Suatu istilah yang digunakan turun termurun kadang begitu saja kita percaya selayaknya fakta. Masuk angin, misalnya. Sebagai orang Indonesia, telinga kita pasti akrab dengan istilah seputar penyakit itu. Tak jarang kita juga sering merasa mengalaminya. Tak ada salahnya jika sesekali kita menelaah lebih jauh dan menelisik kebenaran sebuah istilah. Jangan-jangan selama ini kita sudah salah kaprah dengan istilah kesehatan yang sering kita gunakan.

Masuk Angin

Penyakit ini bisa kapan saja menyatroni orang Indonesia dari semua kalangan, jenis kelamin, dan usia. Masuk angin sering dihubungkan dengan pekatnya merah yang muncul di punggung setelah dikerok atau dikerik. Garis merah tersebut kadang dianggap sebagai angin yang keluar dari tubuh orang yang dikerok. Karena penanganannya yang muda, jarang orang ambil pusing dengan istilah ini. Namun, apa memang  tubuh manusia bisa kemasukan angin?

Tentu tidak. Istilah masuk angin sebenarnya sebenarnya adalah sebuah kesalahan yang dibiasakan–banyak perusahaan obat atau jamu dengan enteng menyelipkan istilah ini di iklan produk mereka. Yang benar, kondisi yang disebut masuk angin itu adalah common cold atau dalam bahasa medis di Indonesia disebut sebagai demam. Secara medis, demam adalah tanda awal serangan flu yang berupa perasaan tubuh yang tidak nyaman akibat kurang tidur, terlambat makan, kehujanan ataupun terpapar cuaca dingin yang berlebih. Obatnya hanyalah istirahat yang cukup.

Golongan Darah O

Masyarakat kita menyebut dengan mudah menyebut golongan darah sesuai abjadnya. Secara medis penggolongan darah dilakukan berdasarkan ada atau tidaknya antigen dalam sel darah merah. Darah merah manusia hanya mengenal dua jenis antigen, A dan B. Golongan darah A hanya memiliki antigen A, B hanya memiliki antigen B, AB memiliki antigen A dan B, sedangkan golongan darah O tidak memiliki antigen alias nol antigen. Maka, golongan darah O seharusnya dibaca sebagai golongan darah nol.

Kesalahan berikutnya mengenai golongan darah O adalah istilah universal donor–golongan darah O bisa didonorkan untuk resipien golongan darah lain (A, B dan AB). Dengan semakin berkembangnya pengetahuan dalam bidang medis, istilah ini sekarang sudah dianggap tidak benar. Pasalnya, cukup banyak laporan dari pasien bergolongan darah A, B, dan AB di beberapa negara mendapatkan efek samping yang cukup serius akibat menerima transfusi golongan darah O.

Saat ini, masih banyak sekolah di Indonesia yang tetap mengajarkan tentang golongon darah O sebagai universal donor. Jika melihat dampak medis yang ditimbulkan dari salah kaprah soal golongan darah ini, seharusnya istilah ini tak perlu lagi digunakan dalam pembelajaran seputar kesehatan dan tubuh manusia di sekolah-sekolah. Kita wajib meluruskan pemahaman untuk menghindari munculnya dampak negatif dari kesalahan.

Darah Kotor, Darah Bersih

Istilah ini muncul kemungkinan besar karena perbedaan pada kepekatan warna darah–merah kehitaman dianggap darah kotor dan merah terang dianggap bersih. Perlu diketahui, darah selama masih berada dalam tubuh manusia adalah bersih, bahkan steril. Perbedaan warna darah dipengaruhi kadar oksigennya–yang kehitaman miskin oksigen dan akan menuju jantung, sedangkan yang merah terang kaya akan oksigen.

Ada banyak lagi istilah-istilah kesehatan yang sebetulnya tidak masuk akal. Adalah tindakan yang bijak jika kita sebagai masyarakat awam untuk terus memperbarui pengetahuan kita dengan menggali informasi dari berbagai media.  Khususnya bagi para orang tua, hal ini sangat penting agar anak-anak mendapatkan pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya dari orang tua sebagai pembimbing utama mereka. (aad)