“Ih, bukannya taneman organik itu harusnya lebih murah ya? Kan perawatannya nggak butuh obat-obatan. Harusnya lebih menghemat biaya dan harga tergolong rendah!”

Pertanyaan serta pernyataan tersebut pernah meluncur dari jari orang lain yang saya anggap mungkin awam dan belum pernah merasakan sulitnya berkebun menggunakan metode organik.

Saya sendiri pun akhirnya merasakan, betapa sulitnya merawat dan mempertahankan beragam jenis tanaman buah maupun sayur yang harus mendapatkan perlakuan berbeda.

Kamu tahu Park Jin young? Produser lagu sekaligus founder-nya JYP Entertainment yang menaungi Twice, ITZY, GOT7, dan lain-lain itu diketahui bisa mengeluarkan dana sebesar Rp26 miliar demi sayur dan buah-buahan organik yang hendak di-supply ke kantin agensinya.

Menurut J.Y park, makanan yang sehat itu sangatlah penting dan ia merasa bahwa para artis, karyawan, staff maupun trainee merupakan tanggung jawabnya, sehingga makanan sehat (organik) dinilai memengaruhi faktor kesuksesan atau hidup mereka semua.

Memang kedengarannya klasik, tetapi tak sedikit orang menilai kalau makanan organik mampu memberikan pengaruh yang baik pada kualitas hidup seseorang.

Kendati begitu, sebetulnya belum ada penelitian secara pasti yang mengatakan bahwa kandungan gizi sayur-buah organik dan non-organik cenderung berbeda. Sebaliknya, antara organik dan non-organik rata-rata dikatakan bahwa kandungan gizi atau vitamin keduanya tetaplah sama. Kenapa begitu?

Aspek yang paling ditonjolkan dari tanaman organik sebetulnya terletak pada ‘kondisi lingkungan yang lebih baik’, bukan soal ‘gizi atau nutrisi yang condong berbeda’. Mengapa?

Pertama, pantangan para petani yang menggunakan metode organik adalah tidak diperkenankan membunuh hama tanaman, meski hewan pengganggu tersebut merugikan dan merusak hasil panen. Sebab, membunuh hama sama dengan memutus rantai makanan makhluk hidup dan ini akan memberikan dampak buruk pada ekosistem lingkungan.

Ini artinya, petani wajib mencari cara bagaimana mengatur hama tanaman supaya tidak mati tetapi juga tidak merusak daun pada sayur maupun buah-buahan. Apa yang harus dilakukan? Mengendalikannya dengan hewan predator.

Saya pun pada mulanya mengalami kegamangan ini juga. Sebelum puasa, saya memanfaatkan lahan sempit di samping teras rumah menjadi kebun yang saya beri nama ‘kebun eksperimen kecil’. Di situ, ada beberapa sayuran dan buah yang saya tanam. Mulai dari daun bawang, tomat, melon, lemon, paprika, cabai hijau sampai rawit, bunga matahari red velvet. Sisanya adalah pandan, sereh, lidah buaya, seledri, jeruk purut, pepaya california, kelengkeng, sirih, sambiloto, kemangi, dan buah Tin.

Hama pada tanaman cabai dan melon itu sama, yakni kutu daun berukuran mikro, berwarna kuning, dan suka menggerombol di balik maupun atas daun. Pada awalnya saya hanya melucuti mereka menggunakan tangan yang dibasahi air. Namun, lagi-lagi hama itu kembali dan membuat daun menguning juga keriting.

Tidak mau kalah, kutu kebul yang berwarna putih juga hinggap di daun tanaman paprika saya. Baru dua jenis kutu sudah bikin saya frustasi. Duh!

Akhirnya, saya semport tumbuhan di kebun menggunakan air bawang putih yang dicampur cabai. Namun, ini tidak berlangsung lama. Hama-hama itu esoknya mudik dan mendarat di atas daun tumbuhan milik saya.

Belum selesai, hama berikutnya adalah semut dan lalat. Semut ini membantu kutu daun, mereka bekerja sama layaknya partner in crime. Sementara lalat sering menyerang daun cabai, daun bawang, dan sambiloto sehingga menimbulkan banyak bercak hitam layaknya noda. Entah itu liur atau tahi lalat, saya juga masih belum tahu. Lain di daun, lain pula di buah. Jika lalat sampai hinggap di kulit buah, sudah pasti ia akan menyuntikkan telur yang nanti akan menjadi larva pemakan buah-buahan. Itu lho yang suka bikin busuk di pohon!

