Bekerja di depan komputer memang sudah menjadi aktivitas keseharian bagi banyak orang saat ini. Selain dianggap lebih fleksibel bagi ibu rumah tangga & mahasiswa/pelajar yang berbisnis online shop, juga mampu meningkatkan kreativitas sebagian besar orang di persaingan era digital.

Hal ini tentu dibuktikan dengan meningkatnya bisnis online, para freelancer yang bekerja di bidang editing, sub, translator, desain, seni, menulis, dan masih banyak lagi. Semuanya menggunakan teknologi yang bermediakan komputer.

Mungkin memang benar, makin canggihnya suatu zaman, makin besar pula dampaknya. Entah itu positif atau negatif, kerja di depan komputer bagi banyak kalangan dinilai sebagai bidang yang cukup menjanjikan dan santai. Termasuk saya sendiri.

Bagaimana tidak? Saya tidak merasakan beberapa rutinitas layaknya orang kantoran, seperti berkejar-kejaran dengan pengendara lain saat pagi demi menuju tempat bekerja. Saya juga tidak harus terjebak macet kala para karyawan sudah memasuki waktu pulang. Terdengar legit sih di telinga, tetapi pada kenyataannya sungguh bukan seperti itu.

Menggeluti profesi sebagai content writer selama hampir tiga tahun, saya menyadari betapa tingginya intensitas mata di depan layar monitor. Sampai suatu hari ibu saya menegur “Istirahat, Mbak. Sayangi mata kamu”. Kalimatnya begitu terlontar manakala melihat saya yang sudah mematikan komputer tetapi masih berlanjut memegang smartphone. Ah, ini bukanlah kebiasaan yang baik. Jadi jangan ditiru ya, Bu-Ibu!

Source: Pexels.com/Eugene Chystiakov

Belum cukup sampai di situ, satu tahun kemudian ibu seolah mewanti-wanti kembali bahwa kesehatan mata sangatlah penting. “Kerja menghadapi manusia atau orang secara langsung itu risikonya lebih rendah ketimbang menatap PC seharian penuh, Mbak”. Masa sih? Tentu saja sebagai anak, kadang saya merasa “Tergantung life style orangnya, Bu”

Namun, yang dikatakan ibu saya tidak sepenuhnya salah. Beberapa riset juga telah menemukan bahwa terlalu lama duduk di depan PC mampu meningkatkan risiko berbagai penyakit.

Begitu pula dengan ginjal, punggung, kulit, dan leher. Apa yang berusaha disampaikan oleh ibu saya memang betul adanya. Lambat laun, saya merasa bahwa kemampuan melihat mata mulai menurun. Ditandai dengan minus yang bertambah dan kadang-kadang terasa pedas juga gatal. Sempat beberapa kali terkena iritasi dan alergi akibat seringnya mantengin layar PC. Huft!

Bukankah sangat tidak lucu ketika kita bekerja mengumpulkan uang dan harus habis untuk pengobatan? Nah, sebelum semua itu terjadi, saya mulai memperbaiki dan memperhatikan aspek kesehatan ketika diharuskan bekerja menggunakan laptop.

Apa saja kira-kira?

Pertama, saya memastikan bahwa cahaya di ruangan yang digunakan itu cukup memadai. Kenapa? Karena ketika ruangan yang kita gunakan lampunya redup atau lebih terang komputer daripada cahaya lampu di sekitarnya, maka pupil mata akan membesar dan bekerja lebih ekstra. Hal inilah yang membuat mata terasa agak pedas dan cepat kering. Harus sering kedip-kedip (nggak pake manja)!

Kedua, dulu guru SMP saya mengatakan kalau sebisa mungkin ada kipas angin atau AC di ruangan tempat kita berjibaku dengan komputer. Hal ini berguna untuk mengurangi radiasi yang berasal dari laptop maupun PC saat kita menatapnya terlampau intens. Kalau tidak ada? Ya, usahakan dekat dengan jendela yang berangin atau sirkulasi udara bebas keluar masuk.

Ketiga, setelah 30 menit mantengin komputer, istirahatkan mata terlebih dahulu. Bisa melalui beragam cara seperti melihat pemandangan hijau, menjauh dari layar, senderan di kursi sembari memandangi langit-langit atau atap, dan masih banyak lagi.

Keempat, jangan terlalu dekat jarak antara mata dan layar komputer. Usahakan berjarak dan posisikan duduk kita dengan benar. Bukan ke kiri maupun ke kanan.

Kelima, sering-seringlah bersihkan ruangan komputer terutama hardware yang kita gunakan. Biasanya penyakit alergi atau lainnya juga bisa disebabkan oleh kurangnya perawatan pada perangkat-perangkat yang kita gunakan lho!

Keenam, wajib ada sebotol air minum di meja! Air minum akan membantu menjaga stamina tubuh kita supaya terhindar dari dehidrasi, tekanan darah rendah, dan tentu saja merawat kesehatan ginjal kita yang terlalu sering digunakan untuk duduk.

Ketujuh, saya juga biasa mengonsumi atau nyemilin tomat yang dibejek-bejek sembari dikasih sejumput gula (nggak usah terlalu banyak, tar malah nambah BB kan susah, shay). Tomat mengandung vitamin dan nutrisi yang baik untuk mata serta kulit. Karena saya wanita, jadi dipikir-pikir merawat kulit juga harus mulai dari makanan yang sehat.

Nah, begitulah kiranya saya mengurangi risiko yang dianggap banyak ahli cukup riskan tersebut. Mungkin suatu saat tips ini akan bertambah seiring dengan munculnya penemuan dan anjuran baru.

Semoga kita tetap menjaga kesehatan ya, karena apalah arti kerja keras kalau tubuh pun diabaikan padahal ia yang menopang aktivitas kita semua.(Anisa Kautsar Juniardy)