Oleh Winarni KS

Catatan dari workshop Serempak, Makassar

Sekitar 17 tahun lalu, pertama kali mengenal internet saya tidak menyangka akan menjadi seperti ini. Jika dulu saya harus ke warung internet untuk berselancar di dunia maya, sekarang saya tinggal menggunakan ponsel di genggaman.

Jika 17 tahun lalu internet saya gunakan hanya untuk tempat ngobrol dengan teman baru, sekarang dia menjadi teman setia. Kehadirannya tidak lagi hanya sekadar hiburan atau menambah pengetahuan tetapi internet memberiku kesempatan mendapatkan penghasilan tanpa meninggalkan rumah dan saya bangga menjadi salah satu pegiat online shop.

Betapa beruntungnya saya dapat menjadi salah satu peserta Workshop Serempak hari itu, tanggal 18 Juli 2016. Acara yang berlangsung di Hotel Four Point itu membuka wawasan, menambah kebanggaan saya sebagai perempuan dan tentu saja menyuntikkan spirit baru untuk terus bergerak di e-commerce.

Perempuan dan Internet

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) melangsir sebuah data tentang pengguna internet di Indonesia dan penetrasinya. Adanya perubahan teknologi device, kemampuan prosesi, serta jenis konektivitas menunjukkan perubahan pada pola pengguna internet dibandingkan 10 tahun lalu. Digital native atau pengguna yang lahir bersama lahirnya era teknologi internet makin mendominasi. Hal tersebut membawa tren yang berbeda dari sebelumnya. Jika dulu pengguna internet sebagian besar memanfaatkan untuk pekerjaan, sekarang pengunaan sosial media merajai.

Profil pengguna internet pun seketika menggeser komunikasi dengan gagdet. Hasil survei APJII tahun 2014 ini menunjukkan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia saat ini telah mencapai 88,1 juta penduduk dan tentu saja terus bertambah. Perempuan dominan lebih banyak menggunakan internet di Indonesia dengan jumlah 51% sedangkan laki-laki sebanyak 49%. Dengan mayoritas penggunanya berada pada usia 18-25 tahun. Data lainnya yang membuat saya cukup terperangah adalah, Sulawesi Selatan adalah daerah dengan pengguna internet tertinggi di luar pulau jawa, bahkan lebih tinggi dari Banten dan Yogyakarta. 

Mengikuti trend dunia, belanja online pun makin marak di Indonesia. Menurut survei ini, sebagian besar pembeli online adalah perempuan (58%) dengan komoditas yang paling banyak terjual adalah busana termasuk pakaian dan sepatu (71,6%), kosmetik (20%) dan gagdet (17,1%). Data tersebut menunjukkan betapa besarnya potensi bisnis online terutama bagi perempuan. Sayangnya data lain menyebutkan bahwa perempuan yang berjualan online masih kurang dibandingkan laki-laki, dari data yang dipaparkan hari itu hanya sekitar 23% penjual online adalah perempuan. Padahal 60% penggerak UKM adalah perempuan namun yang memanfaatkan dunia maya tidak lebih dari setengah persentasi.

Sebagai perempuan, apakah kita mau terus menerus menjadi sekedar pembeli? Kenapa tidak kita maksimalkan potensi tersebut dan menjadikan penghasilan? Kita dapat membantu menguatkan finansial keluarga tanpa harus meninggalkan anak.

Untuk itulah Serempak hadir memberikan workshop bagi 80 orang yang berasal dari berbagai kalangan. Acara yang diadakan IWITA ini diharapkan memberikan akses kepada perempuan dan anak agar memiliki potensi yang sama untuk melek teknologi.

Makassar adalah kota pertama yang diadakan kegiatan ini karena menurut panitia, Makassar berada pada posisi tertinggi penggiat e-commerce. Ada 4 pemateri yang hadir pada acara tersebut diantaranya Martha Simanjuntak (founder IWITA), Ratna Susianawati (Asisten Deputi Kesetaraan Gender Bidang Infrastruktur dan Lingkungan Kementerian PPPA), Rahmiana Rahman (founder Soulmaks Creative dan co founder bacaanbisnis.com) dan Aresdi Mahdi Asyathry (Komisaris LOGUE Internasional). Dan yang menjadi moderator adalah idola saya sejak dulu, Luna Vidya. Setelah acara dibuka oleh Bapak Wakil Gubernur, talkshow pun dimulai.

Potensi E-commerce

Siapa yang meragukan keunggulan orang Bugis-Makassar dalam berdagang? Sejak dulu kita sudah diakui sebagai saudagar yang ulung. Keturunan Bugis-Makassar tersebar di seluruh Indonesia bahkan mancanegara dan sebagian besar berprofesi sebagai pedagang. Disaat penjualan online menggempur, apakah kita masih ingin bertahan dengan sistem penjualan langsung? Mengapa tidak kita coba masuki dunia baru yang sebenarnya sudah ada digenggaman kita itu?

Secara geografis, potensi Makassar untuk menjadi pusat penjualan online juga semakin besar. Berada di titik tengah serta menjadi pintu masuk menuju Indonesia Timur memungkinkan Makassar untuk menjadi tempat perputaran uang yang sangat tinggi. Masalah ongkos kirim pun bisa diminimalisir karena lebih mudah ke barat maupun ke timur. Banyaknya usaha kurir baru bermunculan membuat ongkos kirim semakin kompetitif.