Sebentar, saya ambil napas dulu!

Lalu apa yang saya lakukan di tahap kedua? Yakni menyemprotkan air campuran sabun cuci piring. Memang sih, hama itu teler dan mati, tetapi esoknya mereka juga kembali lagi. Misi pembunuhan pada hewan pun saya sesali karena selain gagal, tumbuhan juga menguning dan layu sehingga harus cepat-cepat menyemprotkan air bersih dan air campuran bumbu penyedap makanan supaya segar kembali.

Kamu benar, di tahap ini eksperimen saya gagal. Kemudian, saya pun mengikuti beberapa saran petani organik (yang mereka sendiri juga masih coba-coba). Untung saya bukan anak-anak. Buat anak kok coba-coba!

Sayur organik

Photo: Sumber Pribadi

Para petani mengimbau agar menyemprotkan air larutan tembakau. Belum saya lakukan, hasil uji coba mereka ternyata belum sempurna. Takaran yang tidak pas dan hanya mengandalkan perkiraan itu belum tepat sehingga membikin daun juga menguning. Duh, entah apa yang merasukimu wahai hama-hama sekalian?

Kenapa dipilih tembakau? Karena kandungan zat dalam tembakau rupanya tidak tertinggal pada tumbuhan, tetapi menguap. Ya seperti deodoran gitu cara kerjanya.

Dari semua cara itu apakah perjuangan sudah selesai? Tentu saja belum. Karena semua media sudah saya praktikkan, akhirnya pertahanan dengan embel-embel organik itu jebol juga. Saya lupa, ini Indonesia bukan Eropa. Yang hama ada di mana-mana, beragam jenis, dan suka panas-panasan.

Di sesi pertama ini, saya pun lalu menggunakan cara pamungkas, yakni menggambari atau menggarisi pot-pot tanaman menggunakan kapur anti semut. Tujuannya bukan ingin membunuh, tetapi hendak mengusir mereka secara halus agar tahu diri sedikit. Alhamdulillah, tidak ada hama yang datang apalagi PDKT.

Namun, dari semua cara itu, ada hal yang menarik. Tanaman tomat saya bebas dari hama dan sekarang berbuah banyak. Ternyata, di tumbuhan itu ada dua laba-laba. Saya baru sadar, laba-laba memang predator bagi hewan lainnya. Dan inilah yang saya butuhkan. Hewan predator!

Nah kedua, adalah penggunaan pupuk. Bagi petani organik, pantang menggunakan pupuk kimia. Mereka lebih pro pada pupuk kompos atau organik juga. Entah dari kotoran sapi, kambing, maupun daun-daun kering yang dibusukkan.

Jangan salah, di bagian ini juga sulit. Pupuk kambing dianggap lebih cocok digunakan untuk melengkapi media tanah pada sayuran. Sementara kotoran sapi, lebih pas untuk tumbuhan-tumbuhan berukuran besar. Kalau kata para petani di tempat saya sih, kandungan asamnya beda.

Saya pun juga sempat gagal di bagian ini. Kebanyakan kompos membuat tanaman yang baru dipindahkan menjadi layu. Benih tidak mau nyeprot, dan justru membuat masa pembibitan gagal. Susah kan ya jadi petani organik?

Pupuk kompos dinilai mampu menambah kesuburan dan mengembalikan keseimbangan asam pada tanah sehingga bermanfaat dalam menjaga lingkungan jika dibandingkan pupuk kimia yang beraroma menyengat nan tajam (Lingkungan lagi ya).

Hal-hal seperti inilah yang menurut petani organik menjadikan budi daya dan hasil panen mereka mahal. Effort yang dikeluarkan tak main-main serta risikonya lebih besar. Belum ancaman iklim yang begitu ekstrem membuat mereka kewalahan dan terus memutar, mencari cara agar tanaman subur tetapi lingkungan tetap makmur.

Ditambah lagi, harga yang belum bisa bersaing secara kompetitif membuat petani organik juga harus rela melakukan inovasi menarik. Seperti memberikan label, mencari pangsa pasar sendiri, dan gencar mempromosikan produk sebagai ‘hasil tani’ yang unggul.

Juga, mengapa organik disebut-sebut lebih sehat karena 60% orang menurut survey, mereka percaya jika mengonsumsi sayuran organik berarti turut membantu melestarikan lingkungan yang lebih baik. Jika lingkungan baik, maka gaya hidup mereka juga akan baik. (Anisa Kautsar Juniardy)