri dari taman yang dihiasi pot-pot berwarna merah bata. Di halaman dalamnya berukuran 45×57 meter yang menampung 8000 jamaah. Ada enam menara yang berbentuk segienam dengan tinggi 40 meter yang melambangkan rukun iman.  Keenam minaret ini dibalut granit abu-abu dari Italia. Khusus untuk desain kubah emasnya diadopsi dari mesjid di Persia dan India. Jumlah lima kubah ini menandakan rukun Islam.
 
Jika menengok ke langit-langit kubah, decak kagum akan terucap saat melihat lukisan langit. Tapi lukisan ini tidak monoton melainkan dapat berubah sesuai dengan lima jadwal shalat. Perubahan ini terjadi karena ada teknologi tata cahaya dengan program komputer. Di atas, ada 33 jendela yang diisi tiga nama Allah. Lampu kristal seberat 2,7 ton yang rangkanya dilapisi emas 24 karat memperindah mesjid. Ruangan dalam mesjid berwarna krem dengan material yang berasal dari Italia dan Turki. Sedangkan ornamennya berwarna hitam yang melambangkan kekuatan. Khusus mihrabnya hadir dengan empat pilar berbatu granit porto rose dari Afrika Selatan. Kaligrafi dari surat Thaahaa ayat 14 menghiasinya. Begitu pula obelisk yang terbuat dari kuningan berlapis emas.  
 
Membuat mesjid ini bukan perkara mudah. Ada tiga teknik pemasangan. Pertama adalah serbuk emas (prada) yang terpasang di mahkota pilar/tiang capital. Selanjutnya gold plating yang terdapat pada lampu gantung, railing tangga mezanin, pagar mezanin, ornament kaligrafi kalimat tasbih di pucuk langit-langit kubah dan ornamen dekoratif di atas mimpar mihrab. (rab)