Oleh Mariana Lusia Resubun

Sebuah cerita pelepas lelah dari aku dan sahabat, sembari menunggu waktu pertandingan bola kaki antara Jerman versus Italia. Sebuah cerita mengenang masa remaja yang penuh dengan romantika.

Pernahkah jantungmu berdenyut kencang hanya ketika mendengar suaranya atau hanya ketika melihatnya? Rasa berdebar di dalam dada dan mampu membakar semangat juangmu. Suatu masa ketika nilai semestermu tiba-tiba melonjak tinggi atau kau mampu menghasilkan sebuah karya yang membuat harum namamu.

Aku dan sahabat pernah mengalaminya, ketika rasa kekaguman itu terakumulasi hingga bisa kusebut cinta. Rasa cinta kepada lawan jenis karena berbagai kelebihan yang dimiliki, sehingga secara tidak sadar hati dan pikiranmu hanya terfokus padanya. Namun seberapa besar rasa cinta dan kekagumanmu padanya, dia tak pernah tahu. Karena kau hanya “Sang Pemuja Rahasia” yang mengagumi dan mencintai dalam diammu.

Pernahkah kau melakukan hal-hal yang di luar kebiasaan? Seperti mencari nama orang tuanya di buku telepon kotamu lalu menelpon secara acak. Apabila yang mengangkat telepon suara laki-laki kau akan berlagak salah alamat, namun apabila perempuan yang menjawab langsung kau putus teleponnya.

Atau pernahkah kau setelah mengetahui alamat rumahnya, selalu mencari cara agar bisa jalan melewati rumahnya dan sangat bahagia ketika melihat dia berdiri di depan rumahnya. Atau karena ingin mengenalnya, kau mencari segala informasi tentangnya dari sahabatmu yang satu sekolah dengan dia.

Atau karena ingin berjumpa dengannya, kau menjadi aktif di berbagai organisasi pemuda dan agama. Aku pernah melakukan kekonyolan itu, maklumlah aku jatuh cinta padanya di masa teknologi tak secanggih sekarang. Hanya bermodalkan telepon rumah, tanpa sms (short message service) apalagi bbm (blackberry messengger), WA (WhatsApp) atau line. Aku hanyalah remaja 17 tahun, seorang siswi kelas 2 SMA.

pemuja-rahasia

H-YAL adalah inisial nama pujaan hatiku itu. Namanya kugoreskan dalam buku pelajaranku, namanya kusebut dalam diari maupun dalam doaku. Aku “mengenal” dia, ketika dia mengisi acara pentas seni di sekolahku. Dia adalah vokalis band di sekolahnya. Suaranya sangat mirip dengan Donnie Sibarani vokalis Ada Band ketika menyanyikan lagu “Masih” milik band ibukota tersebut.

Aku jatuh cinta pada sosoknya, karena merdu suaranya. Aku bukanlah siswi cantik atau popular di sekolahku. Aku hanya siswi biasa dengan tampang seadanya, dekil, tomboy dan tak terurus. Aku bukanlah gadis yang pantas dikenangnya bahkan melirik pun tidak. Tetapi ada suatu sifat obsesif yang muncul, sehingga tak kupedulikan itu. Aku hanya ingin mengenalnya. Hanya dengan melihatnya dari jauh, akan mampu membakar semangatku. Akhirnya pada suatu hari kuberanikan diri untuk berkenalan dengannya, berjabat tangan dan kukatakan aku “pengagum beratnya”.

Perkenalan itu mungkin singkat dan tak berbekas di hatinya, namun setelah mengenalnya aku menjadi lebih produktif. Aku menulis 3 buah cerita pendek, dan salah satunya berhasil dimuat di media lokal bersama dengan puisi karyanya. Aku bahagia, aku bangga. Barang bukti berupa bulletin Stella Lucida yang memuat karya tulis kami, masih kusimpan hingga sekarang.

Aku telah menulis sebuah surat yang berisi rasa cinta dan kekagumanku padanya. Surat yang sudah kutulis dari tahun 2005 dan telah mengalami revisi beberapa kali, namun tak pernah kukirimkan padanya. Surat yang akhirnya kubakar di tahun 2013 karena tak mungkin bagiku memilikinya. Aku hanyalah “Pungguk merindukan bulan” dan dia adalah “Pangeran berkuda putih”ku. Pangeran hanya layak bersanding dengan sang putri. Aku selalu berdoa untuknya agar bahagia selalu.

Terima kasih untukmu H-YAL karena pernah menjadi sumber inspirasiku.
Terima kasih untukmu H-YAL karena pernah menjadi penyemangatku.

Mungkin kau pernah mencintai seseorang dalam diammu, tetapi mungkin kau tak pernah tahu bahwa ada seseorang di luar sana yang mencintaimu dalam diamnya.

 

                                                                                                            Dramaga, 3 Juli 2016