Salah satu yang banyak dikeluhkan oleh warga ibukota adalah mengenai transportasi umumnya. Terlebih ketika melihat moda transportasi umum yang nyaman di luar negeri, pasti merasa iri dan ingin menukarnya dengan yang ada di Indonesia. Tak perlu khawatir, sebab sebentar lagi Jakarta pun akan memiliki angkutan serupa yang bernama MRT dan LRT. Keduanya sekilas terkesan mirip, namun berbeda. Berikut merupakan beberapa perbedaan MRT dan LRT agar tak ada yang keliru, perhatikan baik-baik:

  1. Mass vs Light, Apa Bedanya?

Hal mendasar mengenai perbedaan MRT dan LRT yaitu kepanjangan dari kedua sebutan tersebut. MRT adalah singkatan dari Mass Rapid Transit, sedangkan LRT adalah Light Rapid Transit. Kata pertamanya sudah berbeda, antara mass dan light. Secara harfiah, kata mass berarti massal yang merujuk pada kata massal atau serombongan besar. Sementara itu, kata light mengedepankan angkutan yang ringan untuk menunjukkan bahwa angkutan umum tersebut bergerak cepat.

Dari istilah penyebutannya saja, sudah terlihat bahwa MRT menonjolkan kemampuannya untuk mengangkut banyak penumpang sekaligus. Di sisi lain, LRT mengacu pada moda transportasi umum yang memiliki kecepatan jarak tempuh tinggi. LRT direncanakan memiliki lebih banyak stasiun transit pemberhentian dibandingkan MRT ataupun angkutan umum yang lebih senior – KRL.

  1. Perlintasan yang Digunakan

Perbedaan selanjutnya yang dapat diamati dengan jelas yakni bentuk perlintasan yang digunakan. Jakarta telah terkenal sebagai salah satu kota dengan susunan jalanan yang terumit di dunia. Hal ini disebabkan oleh keberadaan jalan tol yang menghubungkan dengan daerah-daerah penyangga di sekitar, serta jalur KRL yang telah ada sejak masa Belanda di tahun 1925 silam.

Oleh sebab itu, perlintasan LRT pun kemudian direncanakan untuk tidak dibangun di atas bidang tanah secara langsung, melainkan dibuat melayang. Artinya koridor-koridor rel LRT berada sekian tingkat di atas permukaan tanah, untuk tidak menambah kepadatan terhadap prasarana jalan permukaan tanah yang ada. Demikian halnya dengan rel perlintasan MRT yang juga tidak dibangun sebidang dengan tanah, akan tetapi melayang dan bahkan ada yang berada di bawah tanah.

  1. Bentuk Rangkaian

Sekilas rangkaian MRT dan LRT tak terlihat memiliki perbedaan bentuk yang begitu mencolok. Keduanya sama-sama merupakan rangkaian gerbong kereta. Yang membedakan yaitu jumlah rangkaiannya antara MRT dan LRT, di mana LRT memiliki jumlah rangkaian kereta lebih pendek, yakni maksimal tiga kereta. Di lain sisi, MRT memiliki kapasitas yang hampir menyerupai KRL dengan rangkaian gerbong kereta antara delapan hingga sepuluh gerbong dalam satu rangkaian. Perbedaan ini mengacu pada konsep mass dan light seperti yang telah disinggung sebelumnya.

  1. Kapasitas Penumpang

Sejalan dengan jumlah rangkaian gerbong kereta yang ada, MRT memiliki kapasitas penumpang yang lebih besar dibandingkan dengan LRT. Dalam sekali perjalanan dengan maksimal tiga gerbong kereta, LRT hanya mampu membawa sekitar 628 orang penumpang. Sementara itu, MRT dengan maksimal sepuluh gerbong kereta dapat mengangkut hingga 2000 orang penumpang dalam sekali perjalanan.

Hanya saja, besarnya perbedaan penumpang yang ada tersebut juga berpengaruh kepada ketepatan dan kecepatan kereta dalam setiap pemberhentian penumpang. Di mana semakin sedikit jumlah penumpang, maka semakin memperpendek waktu sirkulasi penumpang naik dan turun di setiap pemberhentian. Sebaliknya, dengan jumlah penumpang yang besar maka akan membutuhkan waktu yang lebih lama dalam proses sirkulasi penumpang naik dan turun.

  1. Tarif Perjalanan

Besarnya beban tarif perjalanan MRT dan LRT memiliki perbedaan yang signifikan. Secara umum MRT sedikit lebih mahal dibandingkan dengan LRT. Di mana untuk setiap 10 kilometer perjalanan dikenakan tarif Rp10.000 dengan tarif minimal untuk tap in dan tap out sebesar Rp3.000. Sementara itu, untuk saat ini hanya satu rute LRT yang dapat dioperasikan, yaitu rute Kelapa Gading – Velodrome. Adapun besaran tarif yang harus dibayar untuk perjalanan LRT rute ini yakni Rp5.000.

Sebagai sebuah kota metropolitan, Jakarta memang sudah sepatutnya meningkatkan layanan moda angkutan transportasi umum yang ada. Tak peduli dengan perbedaan MRT dan LRT, yang dibutuhkan oleh masyarakat adalah angkutan yang nyaman dan aman. Diharapkan kota-kota besar lainnya di Indonesia segera memiliki angkutan transportasi umum serupa. Hal ini sekaligus dapat menjadi langkah yang efektif untuk mengurangi penggunaan angkutan pribadi.(hn)