Oleh  William Giovanni

Perempuan dengan citra di masyarakat umum yang dalam keseharian dan berkarir seringkali jauh dari dunia teknologi. Perempuan lebih identik dengan bidang lain yang kesannya dengan bidang yang lebih lembut. Terlebih ada anggapan bahwa dunia teknologi lebih dekat dengan dunia laki-laki, namun itu semua tak sepenuhnya benar. Dalam acara seminar “Pendayagunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pemberdayaan Perempuan” yang diadakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak, saya mendapatkan sudut pandang dan pemahaman yang berbeda tentang perempuan di dunia teknologi.

Bu-Agustina-Erny

Sosok-sosok perempuan yang inspiratif di Indonesia ternyata sudah ada, namun kurang terekspos sehingga tidak diketahui oleh masyarakat. Dalam acara seminar ada sosok perempuan inspiratif seperti Bu Nuniek Tirta Ardianto, Bu Nova Eliza, dan Bu Martha Simanjuntak yang berbagi cerita dan pengalamannya di bidang teknologi untuk pendayagunaan perempuan.

Bu Nuniek Tirta Ardianto, salah satu inisiator ”Startup Lokal” ternyata sudah menggunakan layanan internet sejak tahun 1997 dengan layanan MIRC dan mulai menulis di blog pada tahun 2001. Bahkan lewat media blog, Bu Nuniek bertemu pasangan hidup yang adalah teman satu komunitas. Karena internet, Bu Nuniek berkesempatan untuk diundang pemerintah Irlandia dan Texas untuk berkunjung ke kawasan bisnis digital. Bu Nuniek membuka akses untuk berinteraksi dan berbagi pengalamannya tentang teknologi lewat media social. Siapa pun bisa berinteraksi dan melihat postingannya.

Internet ternyata tak sekedar dimanfaatkan untuk berbisnis saja, namun bisa juga untuk melakukan gerakan sosial. Bu Nova Eliza, sosok artis yang kini juga berprofesi sebagai socialpreneur. Bu Nova memiliki Yayasan Suara Hari, kegiatannya berfokus pada kegiatan membantu korban kekerasan pada perempuan. Melalui penggalangan dana (fundraising) dengan melakukan penjualan kaos untuk membantu korban kekerasan yang kurang mampu. Bu Nova tidak sendiri, bersama dengan pekerja seni lainnya membuat hasil karya seni dalam berbagai wujud. Dengan tujuan menyuarakan agar terhentinya kekerasan pada perempuan.

Baik dari sisi bisnis dan sosial penggunaan internet bagi perempuan, ternyata membawa dampak yang baik. Untuk itulah mba Martha Simanjuntak, founder IWITA dan Ketua Pokja Serempak (Seputar Perempuan dan Anak) berbagi cerita dan pengalamannya tentang data penggunaan internet oleh perempuan di tiga kota besar. Perempuan sudah menggunakan internet untuk berjejaring sosial, mencari informasi, menggunakan email, streaming, blog pribadi dan game online.

Bu-Simanjuntak

Bahkan, menurut data salah satu website belanja online bahwa presentasi pembeli perempuan sebesar 53 %. Dengan hal tersebut perempuan bisa turut aktif dalam dunia teknologi, melalui hasil karya tulisnya di Serempak.id. Siapapun bisa turut berkontribusi di website Serempak.id, tak hanya itu saja tulisan jadi bermanfaat dan meningkatkan skill perempuan. Perempuan yang memiliki usaha kecil dan menengah turut bisa dipromosikan di website Serempak.id.

Bu Ratna, Asdep Kesetaraan Gender Bidang Infrastruktur dan Lingkungan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Bu Agustiani, Deputi Bidang Partisipasi Masyarakat Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak juga memberikan kata sambutan di awal acara tentang kesetaraan gender di bidang teknologi. Dengan teknologi perempuan bisa mendapatkan informasi dan mendukung sosial dan bisnis value.

Bu Mariam Barata, Plt Direktur Jendral Aptika Kementerian Komunikasi dan Komunikasi juga mengingatkan agar perempuan juga waspada dan berhati-hati dalam menggunakan internet. Dengan UU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik), membuat kita tidak melakukan pengaduan di media sosial, namun ke pihak berwenang. Penipuan lewat media online dan cyber bullying sering terjadi, maka perempuan perlu waspada dalam menggunakan internet. Selain mendapatkan manfaat, kita juga harus berhati-hati agar tidak terperangkap dalam jerat.

Perempuan sebagai ibu menjadi manager di rumah, sehingga anak-anak dalam penggunaan internet perlu dibatasi dengan filter agar terhindar dari konten pornografi. Sekalipun Kementerian Komunikasi dan Informatika melakukan pemblokiran, ternyata setiap harinya selalu ada yang baru, sehingga perlu adanya filter bagi anak. Oleh karena itu, yuk kita menggunakan internet dengan sebaik-baiknya, dan mencari ilmu dan wawasan untuk bekal dalam menggunakan internet.

Narasumber-Acara-Seminar