Ibu Wajib Pastikan 4 Hal Ini Sebelum Menonton Sinetron

0
24

Ibu rumah tangga sering dihadapkan pada seabrek pekerjaan rumah. Sejak dari bangun tidur hingga menjelang lelap, pekerjaan rumah seperti selalu menanti–mulai dari memasak, menyiapkan perlengkapan kerja suami, beres-beres rumah, hingga mengurus anak. Rutinitas rumah tangga seperti ini sering membuat membuat ibu stres dan penat. Jika sudah begini, kebanyakan ibu rumah tangga di Indonesia berusaha menghalau penat dengan cara menonton drama serial atau sinetron.

Informasi soal dampak buruk sinetron bagi buah hati tentu bukan lagi hal yang asing bagi ibu-ibu masa kini. Namun, kebutuhan menghalau stres tetap harus dipenuhi. Ketika waktu tak memungkinkan untuk pergi ke luar rumah, menikmati tontonan televisi atau internet adalah cara yang paling praktis. Ibu-ibu merasa memiliki hak untuk menikmati tayangan sinetron atau drama serial karena merasa sudah melaksanakan kewajibannya.

Kebutuhan menghalau kepenatan dan dampak buruk dari pemenuhan kebutuhan tersebut akan selalu diliputi pro dan kontra. Namun, saya belajar banyak dari ibu rumah tangga yang bisa mengatur stabilitas emosinya hanya melalui tontonan serial televisi atau drama. Fakta bahwa banyak ibu rumah tangga mendapatkan manfaat ini dari hiburan di televisi dan internet tak bisa serta merta dikesampingkan.

Menyeimbangkan kebutuhan ibu akan hiburan dengan kebutuhan pembentukan sikap anak adalah hal yang paling bijak. Karena kebutuhan setiap keluarga berbeda-beda, diperlukan kesepakatan dengan pasangan untuk mencari titik keseimbangan yang diinginkan. Berikut empat hal yang sebaiknya diperhatikan sebelum ibu menikmati tayangan drama serial atau sinetron di televisi.

  1. Pastikan anak sedang sekolah atau tidur

Tak jarang, sinetron dan drama serial mengkontaminasi anak dengan kata-kata atau perbuatan yang belum pantas untuk anak-anak. Untuk menghindari hal itu terjadi, usahakan untuk tidak menonton sinetron atau drama seri ketika ada anak-anak di sekitar kita. Biasanya ibu rumah tangga menonton serial atau drama di pagi hari sembari menyetrika baju atau membereskan ruangan. Keadaan rumah sepi dan lengang karena anak-anak sekolah, sementara suami sudah berangkat bekerja. Selama tugas-tugas utama tetap bisa dituntaskan, menonton drama atau sinetron tentu tak menjadi masalah.

  1. Jangan membawa kebiasaan di sinetron ke kehidupan nyata

Pada beberapa kasus, orang tua secara tidak sengaja menirukan apa yang dia tonton ke kehidupan nyata, seperti membicarakan keburukan orang lain atau hal buruk lainnya. Jika anak mendengarnya, anak akan mencontohnya. Kenapa bisa begitu? Sebab, anak-anak merupakan perekam yang sangat andal. Mereka dengan mudah merekam segala perilaku orang-orang yang menjadi panutannya, terutama orang tua. Untuk kebutuhan tumbuh kembang kepribadian anak, pastikan apa yang Anda saksikan di sinetron tetaplah menjadi tontonan yang sekadar menghibur–bukan sebagai inspirasi untuk kehidupan nyata.

  1. Ketika anak sedang di dalam rumah

Kehadiran ibu secara fisik maupun emosi berpengaruh besar untuk membentuk kepribadian anak. Dukungan ibu sangat vital dalam menumbuhkan rasa percaya diri anak. Luangkan waktu lebih banyak untuk menemani, membimbing, dan menjaga anak-anak ketika mereka sedang bermain di rumah. Lalu, bagaimana nonton dramanya? Kalau memang kebutuhannya cukup mendesak, ibu bisa menonton drama serial di berbagai channel online lewat ponsel pintarnya ketika anak-anak tidur siang.

  1. Jangan sekali-kali mengorbankan anak

Pernahkah melihat ibu-ibu yang suka rebutan remote TV dengan putri atau putranya karena ingin melihat drama serial yang disukai? Saya berkali-kali mendapatkan kisah seperti itu. Walhasil, anak marah dan pertengkaran terjadi. Hal itu seharusnya tidak terjadi jika ibu mengembangkan dialog dengan anak. Ibu bisa memanfaatkan kejadian seperti ini untuk mengajari anak membuat kesepakatan dan berkomitmen dengan kesepakatan tersebut. Tak perlu segan membuat perjanjian dengan anak soal pembagian waktu menonton televisi. Jika perlu tulis besar-besar perjanjian Anda dan tempelkan di lokasi di mana anak bisa dengan mudah membacanya. (Anisa Kautsar Juniardi)