Tahukah kamu bahwa penyakit jantung adalah penyebab kematian tertinggi di dunia dan juga di Indonesia. Fakta tersebut didapat dari data WHO, The World Health Report tahun 2001, dan data Riset Kesehatan Dasar Indonesia tahun 2007.

Dari berbagai informasi yang beredar mengenai penyakit kardiovaskuler satu ini, tidak sedikit di antaranya berupa berita simpang siur yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Sebelum terlanjur mempercaiyai informasi yang salah mengenai penyakit jantung koroner dan penyakit pembuluh darah lainnya, ada baiknya kita mengetahui fakta-fakta berikut ini:

  1. Penyakit kardiovaskuler adalah penyakit yang disebabkan oleh gangguan fungsi jantung dan pembuluh darah seperti jantung koroner dan stroke
  2. Jantung koroner merupakan penyebab kematian nomor satu di dunia, menyusul kemudian penyakit yang disebabkan oleh infeksi dan kanker.
  3. Penyakit jantung koroner disebabkan oleh penyempitan arteri koroner akibat proses aterosklerosis (pengendapan kolesterol dan lemak), spasme (kontraksi otot yang muncul tiba-tiba), atau kombinasi keduanya.
  4. Sumbatan pada pembuluh darah penyebab terjadinya penyakit jantung koroner sudah dapat terjadi sejak usia sekolah, dan presentasinya meningkat seiring berjalannya waktu: remaja 70%, dewasa 90%, dan lansia 99%.
  5. Gejala awal penyakit jantung disebut Angina, yaitu nyeri dada dan punggung yang disertai rasa terhimpit dan terbakar di daerah dada, mual, atau nyeri ulu hati.

 

  1. “Angin duduk” adalah istilah awam untuk serangan jantung atau sindroma koroner akut.
  2. Angina menyerang usia produktif (usia di atas 35 tahun) dengan tingkat kematian yang tinggi, yaitu sebesar 50%.
  3. Beberapa anjuran untuk batuk-batuk saat mengalami tanda-tanda serangan jantung adalah mitos belaka dan harus dihindari. Respon batuk hanya disarankan oleh ahli jantung saat terlihat laju jantung yang sangat melambat di monitor rekaman jantung. Hal ini tidak mungkin terlihat saat seseorang tidak terpasang alat monitor jantung.
  4. Pertolongan pada penderita serangan jantung mendadak adalah dengan menghindarkan penderita dari gerakan mendadak seperti banyak berbicara dan mengejan. Sebaiknya, segera hubungi Rumah Sakit yang memiliki fasilitas pelayanan jantung dan pembuluh darah dan KV.
  5. Umur, jenis kelamin, dan keturunan/ras, merupakan faktor risiko dari penyakit jantung koroner yang tidak dapat dimodifikasi.
  6. Dislipidemia, hipertensi, aktivitas fisik, obesitas, diabetes melitus, diet dan nutrisi, stress, serta alkohol adalah faktor-faktor peningkat risiko penyakit jantung koroner yang masih bisa dihindari.
  7. Faktor-faktor risiko Penyakit Jantung Koroner dapat dicegah sampai 80% dengan cara memperbanyak aktifitas fisik, olahraga, diet sehat, tidak merokok, dan membatasi konsumsi alkohol.(ap)