Kesiapan Masyarakat Jakarta Hadapi Banjir dan Kebakaran Masih Rendah

0
26
Musim hujan selama satu dekade terakhir terasa kurang bersahabat. Beberapa kali kita mendapat berita tentang cuaca buruk yang mengakibatkan rumah rubuh atau pohon rubuh yang menyebabkan korban jiwa. Beberapa kali juga mendapat berita tentang pesawat yang terpaksa delay karena cuaca buruk. Cuaca buruk terjadi hampir merata di berbagai wilayah di Indonesia.
 
Jakarta misalnya, kepadatan jumlah penduduk dan bangunan yang tinggi membuat provinsi ini rawan terhadap bencana banjir dan kebakaran. Kebakaran dan banjir berpengaruh signifikan bagi kehidupan masyarakat, menyebabkan korban jiwa, kehilangan harta benda dan kerugian ekonomi. Mirisnya, tingginya risiko tak berbanding lurus dengan kesiapan mitigasi bencana. Hasil penelitian terbaru dari Pusat Penelitian Kependudukan (Puslit Kependudukan) dan Pusat Penelitian Geoteknologi (Puslit Geoteknologi) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menunjukan kesiapsiagaan masyarakat Jakarta pada bencana ini khususnya di Kota Jakarta Barat masih tergolong sedang dan cenderung rendah. 
 
Gambaran kesiagaan masyarakat diperoleh dari kajian penelitian yang dilakukan dengan metode survei menggunakan instrumen hasil pengembangan yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI). Survei dilaksanakan pada 2015 lalu dengan responden yang berjumlah 400 rumah tangga, 200 untuk kebakaran dan 200 untuk banjir, masing-masing kelurahan terdiri dari 100 responden. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif, kajian ini juga melakukan diskusi kelompok terfokus (FGD) dengan peserta adalah perwakilan anggota masyarakat yang pernah mengalami bencana, ibu-ibu, pemuda, dan tokoh-tokoh masyarakat di semua kelurahan.
 
Lokasi kajian yang dipilih dalam penelitian ini adalah Kelurahan Duri Utara dan Kelurahan Kota Bambu Utara untuk bencana kebakaran dan Kelurahan Pinangsia dan Kelurahan Kota Bambu Selatan untuk banjir. Hasil kajian tersebut tertuang dalam buku yang berjudul Kesiapsiagaan Masyarakat dalam Mengantisipasi Kebakaran dan Banjir di Jakarta Barat yang diluncurkan pada Selasa, 7 Februari 2017 di LIPI Jakarta. “Buku ini memberikan rekomendasi pada stakeholders untuk peningkatan kembali kesiapsiagaan masyarakat dalam mengantisipasi bencana kebakaran dan banjir di Kota Jakarta Barat,” ungkap Kepala LIPI, Iskandar Zulkarnain.
 
Upaya peningkatan masih diperlukan untuk semua parameter kesiapsiagaan, kata Iskandar, terutama kemampuan keluarga/rumah tangga untuk memobilisasi sumber daya yang tersedia. Peningkatan pengetahuan juga masih diperlukan karena pengetahuan masyarakat belum maksimal sehingga belum sepenuhnya mampu menggerakkan kesiapsiagaan keluarga/rumah tangga, terutama dalam bentuk rencana dan tindakan nyata untuk mengantisipasi kebakaran dan banjir. Padahal upaya-upaya tersebut sangat diperlukan mengingat lokasi-lokasi kajian ini sangat rawan terhadap kebakaran dan banjir.
 
Deny Hidayati, Peneliti Puslit Kependudukan LIPI menuturkan, kesiapsiagaan masyarakat dalam mengantisipasi bencana kebakaran dan banjir sangat penting dan perlu segera ditingkatkan. Berbagai upaya telah dilakukan oleh stakeholders, termasuk pemerintah dan lembaga-lembaga yang relevan, tetapi belum ada alat ukur untuk mengetahui seberapa besar upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, terutama masyarakat di perkotaan khususnya di lingkungan permukiman padat penduduk, kumuh dan miskin.
 
Menurut Deny, kehadiran buku hasil kajian penelitian ini sebagai upaya menjawab dan membantu mendorong peningkatan kesiapsiagaan masyarakat terhadap banjir dan kebakaran tersebut. Secara garis besar, buku ini berisi tiga poin. Pertama adalah instrumen atau alat ukur berupa kuesioner yang didesain secara tertutup untuk mengetahui tingkat kesiapsiagaan masyarakat dalam mengantisipasi kebakaran dan banjir. Kedua adalah gambaran hasil pengukuran kesiapsiagaan masyarakat mengantisipasi kebakaran dan banjir di Kota Jakarta Barat. Ketiga adalah rekomendasi untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam mengantisipasi kebakaran dan banjir di semua lokasi kajian.
Deny menambahkan, kesiapsiagaan masyarakat pada bencana banjir dan kebakaran ternyata tidak berbanding lurus dengan tingkat pendidikan yang ditamatkan. Selain itu, kajian menunjukan masyarakat yang tamat perguruan tinggi indeks kesiapannya rendah, sedangkan indeks kesiapan yang paling tinggi berasal dari pendidikan SMP. “Kondisi lapangan menggambarkan masih kurangnya pengetahuan dan kepedulian masyarakat akan pentingnya kesiapsiagaan antisipasi bencana, misalnya banjir sudah dianggap sebagai kejadian alam biasa yang selalu terjadi,” tutupnya. (rab)