Tutupnya usaha fotokopian dan jasa laundry yang dirintis Ika dan suaminya membawa perempuan dengan followers 43 ribu ini pada profesinya sekarang, sebagai food photographer. Sempat merasa salah ambil jurusan di bangku perkuliahan, Ika Rahma tidak lagi menyesali latar pendidikannya di S1 Ilmu Jurnalistik UNPAD tersebut. “Fotografer nggak bisa nulis ada banyak, tapi fotografer yang bisa nulis itu sedikit. Saya beruntung pernah belajar ilmu jurnalistik.”

Jeli melihat peluang di dunia digital, Ika membangun bisnisnya dengan nama Dapur Hangus. Melalui blog yang ia namakan Dapur Hangus tersebut, Ika  memulai usahanya dengan menjual peralatan memasak secara online.

Berjalan sejak Maret 2012, bisnis yang Ika rintis tersebut melaju dari berdagang peralatan memasak, properti makanan sebagai pelengkap foto, hingga jasa memotret makanan.

Usaha menjual peralatan masaknya tidak berkembang. Namun siapa sangka produk properti fotonya disukai banyak orang dan laris manis. Itu pun terjualnya di Facebook. Berganti haluan, Ika secara serius mulai menjual properti foto khusus makanan.

Sejak itulah usaha yang ia rintis bersama suaminya melesat. Terlebih lagi sejak ia aktif di Instagram.

“Karena foto produk harus bagus, foto blog harus kece, ya mau tidak mau belajar motret. Sampai 2014 bertahan di blog dan jualan properti dan mulai masuk Instagram. Di Instagram, tuntutan foto bagus lebih tinggi karena memang berbasis gambar,” tutur ibu satu orang anak ini.

Tak main-main, Ika yang awalnya belajar fotografi secara otodidak mulai mendaftarkan dirinya di kelas-kelas fotografi, bukan hanya di Bandung tapi juga di Jakarta.

Bagi Ika, mencari ilmu fotografi mendukung kemampuan memotretnya. Namun yang terpenting lagi adalah mempraktekan ilmunya tersebut. “Practise makes perfect, kalau sekolah doang tapi nggak dipraktikin ya susah juga berkembang,” tutur Ika yang kini bukan hanya menjual properti foto, menerima jasa foto produk, dan menyewakan properti foto makanan, tapi juga aktif membuat workshop food photography dan mentor sejak tahun 2015.

Perempuan yang bermukim di Bandung ini mengakui bisnisnya tak semulus jalan tol. Sebagai anak pertama di keluarganya, Ika diharapkan bekerja sebagai pekerja kantoran. Karena itu orang tuanya belum sreg dengan Dapur Hangus yang Ika rintis. “Butuh waktu aja agar orangtua mengerti passion kita, tugas kita membuktikan kalau kita berada di jalur yang benar,” ungkap perempuan yang juga pernah mengenyam pendidikan di Hubungan Internasional ini.

Sejak bisnisnya mulai ramai pembeli dan secara finansial kebutuhan primernya terpenuhi, restu orang tua secara penuh ia dapatkan. Sesekali Ika melibatkan ayahnya untuk menyediakan produk properti foto yang ternyata laris di pasaran. “Bapak saya kebetulan suka perkayuan, saya bikin produk-produk dari kayu, pas banget hobi bapak ikut tersalurkan,” cerita perempuan yang kini bermukim di Bandung.

Berbagai prestasi telah Ika raih. Selain pernah menjuarai salah satu lomba blog, Ika juga sering diundang sebagai pembicara dengan tema food photography di berbagai kampus dan lembaga. Salah satu pengalaman terbaiknya adalah menjadi pemateri di sebuah perusahaan milik negara. “Dulu saya sempet pengen kerja di Telkom, jadi pas datang tawaran ngisi materi di sana, saya seneng banget!”

Di tahun 2017 profesi yang Ika geluti marak juga dirintis oleh banyak orang lainnya. Persaingan makin ketat dengan harga jasa makin bervariasi. Menyiasatinya, Ika membuat Dapur Hangus terobosoan untuk selalu jadi yang pertama “untuk workshop, Dapur Hangus yang pertama menawarkan workshop tematik. Dapurhangus Playdate juga merupakan terobosan yang unik saat itu, workshop sekalian foto produk.”

Tidak berhenti di workshop saja, dengan cerdik, Ika berkolaborasi dengan teman sesama Instagramer. Juga berinovasi dengan membuat paket foto yang unik, murah dan sayang bila ditolak pelanggannya.

Salah satu paket fotonya adalah menggaet klien-kliennya yang banyak berasal dari UMKM (Usaha Kecil Mikro dan Menengah). Ika membuatkan Dapur Hangus handout fotografi makanan. “Agar produk mereka bisa terpampang di handout workshop Dapur Hangus, teman-teman UMKM membayar sekian rupiah ke saya, mereka dapat promosi dan foto, saya dapat modal mencetak handout.” Bukan saja handout tersebut ia bagikan saat menyelenggarakan workshop fotografi, Ika juga sempat menjualnya.

Dengan jumlah followers @dapurhangus di Instagram sebanyak 43.000 dan di Facebook 21.000, handout fotografi yang Ika buat laris seperti gorengan. Fantastis!

Teks handoutnya ditulis Ika sendiri, dengan latar pendidikan Ilmu Jurnalistik yang ia miliki, menulis caption di media sosial maupun menulis teks di handoutnya adalah perkara yang mudah.

Dapur Hangus saat ini memiliki dua karyawan. Untuk jasa foto produk masih Ika kerjakan berdua dengan suaminya.

Bagi perempuan asal Kediri tersebut, Dapur Hangus merupakan media agar dirinya tak bergantung pada suami. “Tergantung kebutuhan aja sih, nggak semua perempuan butuh aktualisasi diri dengan bekerja.” Meski awalnya suami meminta Ika fokus saja mengurus anak di rumah, namun ketekunan Ika meluluhkan hatinya. Suami pun memaklumi profesi Ika sekarang.

Dengan ketekunan dan kedisiplinan yang ia jalani di Dapur Hangus, Ika mengakui kerja kerasnya bukan karena faktor keberuntungan. “Saya nggak nyeni, nggak punya bakat artis. Perkembangan saya dalam fotografi termasuk lambat karena nggak nyeni itu tadi. Sering minder kalau lihat foto teman-teman yang artistik banget! Saya jalani bisnis ini juga nggak ada target, jadi santai. Kalau saya bisa, pasti orang lain yang udah punya bakat dari lahir juga bisa.”(nw)

Photo credit: Nurul Wachdiyyah dan Ika Rahma