Dukung Ibu bekerja terus Menyusui untuk Generasi Berkualitas

17

Oleh: Narila Mutia Nasir

 

Pekan Air Susu Ibu (ASI) sedunia atau World Breastfeeding Week dilaksanakan tanggal 1-7 Agustus setiap tahunnya. Momen ini dipakai untuk terus mengingatkan betapa pentingnya pemberian ASI untuk bayi. Seperti diketahui, masa depan anak salah satunya ditentukan oleh kualitas gizi pada 1000 hari pertama, yaitu sejak konsepsi sampai usia 24 bulan (2 tahun). Asupan gizi yang baik menjadi sangat penting sebagai modal dasar hidup sehat dan produktif di masa datang. Oleh karena itu, pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama dan diteruskan sampai usia anak 2 tahun dengan makanan pendamping ASI yang cukup merupakan hal yang direkomendasikan oleh badan kesehatan dunia (World Health Organization).

 

Pemberian ASI tidak hanya memberikan keuntungan bagi bayi, tetapi juga bagi ibu menyusui. Bayi menerima asupan gizi yang terjamin yang membantu tumbuh kembangnya secara optimal dan pada saat yang bersamaam juga melindungi bayi dari beberapa penyakit infeksi, seperti diare dan infeksi saluran pernafasan. Beberapa studi juga menunjukkan bahwa ASI bisa mencegah terjadinya penyakit tidak menular seperti obesitas dan diabetes. Bagi ibu, menyusui tidak hanya memberikan keuntungan secara ekonomis karena ibu tidak perlu membeli susu formula dan repot menyiapkan setiap kali bayi ingin menyusu, tetapi juga keuntungan dari segi kesehatan. Menyusui membantu ibu menurunkan berat badan setelah melahirkan dan mencegah terjadinya kanker payudara dan kanker ovarium. Dan yang paling penting pemberian ASI juga akan memperkuat ikatan batin antara ibu dan bayi.

 

Walaupun menyusui sangat bermanfaat bagi ibu dan bayi, tetapi persentase jumlah bayi yang menerima ASI, terutama di negara berkembang belum terlalu menggembirakan. Masih ditemukan kematian balita di negara berpendapatan rendah yang sebenarnya bisa dicegah jika prevalensi bayi yang memperoleh ASI mencapai 90%. Ada beberapa hal yang menyebabkan persentase bayi yang mendapat ASI tidak terlalu banyak, salah satunya karena ibu bekerja. Di Indonesia, kesempatan ibu bekerja untuk bisa menyusui bayinya secara eksklusif terhambat karena umumnya ibu sudah kembali bekerja pada saat bayi berumur kurang dari 3 bulan sesuai dengan peraturan cuti melahirkan yang berlaku.

 

Keterbatasan ibu bekerja untuk menyusui bayinya secara esklusif selama 6 bulan ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa dukungan terhadap Deklarasi Innocenti (Innocenti Declaration) tahun 1990 di Italia belum optimal. Deklarasi yang juga ditandatangani oleh Indonesia ini bertujuan untuk mempromosikan dan mendukung pemberian ASI termasuk melindungi hak ibu bekerja untuk tetap bisa menyusui bayinya. Sejalan dengan hal tersebut, Pekan ASI sedunia tahun 2015 ini mengambil tema “Breastfeeding and Work, Let’s Make it Work!”.

 

Era globalisasi menyebabkan makin banyak ibu yang bekerja, tetapi apakah ibu harus berhenti memberikan ASI jika ia kembali bekerja? Tentu tidak. Bekerja semestinya tidak menghalangi ibu untuk terus memberikan ASI terbaik untuk bayinya. Beberapa negara berusaha memfasilitasi untuk menjamin bayi dapat disusui secara ekslusif selama 6 bulan dengan memberikan cuti melahirkan yang cukup panjang kepada ibu bekerja dan tetap memberikan gaji kepada si ibu.

 

Menurut studi yang dilakukan oleh Institute for Health and Social Policy, McGill University, negara yang palig lama memberikan cuti melahirkan adalah Swedia yaitu selama 420 hari dengan tetap memberikan gaji 80% dari gaji normal. Sementara Kroasia memberikan cuti melahirkan selama satu tahun, diikuti dengan Denmark yang memberikan cuti selama 52 minggu. Kedua negara tersebut memberikan gaji 100% selama ibu bekerja cuti melahirkan. Yang menarik adalah Vietnam yang membuat aturan cuti melahirkan selama 6 bulan pada tahun 2012, merevisi aturan sebelumnya yang hanya 4 bulan. Menurut United Nation Children’s Fund (UNICEF), Vietnam menjadi lokomotif bagi negara berkembang lainnya untuk dapat mengeluarkan aturan yang sama dalam rangka mendukung ibu bekerja untuk bisa menyusui bayinya secara ekskusif selama 6 bulan. Sebelumnya persentasi ASI esklusif di negara tersebut terus menurun sehingga akhirnya Vietnam menyadari bahwa mereka perlu menjamin pemberian ASI kepada bayi terutama di kalangan ibu bekerja sebagai bagian dari usaha menciptakan sumber daya yang berkualitas. Indonesia tentunya juga dapat mengikuti jejak Vietnam untuk mengeluarkan aturan resmi cuti melahirkan selama 6 bulan.

 

Merevisi peraturan cuti di Indonesia dari 3 bulan menjadi 6 bulan memang bukan perkara mudah. Namun dukungan agar ibu bekerja terus dapat menyusui harus tetap dilakukan. Usaha yang bisa dilakukan adalah menyediakan tempat memompa ASI yang nyaman bagi ibu bekerja sekaligus menyediakan tempat penyimpanan ASI berupa lemari pendingin. Menyediakan tempat penitipan anak di tempat ibu bekerja juga dapat membantu keberlanjutan ibu bekerja terus memberikan ASI kepada bayinya.

Pekan ASI

Gambar 1. Ibu bekerja yang tetap bisa menyusui

Sumber gambar: http://worldbreastfeedingweek.org/pcresults.shtml

 

Dikutip dari website worldbreastfeedingweek.org, Pekan ASI sedunia 2015 yang mengambil tema tentang ibu bekerja ini bertujuan untuk:

  1. Menggalang dukungan dari berbagai sektor agar semua wanita dapat bekerja dan menyusui;
  2. Melakukan promosi agar tempat bekerja menjadi Family/Parent/Baby dan Mother-Friendly dan secara aktif memfasilitasi dan mendukung ibu bekerja untuk terus menyusui
  3. Menginformasikan kepada semua orang tentang hak perlindungan ibu, meningkatkan kesadaran tentang kebutuhan akan hak tersebut untuk memperkuat aturan nasional beserta implementasinya
  4. Memperkuat, memfasilitasi dan menunjukkan contoh nyata dukungan terhadap ibu yang bekerja di sektor non-formal untuk bisa menyusui
  5. Mengikutsertakan kelompok sasaran seperti serikat pekerja, organisasi hak pekerja, kelompok perempuan dan kaum muda, untuk melindungi hak menyusui para ibu di tempat kerja.

 

Mendapatkan ASI terutama ASI eksklusif adalah hak anak yang tak boleh terabaikan. Seyogyanya kita berikan dukungan penuh bagi ibu bekerja untuk terus bisa melanjutkan pemberian ASI kepada anaknya sampai usia 2 tahun. Bagaimanapun juga, hal itu adalah investasi masa depan kita, untuk generasi mendatang yang cerdas dan berkualitas

 

Breastfeeding and work. Let’s make it work. Tetap semangat menyusui para ibu bekerja!