Selain itu, gaya hidup masyarakat di kota ini mulai bergeser dan menyenangi belanja online. Hal ini terbukti sangat ramainya grup jualan online lokal dengan perputaran uang sangat tinggi. Data yang dipaparkan Serempak hari itu bahwa pembeli online dari Makassar paling tinggi adalah bukti nyatanya.

Menurut salah satu pemateri, Bapak Ari, saat ini e-commerce tidak sesulit dulu. Tempat penjualan online semakin banyak. Mulai dari website, facebook, bbm, twitter, line, instagram dan yang paling mudah diaplikasikan saat ini melalui marketplace. Saat ini banyak start up yang membuat aplikasi untuk marketplace ini. Marketplace seperti sebuah mall, ada platform yang telah disediakan. Kita tinggal memasang foto, keterangan dan siap berjualan.

Bagaimana Memulai?

Apa kesamaan perempuan dan e-commerce? Pertanyaan ini diajukan kak Ami pemateri pertama hari itu. Menurut pemilik bacaanbisnis.com ini, perempuan dan e-commerce sama-sama menarik. Dengan segala potensinya saat ini, e-commerce memang menjadi ladang rejeki bagi banyak orang.

Memberikan kesan pertama yang menakjubkan adalah kunci pertama untuk bertahan di e-commerce. Dengan pengalaman pertama yang menyenangkan akan membawa seseorang untuk terus membuka halaman demi halaman web kita. Internet didominasi dunia visual, oleh karena itu foto menarik sangatlah penting.

Miliki gagasan yang unik dan menarik agar menambah nilai kita dibanding penggiat e-commerce lainnya. Dengan membiasakan meminta testimoni, akan menambah nilai jual kita di kanal maya.

Aktif bersosial media juga penting untuk menyentuh secara personal. Analisis kelemahan dan kekuatan kompetitor untuk mendapatkan celah agar kita bisa lebih baik tidak kalah pentingnya agar bisa terus bertahan di dunia e-commerce ini. Dan pesan terakhir dari Kak Ami adalah konsisten, meski gagal dengan usaha pertama bangkitlah lagi hingga kesuksesan diraih.

Meskipun telah beberapa kali gagal membangun bisnis online, tetapi kak Ami selalu berusaha tegar hingga akhirnya mampu menunjukkan pencapaian tertingginya. Oleh karena itu beliau menegaskan untuk menguatkan niat terlebih dahulu sebelum betul-betul terjun ke dunia e-commerce.

Sedangkan Aresdi yang disapa Bro Ares hari itu membuka mata saya betapa potensialnya dunia e-market ini. Kita bisa memulai dengan menjual apapun yang kita suka. Bisa dengan menjual produk yang pergerakan uangnya cepat seperti aksesoris handphone, produk fashion dan makeup. Hanya saja kita harus siap bersaing dengan lebih banyak penjual dan marginnya pun rendah. Atau kita bisa memilih menjual produk yang pergerakan lambat tetapi marginnya tinggi serta pesaingnya kurang seperti produk alat rumah tangga, perlengkapan dapur, kamera, buku dan lain-lain..

Tantangan

Untuk terjun di dunia e-commerce bukanlah hal yang mudah. Tentu saja ada beberapa kendala yang harus kita hadapi. Sinyal internet yang belum merata ke seluruh pelosok Indonesia membuat proses penjualan online terbatas. Berbicara tentang penjualan online, tidak bisa terlepas dari distribusi. Meskipun banyak jasa distribusi yang bermunculan hanya saja masih kurang maksimal terutama menuju pelosok di Indonesia. Proses pembayaran modern, bagi sebagian orang memunculkan ketidakpercayaan membuat berjualan di internet rentan terhadap penipuan.

Selain itu, tantangan terberat saat ini adalah masih banyak perempuan yang gagap teknologi, tertinggal oleh laju yang terus melesat. Padahal sebagai titik awal pendidikan dan manajer keuangan keluarga, serta pembentuk sosial anak, perempuan seharusnya didorong untuk mandiri secara ekonomi dan sosial yang bisa dilakukan dengan masuk ke dalam laju teknologi dan informasi.

Oleh karena itulah www.serempak.id hadir untuk menjadi website yang mudah di akses demi memberikan pemahaman lebih banyak kepada perempuan Indonesia untuk memaksimalkan teknologi untuk meningkatkan kemandiriannya. Website serempak memadukan banyak fitur pada satu kesatuan yang bertujuan mempercepat pengembangan edukasi untuk perempuan secara efesien, efektif, kreatif serta fleksibel.

Pada website ini terdapat beberapa fitur menarik seperti kumpulan e-learning yang dapat diunduh gratis, berbagai berita terkini, live chat, forum, e-market serta citizen journalism yang memungkinkan siapa saja untuk menjadi kontributor.

***

Walaupun sempat down dengan proses perjalanan bisnis saat ini, namun kehadiran saya hari itu menyuntikkan semangat baru. Menjadi perempuan memang kadang penuh dilema. Adakalanya kita dihadapkan pada pilihan berpenghasilan atau tetap menjadi istri dan ibu yang selalu ada di rumah. Namun jika kita dapat memilih keduanya dengan menjadi penggiat e-commerce, kenapa tidak?

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba menulis serempak