Beberapa waktu lalu, media massa dan di media sosial ramai membahas tentang difteri. Difteri yang sebelumnya terasa kurang familiar, kini terdengar setiap saat. Saat saya membaca koran Kompas Senin, 11 Desember 2017, sejumlah orangtua enggan mengimunisasi anak mereka antara lain karena belum paham pentingnya imunisasi dan meragukan mutu vaksin. Data laporam Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan menunjukkan cangkupan imunisasi dasar lengkap periode 2008-2011 berada di atas 90 persen. Namun sejak 2012 hingga 2015 menurun jadi di bawah 90 persen.

Riset Kesehatan Dasar 2013 menyebutkan, ada anak yang tak diimunisasi dasar dengan lengkap. Bahkan ada yang belum pernah sama sekali di imunisasi. Anak yang diimunisasi dasar dengan lengkap 41,6 persen (2007), 53,8 persen (2010), dan 59,2 persen (2013). Di saat yang sama, anak yang belum diimunisasi, anak yang belum diimunisasi sama sekali ada 9,1 persen (2007), 12,7 persen (2010) dan 8,7 persen (2013). Dengan k=tidak melakukan imunisasi pada anak, anak-anak menjadi rentan terkena sejumlah penyakit.

Dikutip dari koran Kompas, pada periode Januari-November 2017, sebanyak 96 dari 213 kabupaten atau kota melaporkan adanya kasus difteri dengan jumlah pasien mencapai 593 orang. Kompas.com menyampaikan bahwa pada tahun 2017, terdapat 622 kasus, dan 32 di antaranya meninggal dunia.

Semakin meluasnya wabah difteri, membuat Kementerian Kesehatan akhirnya menetapkan status kejadian luar biasa (KLB). Berdasarkan  data dari Kementerian Kesehatan, sejak tahun 1990-an, kasus difteri di Indonesia ini sudah hampir tidak ada dan baru muncul lagi pada tahun 2009.

Lalu, apa penyebab difteri? Jadi, difteri disebabkan oleh infeksi  bakteri corynebacterium diphtheriae dan biasanya mempengaruhi selaput lendir hidung dan tenggorokan.

Difteri ini memiliki ciri khas yakni munculnya pseudomembran atau selaput berwarna putih keabuan di bagian belakang tenggorokan  yang mudah berdarah jika dilepaskan. DENgan adanya selaput warna putih keabuan ini, menyebabkan rasa sakit saat menelan, kadang disertai pembesaran kelenjar getah bening, dan pembengkakan jaringan lunak di leher yang disebut bullneck. Pada tahap lanjut, difteri dapat merusak jantung, ginjal dan sistem saraf Anda.

Biasanya, tanda dan gejala difteri dimulai dua sampai lima hari setelah seseorang terinfeksi. Difteri memiliki cara penularan yang sangat mudah sehingga rentan menularkan ke orang lain. Berdasarkan website alodokter.com, ada sejumlah cara penularan yang perlu diwaspadai, seperti:

  1. Terhirup percikan ludah penderita di udara saat penderita bersin atau batuk. Ini merupakan cara penularan difteri yang paling umum.
  2. Barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, contohnya mainan atau handuk.
  3. Sentuhan langsung pada luka borok (ulkus) akibat difteri di kulit penderita. Penularan ini umumnya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga.

Gejalanya difteri antara lain: adanya lapisan tebal dan abu-abu menutupi tenggorokan dan amandel, demam dan menggigil,  sakit tenggorokan dan suara menjadi serak, pembesaran kelenjar getah bening di leher, dan kesulitan bernapas atau bernapas cepat. Lalu juga lemah dan lelah serta mengalami pilek. Jika ini yang terjadi, harus segera memeriksakan diri ke dokter jika menunjukkan gejala-gejala untuk mencegah komplikasi.

Berdasarkan alodokter.com, sampel dari lendir akan diambil dari tenggorokan, hidung, ulkus di kulit untuk diperiksa di laboratorium. Jika didiuga tertular difteri, dokter akan memulai pengobatan bahkan sebelum ada hasil laboratorium dan dilakukan pengobatan dengan 2 jenis obat yakni antibiotik dan antitoksin. Sebagian besar penderita dapat keluar dari ruang isuolas setelah mengkonsumsi antibiotik selama dua hari.

Sebagai bentuk perlindungan, lakukanlah vaksin. Pencegahan difteri tergabung dalam vaksin DPT yang meliputi difteri, tetanus, pertusisi atau batuk rejan. Vaksinasi ini serentak dilaksanakan di beberapa daerah seperti Banten dan Jakarta. Menurut detik.com, Kepala Seksi Surveilans Imunisasi dan Krisis Kesehatan Banten drg. Rostina mengatakan 11 Desember ini dilakukan Outbreak Response Immunization (ORI) serentak di 5 kabupaten kota se-Banten. Dinkes Banten ini menyiapkan kurang lebih 3.050.980 vaksin yang ditargetkan selesai akhir Desember tahun ini.(rab)