Harus Melek Media Agar Bijak Bermedia Sosial

0
37

Media sosial telah menjadi sahabat manusia masa kini. Bukan hanya menjadi media yang mempertemukan penggunanya di dunia maya, media sosial juga tumbuh menjadi referensi terpercaya untuk sebagian kalangan–tidak hanya remaja, tetapi juga orang dewasa.

Sering kali, sebuah informasi tersebar dengan cepat dari satu grup ke grup lain di Whatsapp (WA) atau dibagikan dari satu orang ke orang lain di Facebook karena dianggap bermanfaat. Kalau di Facebook masih bisa diketahui sumber aslinya, di WA tidak selalu bisa diketahui karena banyak informasi tidak mencantumkan nama pengunggahnya. Beberapa kali, pesan yang sama menyebar bak musim mangga (meminjam istilah Alfons Tanujaya1 dari Vaksin.Com di Kumparan.Com2 pada pos berjudul Menjawab Beredarnya Kembali Broadcast Hoax Kiddle Produk Google).

Informasi tentang Kiddle.Co3 yang disebut-sebut sebagai salah satu produk Google merupakan contoh informasi yang menjadi viral sekali setahun dalam dua tahun ini (2016 dan 2017), khususnya di WA dan Facebook. Pesan intinya sama–dengan redaksionalnya yang sedikit mengalami modifikasi–bahwa Kiddle merupakan “anak” dari Google.

Satu hal yang perlu diketahui adalah sejak tahun 2016, sudah ada bantahan di website Mirror.Uk4 bahwa Kiddle tidak berafiliasi ke Google, juga bukan produk Google. Hanya saja Kiddle menggunakan Safe Search, salah satu fitur internet aman dari Google untuk menyaring hasil pencarian. Klarifikasi ini tidak ikut viral, yang tersebar hanya soal Kiddle sebagai salah satu produk Google.

Belajar dari hal ini, ditambah lagi dengan berbagai  informasi viral yang simpang-siur tanpa sumber jelas semakin mengingatkan kita untuk tidak berhenti belajar untuk menjadi lebih bijak dalam memanfaatkan media sosial.

Juni lalu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menganggap perlu mengeluarkan Fatwa Nomor 24 Tahun 2017 Tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial untuk umat Islam. Fatkarenawa tersebut muncul karena masifnya kabar bohong dan berita-berita yang mengandung kebencian, bully, adu domba, menggunjingkan orang lain bermunculan dan menjadi viral lewat media sosial.

Terkait penyebaran kabar palsu, termaktub dalam poin ke-4 Ketentuan Hukum, Fatwa tersebut menyebutkan, “Memproduksi, menyebarkan dan/atau membuat dapat diaksesnya konten/informasi yang tidak benar kepada masyarakat hukumnya haram.”

Berkaca dari berbagai kejadian yang dipaparkan di atas, tak bisa ditawar-tawar lagi kita semua dituntut memiliki kemampuan Literasi media–kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan isi pesan media (Livingstone, 2004). Harus diakui, daya kritis dalam membaca dan memahami pesan yang disampaikan melalui media sosial sangat dibutuhkan.

Buku Saatnya Kita Melek Media – Pengetahuan dan Rujukan Bagi Khalayak Media terbitan Kementerian Kominfo dan Pusat Studi Komunikasi, Media, dan Budaya FIKOM UNPAD menyebutkan, “Setiap elemen masyarakat perlu melek media, bukan untuk kepentingan dirinya saja akan tetapi untuk bersama-sama membantu terwujudnya isi media yang lebih berkualitas atau meminimalisasi dampak negatif media di masyarakat.”

Media yang dimaksud dalam buku tersebut termasuk pula media online, yang di dalamnya tercakup media sosial.

Buku ini berbicara tentang pentingnya memiliki kompetensi literasi media. Kompetensi literasi media adalah kemampuan orang untuk menggunakan, menyeleksi, mengevaluasi, dan menilai media. Pengguna media tidak menerima begitu saja apa yang disajikan media–mereka mampu menyadari perbedaan antara dunia nyata dan dunia yang dihasilkan oleh media (Potter, 2005).

Orang yang melek media mampu menyaring dan mengambil hanya informasi yang diperlukannya tanpa teralihkan oleh pesan-pesan yang tak diinginkan. Maka, agar melek media kita perlu memiliki pengetahuan seputar lima hal berikut,

  1. Efek media.
  2. Isi media.
  3. Industri media.
  4. Pengetahuan mengenai lingkungan kita
  5. Pengetahuan mengenai diri sendiri

Jika kita sudah menguasai lima kemampuan tersebut, maka kita akan lebih mudah memahami hal-hal berikut ini,

  1. Konten media adalah hasil konstruksi dan media dapat mengonstruksi realita.
  2. Media memiliki implikasi komersial (terkait bisnis, iklan, dan lain-lain).
  3. Media memiliki implikasi politis dan ideologis.
  4. Setiap jenis media memiliki bentuk dan keunikan tersendiri.
  5. Khalayak mengasosiasikan makna yang mereka temui di media (Aufderheid, 1992).

Jika kita sudah menguasai berbagai kemampuan memahami media, masih ada satu tugas lagi, yaitu memberikan pengetahuan mengenai literasi media kepada putra-putri. Dunia maya dan media soasial bukanlah ruang yang sepenuhnya aman untuk anak. Mari lindungi anak-anak kita!

Catatan kaki:

  1. Alfons Tanujaya adalah mantan bankir yang merintis karir di dunia IT sejak tahun 1998. Pada tahun 2000 dia mendirikan PT. Vaksincom dan aktif mendedikasikan waktu untuk memberikan informasi dan edukasi tentang malware dan sekuriti bagi komunitas IT Indonesia melalui mailing list vaksin@yahoogroups.com (sumber: http://inet.detik.com/profil-konsultan/d-1981186/alfons-tanujaya).
  2. Com adalah Platform Media Kolaboratif Indonesia sebagai wadah membaca, membuat dan berbagi beragam berita dan informasi.
  3. Co adalah mesin pencari untuk anak yang tidak selamanya aman untuk anak-anak.
  4. http://www.mirror.co.uk/tech/what-kiddle-child-friendly-search-7460351?service=responsive
  5. Baca tentang informasi kesehatan yang tidak benar di http://health.detik.com/healthypedia/40-broadcast-pesan-kesehatan-yang-ternyata-hoax/5476/lemon-lebih-hebat-dari-kemoterapi(mm)